Buka menu utama

Soehario Padmodiwirio

Mayjen TNI Soehario Padmodiwirio alias Hario Kecik (lahir di Surabaya, Jawa Timur, 12 Mei 1921 – meninggal di Surabaya, 19 Agustus 2014 pada umur 93 tahun) adalah pejuang pertempuran Surabaya 1945 dan Panglima Kodam IX Mulawarman tahun 1959-1965.[1] Selain sebagai seorang yang terampil di dunia medis, penembak jitu, prajurit tangkas, kemampuan Hario Kecik adalah menulis sebuah naskah film berjudul "Tangan-tangan Kotor" yang mendapat penghargaan internasional.[2]

Daftar isi

Latar Belakang dan KeluargaSunting

Soehario K. Padmodiwirio (nama revolusi: Hario Kecik) lahir di Surabaya 12 Mei 1921. Ayahnya adalah R.M. Koesnendar Padmodiwirio dan ibunya adalah R.A. Siti Hindiah Notoprawiro. Istri pertama adalah Lily Koestadji Maskan (menikah pada tahun 1944 dan meninggal dunia pada tahun 1996). Istri kedua adalah Kusuma Dewi Putri dari Mr. Koesoemo Soetojo dan cucu dari Mr. Hoesein Djajadiningrat (menikah pada tahun 2001). Hario Kecik mempunyai 6 orang anak, 10 orang cucu, dan 2 orang cicit.[3] Pendidikan yang ditempuh adalah Universitas Fakultas Kedokteran (Zaman Belanda dan Zaman Jepang, doctoral) dan Sekolah Tinggi Filsafat Driyarkara, Jakarta.

PendidikanSunting

Pendidikan UmumSunting

Pendidikan umum yang ditempuh Soehario Padmodiwirio adalah Universitas Fakultas Kedokteran (Zaman Belanda dan Zaman Jepang, doctoral) dan Sekolah Tinggi Filsafat Driyarkara, Jakarta.[3]

Pendidikan MiliterSunting

Pendidikan militer Soehario Padmodiwirio antara lain, Latihan Pasukan Khusus Komando Jepang (1943); Latihan Candra Dimuka (1951); Army Officers Advance Course (Komandan Pentomic Divisi Nuclear) Fort Benning, AS (1956-1958); United States Army Airborne Ranger Course (Komandan Pasukan Para/Payung) Fort Benning, AS (1958); Akademi General Staff Suvorov/Sekolah Tinggi Militer yang meliputi 4 Angkatan, Darat, Laut, Udara, dan Roket di Uni Soviet (1965-1968).[3]

Karier MiliterSunting

Soehario Padmodiwirio adalah pelaku langsung pertempuran rakyat Surabaya melawan Inggris pada Oktober-November 1945. Ia mendirikan Polisi Tentara Keamanan Rakyat (PTKR) yang merupakan cikal bakal korps Polisi Militer.[3] Ia merupakan kolega Kepala Staf Angkatan Darat (KSAD) Letjen A.H. Nasution.[4]

Sehubungan dengan status negara dalam keadaan bahaya sejak 1957, Panglima Kodam IX Mulawarman Soehario juga sekaligus bertindak sebagai Penguasa Perang Daerah (Peperda). Dalam situasi revolusi nasional itu, kekuasaan Soehario sangat besar karena ia juga menjadi Ketua Front Nasional untuk wilayah Kalimntan Timur.[5]

Pengganti Nasution sebagai KSAD, yakni Letjen Ahmad Yani, mengirim Soehario ke Uni Soviet untuk mengikuti War College mulai Maret 1965.[6] Soehario kembali ke Indonesia pada 1977 tetapi rezim Orde Baru menuduhnya terkait dengan PKI dan menahannya selama empat tahun tanpa pengadilan.[7]

Jabatan dan Pangkat di bidang Militer, antara lain, Komandan Resimen Mahasiswa Fakulas Kedokteran/Dai Tai Co Gakuto Tai Ika Dai Gaku Jakarta (1944); Dalam Revolusi Surabaya. Wakil Komandan Polisi Tentara Keamanan Rakyat Djawa Timur, Kolonel TKR (8 Oktober 1945); Komandan Counter Intelligence Daerah Besar III Djawa Timur; Mayor (1946 setelah penyesuaian pangkat secara umum); Mayor Komandan Counter Intelligence KP.V, merangkap Komandan Corps Mahasiswa Djawa Timur/CMDT (pasukan tempur bersenjata sebagai cover-organization Counter/ Intelligence) (1944); Mayor masih tetap Komandan CIDB III, pada bulan-bulan akhir tahun 1948. Bagian Intel FP/ Field Preparation diperintahkan pusat untuk masuk CIDB III. Mayor di daerah gerilya menjabat sebagai Kepala Staf Security Kesatuan Komando Kawi Selatan, Komandan Combat Intelligence Troops dan Komandan CMDT (Corps Mahasiswa bersenjata Djawa Timur) (1944); Merangkap Kepala Kesehatan daerah Gerilya (dokter gerilya) Gunung Kawi Selatan. Mayor, Kepala Staf Komando Pasukan Sulawesi Utara dan Maluku Utara (KOMPAS SUMU) di bawah pimpinan Letnan Kolonel J.F. Warouw (Brigade 16) di Manado (19501951); Mayor, Wakil Kepala STAF V SUAD/Staf Umum Angkatan Darat di Jakarta (1951). Letnan Kolonel, tugas belajar di Fort Benning Georgia, AS (1956); Mayor Jenderal Panglima KODAM IX Mulawarman, Kalimantan Timur (Pelaksanaan DWIKORA-Ganyang Malaysia) (1959-1965); Tugas Belajar di War College Suvorov di Moskow dan oleh Perdana Menteri RI J. Leimena diberi Status Minister Counselor di Kedubes RI di Moskow (1965); Pengalaman bekerja sebagai ‘Senior Associate’ pada Academy of Sciences, Uni Soviet (1968-1977).[8]

Pada saat menjabat Panglima Kodam IX Mulawarman, tahun 1961 Hario Kecik memerkarakan Gubernur Kalimantan Timur APT Pranoto yang sudah empat tahun menjabat sejak Provinsi Kaltim terbentuk 1957 hingga 1961. Adik mantan Sultan Kutai Aji Muhammad Parikesit ini kemudian ditahan Kejaksaan Tinggi Kaltim berdasarkan tuntutan DPRD yang mendakwanya melakukan penggelapan uang kas negara.[9] APT Pranoto didakwa menyalahgunakan dana APBD Provinsi dan korupsi semasa menjabat Gubernur Kaltim. Kemudian, Hario Kecik mengirim APT Pranoto ke Rumah Tahanan Militer (RTM) di Jakarta dan akhirnya wafat dalam penjara karena kondisi penjara.[10]

Karya Seni dan LiterasiSunting

Karya-karya Soehario Padmodiwirio berupa tulisan dalam bentuk cerpen, novel, memoar otobiografi, naskah-naskah sandiwara, skenario film, artikel-artikel di surat kabar, pamflet, surat selebaran, dan lain-lainnya mulai dari 1953 hingga wafat: 1) Pamflet dan artikel surat kabar, selebaran berisi agitasi untuk pemberantasan korupsi dalam kerja sama dengan surat kabar yang dipimpin Mochtar Lubis, Indonesia Raya, 1953-1954; 2) Naskah Sandiwara 4 babak “Persimpangan Jalan” yang dimainkan oleh bintang-bintang terkenal seperti Zainal Abidin, Raden Ismail, dan lain-lainnya (1954); 3) Naskah Sandiwara 3 babak “Selingan Dalam Dinas” yang dimainkan oleh bintang-bintang terkenal, Toeti Soeprapto, Anggraeni, Citra Dewi, dan lain-lain (1954) dalam rangka aktivitas organisasi “Penggerak Seni Angkatan Perang”; 4) Naskah-naskah Sandiwara Radio RRI, “Akhirnya Mereka Bertemu”, suatu melodrama tentang episode dalam pemberontakan melawan pemerintah RI, “Padi Mulai Menguning”, suatu cuplikan dari kehidupan para transmigran berasal dari Jawa di Sumatera Selatan (1955); 5) Cerpen Bila Mesin-Mesin Telah Berhenti, tentang suka duka dan perjuangan kaum buruh tambang batubara yang diterlantarkan oleh kolonialis Belanda menjelang pecahnya Perang Pasifik, pada waktu Jepang akan masuk Indonesia sampai pecah perang Kemerdekaan Indonesia. Ditulis sebagai tanda peduli kepada perjuangan semua kaum buruh perusahaan minyak di Kalimantan Timur (1960); 6) Kumpulan cerita/reportase diambil dari pengalaman dalam tahap pertama sebagai Panglima Kodam IX Mulawarman di daerah pedalaman Kalimantan Timur berjudul “Tanah, Rakyat dan Tentara” (1960); Penulisan Skenario Film “Tangan-Tangan Kotor” yang dasar ceritanya tentang pertanian yang dijalankan oleh kaum tani transmigrasi dari Jawa di Kalimantan Timur. Tujuan dari pembuatan film itu adalah sebagai penerangan dan untuk memberi semangat kepada para transmigran sekaligus mempersatukan dan asimilasi kebudayaan kaum pendatang dan rakyat asli di pedalaman. Sekaligus dalam pembikinan film kolosal itu mempertemukan empat suku besar dalam suatu festival besar suku-suku Dayak di pedalaman dan mempersatukan mereka dalam rangka politik Konfrontasi Malaysia.[11]

Bersamaan dengan itu politik konfrontasi terhadap Tentara Inggris di Sarawak dapat dengan lebih mudah disosialisasikan karena dapat “disimulasikan” untuk penduduk di pedalaman yang masih hidup dalam taraf sederhana dan dapat digambarkan “sambil main film”. Film itu dapat dikatakan kolosal tanpa dibesar-besarkan karena jumlah rakyat yang diikutsertakan main tidak kurang dari sepuluh ribu orang terdiri atas penduduk kota dan suku-suku Dayak di pedalaman. Pengerahan masa yang begitu besar dapat terjadi berkat kerjasama dalam organisasi Front Nasional yang didukung oleh seluruh persatuan buruh dan tani yang ada di Kalimantan Timur. Yang unik dalam pembuatan film ini, dijalankannya manajemen finansial yang terbuka. Berarti semua kesatuan organisasi massa pengikut serta dapat mengadakan pengawasan terhadap pengaturan dan penggunaan keuangan yang diperlukan dalam pembuatan film “Tangan-Tangan Kotor” itu. Biaya yang dikeluarkan kurang lebih dua puluh juta rupiah, jumlah terbesar pada zaman itu untuk pembuatan sebuah film. Film tersebut mendapat international award, penghargaan tertinggi dalam Festival Film Asia-Afrika dan Amerika Latin pada tahun 1964 yang diselenggarakan di Jakarta, hampir semua negara Asia-Afrika dan Amerika Latin ikut serta dan memamerkan filmnya masing-masing; 7) Tulisan dalam bentuk Skenario Film “Pangeran Sambernyowo” yang mengisahkan sejarah perjuangan bersenjata Pangeran Sambernyowo (Mangkunegoro I) melawan tentara kolonialis Belanda (Yayasan Obor Indonesia 1991, belum sempat dijadikan film); 8) Memoar Hario Kecik, Otobiografi seorang mahasiswa prajurit (Yayasan Obor Indonesia cetak ke-I Juli 1995, cetak ke-2, Agustus 2002, PT Pustaka Utan Kayu, Jakarta); 9) Memoar Hario Kecik ke-2 (Yayasan Obor Indonesia, Jakarta, April 2001); 10) Novel sejarah Liur Emas I (Yayasan Obor Indonesia, 2001); 11) Novel sejarah Liur Emas II (Pustaka Utan Kayu, 2002); 12) Novel sejarah, ekologi dan percintaan, Badak Terakhir (penerbit Pustaka Utan Kayu, 2003); 13) Memoar Hario Kecik ke-3, Dari Moskwa ke Peking, Mei 2005, (Pustaka Utan Kayu, Jakarta); 14) Novel science fiction Lesti (Yayasan Obor Januari 2006, Jakarta); 15) Novel sejarah Symbiosis Koruptor dan Pejabat Negara (LkiS ,Yogyakarta, 2008); 17) Novel Roman/Sejarah Si Pemburu Jilid 1&2 (LkiS, Yogyakarta, Juli 2008).[12]

Tanda Kehormatan MiliterSunting

Tanda-tanda Kehormatan Militer yang diterima Soehario Padmodiwirio, antara lain, Bintang PAHLAWAN GERILYA; Bintang KARTIKA EKAPAKSI; Bintang SEWINDU KESETIAAN ‘APRI’; Satya Lencana KESETIAAN ‘XXIV’ TH; Satya Lencana KESETIAAN ‘XVI’ TH; Satya Lencana KESETIAAN ‘VIII’ TH; Satya Lencana AKSI MIL I; Satya Lencana AKSI MIL II; Satya Lencana GOM I; Satya Lencana GOM II; Satya Lencana GOM III; Satya Lencana GOM IV; Satya Lencana GOM V; Satya Lencana BAKTI dua kali (luka dalam pertempuran/tugas); Satya Lencana SAPTA MARGA; Satya Lencana TRIKORA (IRBAR); Satya Lencana DWIKORA (KONFRONTASI MALAYSIA); Bintang Kehormtan Angkatan 45.[13]

KontroversiSunting

Ada pihak tertentu yang menuding Soehario Padmodiwirio sebagai perwira militer pro-PKI atau berhaluan kiri atau sekurang-kurangnya memberikan keleluasaan kepada PKI untuk bertindak anarkis. Pada masa Orde Baru, Hario Kecik pernah dipenjara selama empat tahun dari 1977 s.d. 1981 tapi tanpa proses peradilan. Tuduhan sebagai seorang PKI tidak dibuktikan melalui pengadilan. Saat Gerakan 30 September 1965 ia tinggal di Uni Soviet sejak Maret 1965 hingga 1977.

WafatSunting

Soehario Padmodiwirio wafat pada 19 Agustus 2014 dan dimakamkan di Taman Makam Pahlawan Surabaya dengan upacara militer.[14]

ReferensiSunting

Catatan kaki
Daftar Pustaka