Buka menu utama

The Silent Scream

film tahun 1984 karya Bernard Nathanson mengenai aborsi

The Silent Scream adalah film pendidikan mengenai antiaborsi yang disutradarai oleh Jack Duane Dabner dan dinarasikan oleh Bernard Nathanson, seorang ahli obstetri, pendiri NARAL Pro-Choice America dan penyedia layanan aborsi yang kemudian berpaling menjadi aktivis pro-kehidupan, serta diproduksi dalam kemitraan dengan National Right to Life Committee yang didirikan oleh Konferensi Uskup Katolik Nasional.[2] Film ini menggambarkan proses aborsi atau pengguguran kandungan melalui USG dan memperlihatkan aborsi yang terjadi pada rahim (uterus). Selama proses aborsi, janin (fetus) digambarkan berteriak karena rasa sakit dan ketidaknyamanan. Video ini menjadi suatu sarana populer yang digunakan dalam kampanye pro-kehidupan untuk menentang aborsi,[3] kendati dianggap menyesatkan oleh anggota komunitas medis.[4]

The Silent Scream
The Silent Scream (1984 film).jpg
Sampul asli VHS tahun 1984
SutradaraJack Duane Dabner
ProduserJack Duane Dabner, produser eksekutif: Donald S. Smith
PenulisDonald S. Smith, pendiri Crusade for Life[1]
NaratorBernard N. Nathanson
MusikJames Gabriel Stipech
SinematografiRoger Boller
PenyuntingDan R. Fouts
DistributorAmerican Portrait Films
Tanggal rilis
  • 1984 (1984)
Durasi
28 menit
NegaraAmerika Serikat
BahasaInggris

PengembanganSunting

Nathanson memberikan kredit kepada Ronald Reagan yang kelak menjadi presiden Amerika Serikat karena menginspirasi dia untuk membuat The Silent Scream.[5][6] Dalam pidatonya di hadapan Asosiasi National Religious Broadcasters pada bulan Januari 1984, Reagan menyatakan bahwa janin menderita "rasa sakit yang lama dan menyakitkan" selama proses aborsi. Media dan komunitas medis mendebat pernyataan Reagan. American Congress of Obstetricians and Gynecologists mengeluarkan suatu pernyataan untuk menanggapi komentar sang presiden, yang menyatakan bahwa jalur neurologis yang dibutuhkan untuk mengalami rasa sakit belum mulai berkembang hingga trimester ketiga kehamilan.[7].[8] Nathanson setuju dengan sang presiden dan mengeluarkan suatu pernyataan bantahan. Ketika kritikus terus membantah bahwa janin merasa kesakitan selama dua trimester pertama kehamilan, Nathanson memutuskan untuk membuat sebuah film dan mengatakan, "Saya merenungkannya dan berpikir bahwa hanya ada satu cara agar kita dapat menyelesaikan isu ini, yaitu dengan memotret suatu aborsi, dari awal sampai akhir."[6]

IkhtisarSunting

Nathanson, seorang ahli obstetri, berperan sebagai ahli medis maupun narator film ini, menggambarkan rangkaian peristiwa aborsi sebagaimana diungkapkan dalam film. Ia mengawalinya dengan menyatakan bahwa penonton akan menyaksikan "ilmu fetologi" baru yang "mempesonakan" dan menyaksikan proses aborsi secara real time "dari sudut padang korban".[9] Film ini berisi kompilasi serangkaian gambar tak bergerak hasil ultrasonografi (USG) dengan subjek aborsi janin berusia 12 minggu, yang disebut Nathanson sebagai "seorang anak", yang saling disambungkan untuk menghasilkan video ini.

Nathanson menampilkan berbagai instrumen yang biasa digunakan dalam proses pengguguran janin dan mendemonstrasikan bagaimana masing-masing instrumen itu memasuki tubuh wanita saat aborsi. Nathanson menjelaskan bahwa kepala janin, bahkan pada usia gestasi atau kehamilan 12 minggu, terlalu besar untuk masuk ke perangkat penghisap dan memperlihatkan bagaimana forceps (semacam tang) digunakan untuk menghancurkan tengkorak janin, tempat gelombang otak yang telah aktif selama 6 minggu.

Nathanson kemudian duduk di hadapan layar televisi yang menampilkan gambar-gambar USG suatu janin di dalam rahim ibunya. Saat gambar-gambar berlangsungnya aborsi tampil di layar, Nathanson menjelaskan selangkah demi selangkah apa yang sedang terjadi, menunjukkan instrumen-instrumen baru yang masuk ke dalam rahim. Kanula penghisap dideskripsikan sebagai sebuah senjata mematikan yang akan "memotong-motong, meremukkan, dan menghancurkan" apa yang yang Nathanson sebut "sang anak". Selanjutnya Nathanson menceritakan bahwa janin (fetus) tidak siap menghadapi invasi pada rahim dan berupaya untuk melarikan diri dari kanula tersebut, menggambarkannya sebagai seorang "anak yang tercabik-cabik ... oleh instrumen-instrumen baja sang aborsionis."[10] Ia mencatat bagaimana detak jantung janin berdetak semakin cepat dan bagaimana janin tampak membuka mulutnya untuk mengeluarkan suatu "jeritan bisu yang memilukan".[10] Film ini mencapai klimaksnya pada "jeritan bisu" (silent scream), yang kini terkenal, yang disertai dengan iringan musik melengking.[9]

Nathanson mengakhiri film ini dengan membahas implikasi-implikasi di balik disembunyikannya alat tersebut sehingga para wanita tidak mengetahuinya. Ia percaya film ini diperlukan agar para wanita memperoleh informasi atas hal-hal seputar aborsi. Film ini adalah kali pertama gambar-gambar dari janin yang digugurkan ditayangkan media elektronik, sebagai perlawanan atas bentuk cetakan citranya yang digunakan pada tahun-tahun sebelumnya.[2]

PenerimaanSunting

The Silent Scream dipandang oleh produsernya dan lobi pro-kehidupan sebagai suatu alat yang mampu mempengaruhi opini publik untuk menentang aborsi.[4] Film ini tayang perdana pada program televangelis Jerry Falwell,[2] dan ditayangkan lima kali selama kurun waktu satu bulan pada jaringan-jaringan televisi besar.[9] Film ini kemudian disebarkan secara luas ke sekolah-sekolah menengah serta perguruan-perguruan tinggi dan, menurut TIME, "dirangkul sebagai suatu senjata propaganda yang efektif oleh organisasi-organisasi hak-untuk-hidup." Film ini sangat dikenal di kalangan orang-orang yang menentang aborsi, bahkan ditampilkan di Gedung Putih oleh Ronald Reagan yang kelak menjadi presiden Amerika Serikat.[11] Reagan mengatakan bahwa "apabila setiap anggota Kongres dapat melihat film itu, mereka akan bergerak dengan cepat untuk mengakhiri tragedi aborsi."[10] Para produser film ini dikabarkan berencana untuk mengirim salinan-salinan film kepada setiap anggota Kongres Amerika Serikat dan kepada Hakim Mahkamah Agung Amerika Serikat pada saat perilisannya.[4] Sejumlah penentang aborsi membicarakan film ini sebagai bukti bahwa penentangan mereka adalah berbasis ilmu pengetahuan.[2]

PeninggalanSunting

The Silent Scream dipandang berjasa memenangkan banyak konver untuk memegang paham pro-kehidupan karena adegan-adegan grafisnya yang mengejutkan banyak pemirsa.[12] Film ini berperan "untuk menggeser fokus publik dari cerita-cerita horor para wanita yang pernah menderita karena aborsi-aborsi ilegal ke film horor suatu janin yang mengalaminya satu kali."[13] Film ini dipandang sangat penting bagi gerakan pro-kehidupan dan tersedia secara luas untuk dibeli atau diunduh.[14]

Nathanson kemudian memproduksi sebuah film lanjutan, yaitu Eclipse of Reason, yang menggambarkan prosedur aborsi fase akhir yang dikenal sebagai dilatasi dan evakuasi (D&E).

Lihat pulaSunting

ReferensiSunting

  1. ^ (Inggris) "innocent blood". 
  2. ^ a b c d (Inggris) Petchesky, Rosalind Pollack (1987). "Fetal Images: The Power of Visual Culture in the Politics of Reproduction". Feminist Studies. 13 (2): 263–92. doi:10.2307/3177802. JSTOR 3177802. 
  3. ^ (Inggris) Roiphe, Katie (2008-01-01). "Choice words". Guardian Unlimited. Guardian News and Media. Diakses tanggal 2008-01-01. 
  4. ^ a b c (Inggris) Wallis, Claudia; Banta, Kenneth W. (March 25, 1985). "Medicine: Silent Scream". Time. Diakses tanggal March 17, 2011. 
  5. ^ (Inggris) Schmich, Mary T. (April 7, 1985). "Turnabout Gives Birth To Battle Cry: 'The Silent Scream'". Orlando Sentinel. Diakses tanggal July 31, 2015. 
  6. ^ a b (Inggris) Mehren, Elizabeth; Cuniberti, Betty (August 8, 1985). "He's the Force Behind 'The Silent Scream' Film : Doctor Who Performed Thousands of Abortions Narrates, Promotes Right-to-Life Sonogram Movie". Los Angeles Times. Diakses tanggal July 31, 2015. 
  7. ^ (Inggris) Lupton, Deborah (2013). The Social Worlds of the Unborn. New York: Palgrave. hlm. 24. ISBN 978-1-137-31071-2. 
  8. ^ (Inggris) Braden, Tom (February 28, 1985). "'The Silent Scream' is not accurate". The Gadsden Times. Diakses tanggal May 4, 2015. 
  9. ^ a b c (Inggris) Pickering, B., & Lake, R. 1999. "Visual Images as (opposed to?) Reason: The Argument of Eclipse of Reason." Conference Proceedings – National Communication Association/American Forensic Association (Alta Conference on Argumentation), 253-261. Retrieved from Communication & Mass Media Complete database.[dibutuhkan verifikasi sumber]
  10. ^ a b c (Inggris) Zintl, Robert T.; Lesh, Carolyn (February 4, 1985). "Abortion: New Heat Over an Old Issue". Time. 
  11. ^ (Inggris) DeParle, Jason (April 1989). "Beyond the legal right; why liberals and feminists don't like to talk about the morality of abortion". The Washington Monthly. Diakses tanggal 2008-01-01. 
  12. ^ (Inggris) New, Michael J. (Feb 22, 2011). "The Pro-Life Legacy of Dr. Bernard Nathanson". National Review. 
  13. ^ (Inggris) Gibbs, Nancy (Dec 6, 2006). "Can a Fetus Feel Pain?". Time. Diakses tanggal Sep 10, 2011. 
  14. ^ (Inggris) McBride, D. (2008). Abortion in the United States: A Reference Handbook. ABC-CLIO. hlm. 278. ISBN 978-1-59884-098-8. 

Pranala luarSunting