Sugeng Hardjo Taruno

Mayor KKO (Anumerta) Sugeng Hardjo Taruno (lahir 4 Desember 1938 – meninggal di Dili, Timor Timur, 3 Agustus 1976 pada umur 37 tahun) adalah seorang tokoh militer dan penerbang Korps Marinir Angkatan pertama, alumnus Sekolah Perwira Cadangan KKO (Sepacako) tahun 1962 (Nrp.3119/P), yang gugur dalam Operasi Seroja di Timor-Timur pada 3 Agustus 1976. Patut dicatat keheroikan Kapten KKO Sugeng karena tugas dilkukan secara sukarela meski tugas ini bukan giliran terbangnya. Saat ini nama nya diabadikan menjadi nama "Kesatrian Marinir Sugeng Hardjo Taruno" Markas Komando Puslatpur Marinir 05 Baluran, Situbondo, Jawa Timur.

Mayor KKO Anumerta
Sugeng Hardjo Taruno
Sugeng Hardjo Taruno.jpg
Informasi pribadi
Lahir(1938-12-04)4 Desember 1938
Flag of the Netherlands.svg
Meninggal dunia3 Agustus 1976(1976-08-03) (umur 37)
Bendera Indonesia Dili, Timor Timur
Alma mater(Sepacako) tahun 1962
Dinas militer
Pihak Indonesia
Dinas/cabangLambang TNI AL.png TNI Angkatan Laut
Masa dinas1962-1976
PangkatMayor pdh al.png Mayor (Anumerta)
SatuanKKO (Korps Marinir)
Pangkat terakhirnya adalah Kapten KKO, tetapi karena gugur dalam tugas, maka diberikan Kenaikan Pangkat Luar Biasa (KPLB) menjadi Mayor KKO (Anumerta).

Gugur-nya Seorang Penerbang MarinirSunting

Untuk melaksanakan tugas terbang ke kota Same untuk mengantar dukungan logistik kepada satu pasukan Kopassus TNI AD yang terkepung. Kota Same adalah satu kota kecil di sebelah selatan kota Dili, jaraknya sekitar 50 km dari ibu kota Timor-Timur. Sehari sebelumnya Kogasgab Seroja, yang bermarkas di kota Dili, menerima permintaan bantuan logistik dari satu pasukan Kopassus yang terkepung oleh pasukan Fretilin. Menerima permintaan itu, maka satuan pesawat dari PT. Pelita Air Service yang diperbantukan ke Kogasgab diperintahkan untuk mengirimkan logistik berupa makanan, amunisi, dan obat-obatan. Tetapi mendengar bahwa kota Same sedang dalam pengepungan, penerbang yang sebenarnya mendapat giliran tugas hari itu menolak untuk bertugas. Melihat hal itu, Kapten KKO Sugeng yang sudah bertugas pada hari sebelumnya bersedia menggantikannya dengan sukarela. Hal itu kemungkinan besar didasarkan pada pengalamannya sebagai pasukan Infanteri di Batalyon I KKO.[1]

Kemudian dari lapangan terbang Komoro, di kota Dili, ia menerbangkan pesawat helikopter jenis Bolkow 105 dengan mengangkut logistik yang diminta oleh satuan Kopassus yang memintanya. Penerbangan menuju kota Same, meskipun melalui daerah-daerah yang dikuasai Fretilin, tidak ada gangguan. Tetapi sewaktu dia melakukan manuver ‘approach’, yaitu pendekatan untuk mendarat di ‘landing spot’ yang telah disediakan, ia menerima berondongan peluru dari pasukan Fretilin yang mengepung kota Same. Beberapa peluru menembus badannya, namun ia tetap terus melakukan gerakan untuk mendaratkan helikopter-nya. Setelah berhasil mendaratkan helikopternya ia jatuh lunglai dan kemudian gugur karena kehabisan darah.

Keterlibatan unsur Penerbangan TNI AL dalam Operasi Seroja berskala besar terjadi sejak tanggal 9 April 1977 dengan mem-BKO-kan (Bawah Kendali Oprasi) 2 Nomad Skadron 800 Satudarma untuk melakukan pengintaian udara (air reconnaissance) dan pengendali bantuan tembakan (air spotting) dengan melaksanakan patroli di perairan seputar Timor-Timur, terutama untuk mengantisipasi kemungkinan kehadiran kapal asing yang akan memberikan bantuan logistik, senjata atau perkuatan personel kepada gerombolan Fretilin.[2]

ReferensiSunting

  1. ^ Palangan, "GUGURNYA SANG PENERBANG KORPS MARINIR", Marinir, Edisi NO. 140 - 15 NOPEMBER 2013 MARINIR, hlm. 46-47.
  2. ^ Sejarah Penerbangan TNI AL, "Keterlibatan unsur Penerbangan TNI Angkatan Laut dalam Operasi Seroja (Timor-Timur)", Puspenerbal, Edisi Sejarah Penerbangan TNI AL - PUSPENRBAL, hlm. 20.