Buka menu utama

Sinta Nuriyah

First Lady of Indonesia

Sinta Nuriyah Wahid (lahir di Jombang, 8 Maret 1948; umur 70 tahun) adalah istri dari Presiden Indonesia keempat Abdurrahman Wahid. Ia menjadi Ibu Negara Indonesia keempat dari tahun 1999 hingga tahun 2001.[1][2]

Sinta Nuriyah
Sinta Nuriyah during the International Conference on Feminism, 2016-09-23 02.jpg
Sinta Nuriyah tahun 2016
Ibu Negara Indonesia ke-4
Masa jabatan
20 Oktober 1999 – 23 Juli 2001
Presiden Abdurrahman Wahid
Pendahulu Hasri Ainun Habibie
Pengganti Taufiq Kiemas
Informasi pribadi
Lahir 8 Maret 1948 (umur 70)
Bendera Indonesia Jombang, Jawa Timur, Indonesia
Kebangsaan Indonesia
Pasangan Abdurrahman Wahid
Hubungan Abdurrahman Wahid (suami)
Wahid Hasyim (mertua)
Salahuddin Wahid (adik ipar)
Anak Alissa Qotrunnada
Zannuba Ariffah Chafsoh
Anita Hayatunnufus
Inayah Wulandari
Tanda tangan

Sinta lahir di Kabupaten Jombang pada tahun 1948 sebagai putri sulung dari 18 bersaudara.[3] Ia disekolahkan di pesantren. Pada usia 13 tahun, ia jatuh cinta dengan Wahid, gurunya di pesantren. Karena bapaknya, seorang penulis kaligrafi profesional, enggan menyetujui pernikahan mereka, Wahid pergi menuntut ilmu di luar negeri. Ketika Wahid melamar untuk kedua kalinya dari Baghdad, Sinta menerima dan menikahinya tiga tahun sebelum Wahid pulang ke Indonesia. Kakek Wahid menjadi pengganti mempelai pria dalam upacara pernikahan mereka.[3]

Setelah Wahid pulang tahun 1971, Sinta lulus S1 di bidang hukum syariah. Ia membantu menghidupi keempat anaknya dengan membuat dan menjual permen.[3]

Pada tahun 1992, Sinta menjadi korban kecelakaan mobil yang melumpuhkan separuh tubuhnya. Ia menjalani terapi fisik selama satu tahun agar dapat menggerakkan lengannya. Ia kemudian melanjutkan S2 di bidang kajian perempuan di Universitas Indonesia. Staf universitas membawa Sinta ke lantai empat gedung universitas menggunakan tandu.[3]

Sejak suaminya dimakzulkan, Sinta menjadi aktivis pendukung Islam moderat. Ia memulai tradisi buka puasa lintas agama pada bulan Ramadan.[4] Ia memuji keberanian Gubernur DKI Jakarta, Basuki Tjahaja Purnama, dan menyebut bahwa poligami selama ini tidak adil.[3] Banser mengamankan setiap kegiatan-kegiatannya karena ia sering mendapat ancaman dari kaum ekstremis.[3]

ReferensiSunting

  1. ^ Kepustakaan Presiden-Presiden Republik Indonesia: Sinta Nuriyah
  2. ^ Robinson, Kathryn May (2009). Gender, Islam, and democracy in Indonesia. Taylor & Francis. hlm. 76. ISBN 978-0-415-41583-5. 
  3. ^ a b c d e f Emont, Jon (8 April 2017). "A Former First Lady Presses On for a Tolerant, Feminist Islam". The New York Times. hlm. A6. Diakses tanggal 14 April 2017. 
  4. ^ "Ex-first lady holds 'sahur' with marginalized people for RI unity". The Jakarta Post. 29 June 2015. 
Jabatan politik
Didahului oleh:
Hasri Ainun Habibie
Ibu Negara Indonesia
1999–2001
Diteruskan oleh:
Taufiq Kiemas