Buka menu utama
Tugu Proklamasi

Tugu Proklamasi adalah tugu peringatan proklamasi kemerdekaan Republik Indonesia yang berdiri di kompleks Taman Proklamasi di Jalan Proklamasi, Jakarta Pusat. Taman tersebut berlokasi di bekas kediaman Sukarno di Jalan Pegangsaan Timur 56. Rumah tersebut, telah dihancurkan, adalah lokasi pembacaan proklamasi kemerdekaan.[1]

Pada kompleks juga terdapat monumen dua patung Sukarno-Hatta berukuran besar yang berdiri berdampingan, mirip dengan dokumentasi foto ketika naskah proklamasi pertama kali dibacakan. Di tengah-tengah dua patung proklamator terdapat patung naskah proklamasi terbuat dari lempengan batu marmer hitam, dengan susunan dan bentuk tulisan mirip dengan naskah ketikan aslinya.[2]

SejarahSunting

Kompleks Taman Proklamasi terletak di sebidang tanah tempat bekas kediaman Sukarno di Jalan Pegangsaan Timur 56. Presiden Sukarno menyatakan kemerdekaan Indonesia pada 17 Agustus 1945 dari teras depan rumah ini. Rumah tersebut kemudian dikenal sebagai Gedung Proklamasi.[3]

Untuk menandai ulang tahun pertama kemerdekaan Indonesia, sebuah tugu peringatan – dalam bentuk obelisk kecil – dibangun pada tahun 1946 oleh kelompok Ikatan Wanita Djakarta. Tugu peringatan ini, dikenal sebagai Tugu Peringatan Satoe Tahoen Repoeblik Indonesia, dibangun di halaman depan Gedung Proklamasi.[3] Kemudian tugu tersebut dinamai ulang sebagai Tugu Proklamasi.

Sejak saat itu, para pemuda dan pelajar Indonesia mengadakan upacara tahunan untuk merayakan Proklamasi Kemerdekaan Indonesia pada 17 Agustus. Menyusul pemindahan penuh kedaulatan Indonesia pada tahun 1950, Taman Proklamasi setiap tahun dikunjungi oleh Presiden dan Wakil Presiden Indonesia setiap tahun. untuk meletakkan bunga dan menghormati prajurit yang gugur. Upacara tersebut juga dihadiri oleh tamu dari negara lain.[4]

Sejak 1956, popularitas Taman Proklamasi sebagai tempat berkumpulnya upacara mulai menurun.[5] Terlepas dari anjuran para sesepuh kota agar rumah tersebut direnovasi, pada malam hari tanggal 15 Agustus 1960, Sukarno memerintahkan pembongkaran rumah dan peringatan Tugu Proklamasi.[3] Menurut Sukarno, Tugu Proklamasi sebenarnya adalah Tugu Linggarjati. Pernyataannya tersebut tidak jelas, tetapi tampaknya Sukarno berpikir bahwa baik rumah dan monumen tersebut tidak cukup besar untuk menjadi monumen nasional meskipun signifikansi historisnya cukup penting.[3] Tiga potongan marmer dari Tugu Proklamasi kemudian disimpan di rumah Yos Masdani sebagai kenang-kenangan.[5] Tugu peringatan rencananya akan dibangun kembali pada tahun 1972 di bawah usulan gubernur Ali Sadikin.

Pada 1 Januari 1961, Presiden Sukarno meresmikan pembangunan Tugu Petir, yang kemudian juga dikenal sebagai Monumen Proklamasi.

Pada tahun 1972, pembangunan Gedung Proklamasi yang modernis – sekarang Gedung Perintis Kemerdekaan – dimulai.[5] Pada tahun yang sama, Tugu Proklamasi yang dihancurkan sebelumnya dibangun kembali dengan desain serupa.[3]

Pada 17 Agustus 1980, monumen terakhir Taman Proklamasi, Monumen Pahlawan Proklamator Sukarno-Hatta yang berukuran besar, diresmikan oleh Presiden Suharto.[6]

MonumenSunting

Terdapat tiga tugu peringatan yang berlokasi di Taman Proklamasi: Tugu Peringatan Satoe Tahoen Repoeblik Indonesia, Tugu Petir, dan Monumen Pahlawan Proklamator Sukarno-Hatta. Berikut ini adalah deskripsi dari masing-masing monumen.[7]

Tugu Peringatan Satoe Tahoen Repoeblik IndonesiaSunting

Tugu Peringatan Satoe Tahoen Repoeblik Indonesia adalah monumen pertama yang dibangun di Taman Proklamasi. Tugu ini diresmikan pada 17 Agustus 1946 oleh Perdana Menteri Sutan Sjahrir selama masa pendudukan sekutu.[8] Tugu peringatan tersebut berbentuk obelisk kecil, dengan tulisan "Atas Oesaha Wanita Djakarta", penggambaran naskah kemerdekaan Indonesia, dan peta Indonesia.[8] Tak lama setelah itu, peringatan itu diganti namanya menjadi Tugu Proklamasi

Tugu Proklamasi diprakarsai oleh beberapa tokoh perempuan Indonesia yang tergabung dalam Pemuda Puteri Indonesia (PPI) dan Wanita Indonesia, diantaranya Johanna "Yos" Masdani Tumbuan, Mien Wiranatakusumah, Zus Ratulangi (putri Sam Ratulangi), Zubaedah, dan Nyonya Gerung. Sketsa tugu peringatan tersebut dibuat oleh Kores Siregar, seorang mahasiswa dari Institut Teknologi Bandung. Konstruksi tugu ini dimulai pada Juli 1946. Pada malam peresmian tugu tersebut pada pertengahan Agustus, walikota Jakarta Suwiryo menolak untuk meresmikan tugu tersebut karena masalah keamanan yang dirasakan. Selama waktu peresmian yang diusulkan, sekutu telah menduduki Jakarta dan ada kekhawatiran bahwa sekutu akan memulai pembantaian yang serupa dengan pembantaian Amritsar di India.[8][4]

Terlepas dari kekhawatiran yang dirasakan, para penggagas pembangunan Tugu Proklamasi memutuskan untuk menghubungi perdana menteri Sutan Sjahrir pada sore hari tanggal 16 Agustus 1946 untuk memimpin peresmian tugu tersebut. Sutan Sjahrir bersedia memimpin peresmian dan karena itu ia mengambil penerbangan ke Jakarta dari Yogyakarta untuk meresmikan tugu peringatan tersebut. Tidak ada konflik yang terjadi selama peresmian tugu ini.[8]

Pada 14 Agustus 1960, surat kabar Keng Po melaporkan bahwa Angkatan '45 ingin Tugu Proklamasi, yang disebut sebagai "Tugu Linggarjati", dihancurkan. Menyusul laporan-laporan tersebut, Sukarno memerintahkan pembongkaran Tugu Proklamasi dan Gedung Proklamasi pada malam hari tanggal 15 Agustus 1960. Keadaannya aneh karena Perjanjian Linggarjati berlangsung pada 10 November 1946, sedangkan Tugu Proklamasi diresmikan pada 17 Agustus 1946. Menurut Yos Masdani, pada waktu itu Partai Komunis Indonesia memiliki kekuatan signifikan untuk mengubah sejarah. Doktor Sejarah Rushdy Hoesein menceritakan bahwa Sukarno sengaja menghancurkan rumahnya itu pada 1964. Menurut Rushdy, pilihan itu tanpa diiringi alasan yang jelas. Sementara itu, Sejarawan JJ Rizal mengatakan penghancuran rumah itu sebagai upaya Sukarno melawan feodalisme.[9]

Bersama Maria Ulfah dan Lasmidjah Hardi, Yos lalu menemui Gubernur Jakarta Soemarno Sosroatmodjo. Dari Soemarno dia menerima marmer bekas Tugu Proklamasi yang bertuliskan “Atas Oesaha Wanita Djakarta” dan tulisan Proklamasi dilengkapi peta Indonesia. Marmer itu sudah pecah menjadi tiga bagian. Pecahan marmer itu lalu dia simpan selama 12 tahun.[8]

Pada tahun 1968, gubernur Jakarta Ali Sadikin mengajukan proposal untuk membangun kembali tugu asli yang dihancurkan oleh Sukarno pada tahun 1960. Proposal ini disetujui dan pada 17 Agustus 1972, Monumen Proklamasi diresmikan kembali pada lokasi aslinya. Peresmian dihadiri oleh banyak tokoh publik dan politik, di antaranya adalah mantan Wakil Presiden Hatta.[8]

Tugu PetirSunting

Tugu Petir atau Tugu Kilat adalah sebuah tiang setinggi 17 meter (56 ft) yang di atasnya terdapat simbol petir. Monumen peringatan ini menandai tempat di mana Sukarno berdiri sambil membaca teks proklamasi. Di dasar monumen tersebut terdapat tulisan logam "Disinilah Dibatjakan Proklamasi Kemerdekaan Indonesia pada Tanggal 17 Agustus 1945 djam 10.00 pagi oleh Bung Karno dan Bung Hatta"[1] Petir melambangkan gemuruh proklamasi kemerdekaan Indonesia.[10]

Monumen Pahlawan Proklamator Sukarno-HattaSunting

Monumen Pahlawan Proklamator Sukarno-Hatta menggambarkan dua patung perunggu Sukarno dan Hatta berdiri berdampingan. Setiap patung memiliki berat 1200 kilogram (2600 pon), dan tinggi 4,6 meter (15 ft) serta 4,3 meter (14 ft). Postur patung tersebut diambil dari dokumentasi foto ketika proklamasi pertama kali dibaca. Keduanya mengapit lempengan batu perunggu berukuran 196 cm x 290 cm, dengan berat 600 kilogram (1300 lb); lempengan tersebut menggambarkan manuskrip proklamasi kemerdekaan Indonesia. Pada latar belakang patung-patung tersebut terdapat patung-patung monolitik bernomor 17, dengan yang tertinggi adalah 8 meter, dengan 45 tonjolan di air terjunnya, melambangkan tanggal 17 Agustus 1945. [11] Monumen ini diresmikan pada 17 Agustus 1980.[5]

CatatanSunting

  1. ^ a b Woro Miswati 2011, hlm. 49.
  2. ^ Batubara, Puteranegara (18 Agustus 2018). "Tugu Proklamasi, Riwayatmu Kini..." Okezone.com. Diakses tanggal 18 Agustus 2019. 
  3. ^ a b c d e Merrillees 2015, hlm. 44.
  4. ^ a b Farrel M. Rizq 2009, hlm. 63.
  5. ^ a b c d Farrel M. Rizq 2009, hlm. 64.
  6. ^ Andy Pribadi, ed. (9 Agustus 2016). "Tugu Proklamasi sebagai Tonggak Sejarah Kemerdekaan Indonesia". Warta Kota. Diakses tanggal 18 Agustus 2019. 
  7. ^ Nur Janti. "Jatuh Bangun Tugu Proklamasi". Historia.id. Diakses tanggal 18 Agustus 2019. 
  8. ^ a b c d e f Woro Miswati 2011, hlm. 50.
  9. ^ "Kesepian di Tugu Proklamasi Saat HUT ke-74 RI". CNN Indonesia. 17 Agustus 2019. Diakses tanggal 18 Agustus 2019. 
  10. ^ Farrel M. Rizq 2009, hlm. 62.
  11. ^ Farrel M. Rizq 2009, hlm. 61–2.

ReferensiSunting

Bacaan lebih lanjutSunting

Pranala luarSunting