Buka menu utama

Tanto Mendut yang bernama asli Sutanto (lahir di Magelang, Jawa Tengah, 5 Februari 1954; umur 65 tahun) adalah seniman dan budayawan berkebangsaan Indonesia. Dia adalah pendiri sekaligus pemimpin Komunitas Lima Gunung yang sering menggelar perhelatan seni-budaya berskala internasional di atas puncak gunung dengan selalu memberdayakan masyarakat di lima gunung yaitu Merapi, Merbabu, Andong, Sumbing, dan Menoreh. Sutanto adalah penerima penghargaan dari Yayasan Sains Estetika dan Teknologi atas kegigihannya memberdayakan masyarakat melalui kehidupan sosiokultural.[1][2]

Tanto Mendut
220px
Sutanto Mendut
Lahir (1954-02-05)5 Februari 1954
Bendera Indonesia Magelang, Jawa Tengah
Tahun aktif 1979
Pasangan Mami Kato (Jepang)

Latar belakangSunting

'Mendut' di belakang nama Sutanto adalah nama tempat di sekitar Candi Mendut, Kecamatan Borobudur, Kabupaten Magelang. Dia memilih nama itu untuk mengekspresikan cara dia berkesenian.Sebagai budayawan, melalui kegiatan-kegiatannya, Sutanto membangun sebuah paradigma berkesenian yang menstimulasi dimensi untuk hidup bersama masyarakat seni dalam menyikapi keadaan dengan pelbagai fenomena yang berkembang dalam masyarakat kontemporer. Mengedepankan unsur kemerdekaan yang dapat menarik perhatian masyarakat dan pemerhati seni yaitu dengan membuka wacana baru dalam bereksplorasi. Tanto Mendut berhasil menumbuhkan kepercayaan masyarakat desa untuk berekspresi, yang kini telah mampu tampil dalam berbagai panggung kesenian di berbagai daerah di Indonesia, bahkan pentas di luar negeri. Meski berhasil menjadi masyarakat seni, penduduk desa lima gunung tersebut tidak berganti profesi dan tetap menjadi petani. Festival lima gunung yang digagas sutanto diselenggarakan setiap tahun, sejak 2006, dengan melibatkan para penghayat kebudayaan, masyarakat dari lima gunung yaitu, Merapi, Merbabu, Andong, Sumbing, dan Menoreh. Baik penampil maupun penonton diajak merayakan kemerdekaan berekspresi dan mengapresiasi. Dalam festival ini, penonton adalah tamu, bukan calon konsumen dengan perlakuan khusus. Semuanya diperlakukan sama rata, termasuk ketika mantan wakil presiden Boediono menyaksikan. Dia juga berbaur dengan penonton lain, duduk lesehan di atas tanah, menikmati sajian-sajian kesenian tradisional. Festival ini, meskipun mengundang ratusan partisipan dari berbagai daerah, tapi semua kegiatannya diselenggarakan tanpa sponsor atau donatur dari mana pun, melainkan dibiayai secara swadaya. Tapi, setiap peristiwa budaya yang diselenggarakan, selalu saja menarik perhatian wisatawan dan wartawan dari berbagai negara yang setia meliput selama beberapa hari. Selain menggelar pertunjukan kesenian tradisional, komunitas ini juga menyelenggarakan pertunjukan musik, pameran seni rupa, dan festival jazz gunung.[3][4][5]

Lihat pulaSunting

ReferensiSunting

  1. ^ Suara Merdeka, diakses 23 Februari 2015
  2. ^ Indonesia Berprestasi, diakses 23 Februari 2015
  3. ^ Antara Jateng, diakses 23 Februari 2015
  4. ^ Komunitas Lima Gunung, diakses 23 Februari 2015
  5. ^ Suara Merdeka: Bincang-bincang, diakses 23 Februari 2015