Seminari Garum

Seminari Garum atau Seminari Menengah Santo Vincentius a Paulo Garum adalah sebuah lembaga pendidikan awal untuk para calon pastor Katolik. Seminari ini terletak di desa atau lebih tepat Kecamatan Garum, Kabupaten Blitar, Jawa Timur. Saat ini, Seminari Garum terdiri dari SMA (Sekolah Menengah Atas), kelas khusus sesudah SMA, dan satu kelas lagi yang disebut dengan "Kelas IV". Para murid yang sekolah di Seminari Garum disebut "seminaris". Apabila lulus dari Seminari Garum, dan yang bersangkutan tetap ingin melanjutkan pembinaan sebagai calon pastor Katolik, mereka akan melanjutkannya ke Seminari Tinggi.

Seminari Menengah Santo Vincentius a Paulo Garum
Informasi
JenisSeminari menengah
Rektor / KetuaR.D. Benedictus Prima Novianto Saputro
Rentang kelasKelas 10-12
KurikulumKurikulum Seminari (untuk Kelas Persiapan Pertama dan Kelas Persiapan Atas) Kurikulum 2013 (untuk kelas 10-12)
Alamat
Lokasi, Garum, Blitar, Jawa Timur, Indonesia
Moto

Sejarah PendirianSunting

Reportase PertamaSunting

Reportase sejarah pendirian Seminari Garum ditulis pertama kali dalam sebuah artikel ringkas oleh Almarhum Romo Karl Prent CM, salah satu pembina seminari pada waktu itu, dalam bahasa Belanda, berjudul "Het Nieuwe Seminarie te Garum" (Seminari Baru di Garum). Tulisan ini dipublikasikan dalam majalah misi, Missiefront.[1]

Romo Karl Prent CM menulis pengantar artikelnya demikian:

"Tanggal 29 Juni 1959, Pesta Santo Petrus dan Santo Paulus, di sebuah desa yang tenang, yaitu Garum (terletak di jalan Malang-Blitar), sekitar pukul sepuluh pagi ada keramaian yang tidak biasa. Ratusan umat Katolik dari Blitar, Garum, Wlingi, dan Slorok datang berduyun-duyun ke seminari. Mereka menghadiri misa agung yang dipersembahkan oleh Yang Mulia Mgr. J. Klooster, CM., Vikaris Apostolik Surabaya dan kemudian bersama-sama sarapan di ruang makan seminari. Puluhan mobil mengantar para undangan (di antaranya banyak pejabat sipil dan militer) untuk resepsi. Pesta di Garum. Hari ini ulang tahun ke-11 pendirian seminari [di keuskupan Surabaya], sebuah kompleks gedung baru secara resmi mulai digunakan. Sejumlah program pesta telah disusun: Pada malam hari akan ada pertunjukan wayang kulit untuk rakyat di sekitar dan besok pagi ratusan anak akan datang di lapangan olahraga kami untuk mengadakan permainan-permainan rakyat. Rektor seminari, Pastor J. Verbong CM, ekonom, Pastor Adam van Mensvoort CM, kekurangan mata dan tangan untuk mengatur itu semua. Diam-diam kami telah memikirkan jalan panjang yang telah ditempuh selama 11 tahun silam. Pada waktu itu, tahun 1948, Pastor H. Niessen memberikan pelajaran kepada 8 seminaris di sebuah kamar pastoran yang kotor di kota Surabaya yang panas. Sekarang, 11 tahun kemudian, terdapat 5 frater CM teologan di luar negeri, di Garum terdapat 16 frater (CM) yang menuntut pelajaran filsafat, ada korps pengajar yang lengkap, seminari menengah itu mempunyai 5 kelas dan ada sebuah kompleks gedung baru di tengah-tengah nyiur-nyiur yang dikelilingi sawah-sawah, indah."[2]

Dari kutipan reportase Romo Karl Prent CM di atas, Seminari Garum ternyata sudah dimulai (di tempat lain: di sebuah "kamar pastoran yang kotor") sebelas tahun yang silam (dari tahun 1959). Berarti, Seminari Garum memiliki awal pendirian tahun 1948. Dan, diketahui bahwa ketika Seminari Garum pertama kali digunakan tahun 1959, di situ terdapat pula pelajaran filsafat untuk 16 frater. Artinya, Seminari Garum pada awalnya juga sekaligus merupakan Seminari Tinggi (bagi para calon CM ketika itu), disamping pendidikan seminari menengah. Seminari Garum didirikan oleh para perintis Gereja Keuskupan Surabaya, para Romo CM, sebagai salah satu "puncak" karya misi bagi Keuskupan Surabaya.[3]

Seminari PertamaSunting

Romo Prent dan Romo Wolters adalah dua imam yang merekam dengan baik apa yang terjadi tahun itu. Dikisahkan demikian: "Pada waktu awal [seminari] dapat disebut merupakan sebuah petualangan yang romantis. Hari-hari itu tahun 1948 adalah hari-hari kacau. Di suatu hari yang kacau oleh perang kemerdekaan, dimana wilayah negara dipisahkan oleh garis demarkasi, Pastor Dwidjosoesastro CM bersama dengan delapan anak berjalan kaki menembus garis demarkasi, datang ke Surabaya. Setelah perjalanan yang berliku-liku dan melelahkan, pada tanggal 29 Juni 1948, jam 12 siang, mereka tiba di Surabaya. Delapan itu adalah anak-anak Jawa yang ingin menjadi pastor, diantaranya dua yang tertua, Reksosoebroto dan Sastropranoto [juga Julius Haryanto] ketika itu (1948) sedang menyelesaikan studi mereka di Yogya dan kini [1959) mau menerima tahbisan. Keuskupan Surabaya sudah sejak lama sekali merindukan memiliki pastor sendiri. Sudah ada sebenarnya beberapa imam Jawa yang bekerja di Vikariat [Keuskupan Surabaya], namun sampai saat ini jumlah calon imam tidak cukup banyak untuk mendirikan seminari menengah sendiri."[4]

Yang dimaksud datang ke Surabaya ialah datang di Jalan Kepanjen No. 9, Surabaya, yang saat ini menjadi Rumah Provinsialat romo-romo CM. Baik Romo Jan Wolters CM maupun Romo Karl Prent CM berpendapat bahwa yang memulai pertama kali "seminari" di keuskupan Surabaya tahun 1948 tersebut adalah pastor Ignatius Dwidjosoesastro CM. Siapakah pastor Dwidjosoesastro ini? Dia adalah pastor Jawa Asli, CM pertama Indonesia, yang telah menjadi imam tahun 1941 di Belanda, dan kembali ke Indonesia tahun 1946 (sesudah Perang Dunia II). Dialah yang disebut sebagai "pro-vikaris apostolik" Surabaya pada waktu itu dari Vikaris Mgr. Michael Verhoeks CM. Ketika itu, wilayah vikariat Surabaya terbagi menjadi dua, karena perang agresi. Sebagian wilayah Mojokerto ke timur dikuasai oleh tentara Sekutu (Belanda), wilayah barat dikuasai oleh tentara rakyat Indonesia. Romo Dwidjosoesastro CM bertugas di wilayah barat.

Pada tanggal 25 Februari 1950, Seminari di Jalan Kepanjen No. 9 Surabaya dipindahkan di gedung sendiri, di Jalan Dinoyo 42. Ketika itu Jalan dinoyo 42 adalah mantan rumah Administrator daerah Darmo. Jika, ketika di Jalan Kepanjen, "rektor" seminari adalah Romo Superior Misi waktu itu, yaitu Romo van Megen CM; maka, di Jalan Dinoyo 42, rektor seminarinya adalah Romo van Driel CM.

Tetapi, di atas segalanya, sesungguhnya pendirian seminari menengah sebagai wahana pendidikan para calon pastor asli (Indonesia) sudah ada di kerinduan terdalam dari Mgr. Theophile de Backere CM, Prefek Apostolik pertama Surabaya, perintis Keuskupan Surabaya. Menurut Mgr. de Backere CM, Gereja Indonesia harus berakar dalam budaya Indonesia melalui klerus (imam-imam) pribumi. Sudah sejak awal (mungkin sebelum tahun 1927) Romo de Backere CM, sebagai kepala misi di wilayah Keuskupan Surabaya, merindukan formasio bagi para calon imam pribumi. Tanah untuk seminari konon sudah dibeli. Tetapi, izin dari Provinsi CM di Belanda belum tiba, sebab tenaga pembina untuk itu belum tersedia. Tambahan lagi, krisis ekonomi yang melanda dunia dan Eropa memporak-porandakan rencana pembangunan seminari. Sampai tahun 1938, tahun keberangkatan Mgr. de Backere CM ke Belanda untuk pulang selamanya, telah terdapat delapan calon, di antaranya adalah Romo Dibjakariono Pr, yang kelak akan menjadi Uskup Surabaya.[5]

Kerinduan Mgr. de Backere CM tersebut baru dapat terlaksana tahun 1948 (di Jalan Kepanjen 9, Surabaya), yang kemudian berpindah ke Jalan Dinoyo 42 (tahun 1950), dan akhirnya berlabuh di desa Garum (tahun 1959 hingga saat ini).

Perkembangan SelanjutnyaSunting

Dari awal yang hanya delapan siswa, kini Seminari Menengah St. Vincentius a Paulo di Garum memiliki siswa sekitar 100-an atau lebih. Pada tahun 1980, di saat rektornya ketika itu Romo Adam van Mensvoort CM, seminari Garum menutup bagian penerimaan "tingkat bawah" atau setara dengan SMP (calon siswa berasal dari lulusan SD). Pertimbangannya: para calon masih terlampau kecil. Sejak saat itu, di Seminari Garum yang ada hanyalah SMA dan kelas di atasnya yang disebut "Kelas IV".

Tujuan Seminari adalah menyelenggarakan pembinaan bagi lulusan SMP/SMA/SMK, yang bersedia mengikuti panggilan khusus untuk terlibat dalam pelayanan rohani sebagai imam di wilayah Keuskupan Surabaya dan Gereja Katolik pada umumnya. Sebagai Prioritas, lulusan Seminari diarahkan untuk memenuhi kebutuhan imam-imam Praja Keuskupan Surabaya dan imam-imam Congregatio Missionis (CM), namun tidak menutup kemungkinan lulusan Seminari berkarya untuk Tarekat atau Keuskupan yang lainnya.

Mereka yang tidak melanjutkan studi di jalur imamat pada umumnya tampil sebagai para pemimpin di dalam masyarakat. Tidak sedikit para alumni Garum yang memiliki peran penting di masyarakat dan negara Indonesia, baik di bidang intelektual pendidikan maupun bisnis dan politik. Kebanyakan dari mereka tampil sebagai pemimpin dalam masyarakat dan menjadi tokoh Gereja Katolik setempat.

Bagi masyarakat sekitar Blitar dan Garum, Seminari dikenal sebagai tempat bina anak-anak muda yang dinamis, yang kreatif dalam penguasaan bahasa asing, giat dalam bermain sepak bola, pandai bermain drama dan seni. Para seminaris dibina dalam persaudaraan dan persahabatan serta gigih untuk menatap ke depan. Di keuskupan Surabaya, Seminari Garum merupakan semacam "dapur" yang indah dan penting bagi pembinaan masa depan tenaga-tenaga pastoral mereka. Tetapi, seperti semangat dari para perintisnya, Seminari Garum memiliki dimensi misioner, yaitu pembinaan bagi para calon pewarta Injil yang siap diutus ke mana saja Tuhan kehendaki dan Gereja butuhkan.

Sampai hari ini, seminari itu tertata dan terawat dengan baik dalam sistem pembinaannya seiring dengan kemajuan dan perkembangan sistem pendidikan di Indonesia. Para pembinanya tetap merupakan kesaksian indah dari kerjasama dan persahabatan antara para imam diosesan Surabaya dan para imam CM (Kongregasi Misi) sebagai perintis seminari dan keuskupan Surabaya. Mereka bahu membahu bersama beberapa guru dan awam Katolik serta para Suster Puteri Kasih dalam suasana persahabatan untuk membina anak-anak muda, para seminaris, yang mendengarkan panggilan Tuhan. Suasana persaudaraan dan persahabatan di antara para pembina dan seminaris inilah yang menjadi pondasi kokoh keberlangsungan mutu pembinaan para calon imam di Seminari Garum.

Nama pelindung, Santo Vincentius a Paulo, merupakan teladan sekaligus menjadi visi ke depan pembinaannya: bahwa para siswanya diantar kepada sikap dan tekad untuk mengabdi Tuhan dan mewartakan Kabar Gembira kepada orang-orang miskin dan telantar di mana saja, di keuskupan Surabaya, di aneka wilayah Indonesia, juga di wilayah-wilayah seluruh dunia.

RektorSunting

Para Romo yang pernah menjadi rektor Seminari Garum:[butuh rujukan]

  • Romo van Megen CM (ketika masih di Jalan Kepanjen 9 Surabaya)
  • Romo van Driel CM (ketika di Jalan Dinoyo 42 Surabaya)
  • Romo Verbong CM
  • Romo Karl Prent CM
  • Romo J. Haryanto CM
  • Romo Adam van Mensvoort CM
  • Romo Yosef van Mensvoort CM (pengganti sementara dan merupakan kakak dari Rm Adam van Mensvoort)
  • Romo Hardjodirono CM (pejabat sementara)
  • Romo Louis Pandu CM
  • Romo Haryo Pranoto Pr
  • Romo Agustinus Marsup CM
  • Romo Petrus Canisius Edi Laksito Pr
  • Romo Senti Fernandez Pr
  • Romo Stefanus Cahyono Pr
  • R.D. Aloysius Hans Kurniawan
  • R.D. Benedictus Prima Novianto Saputro (Rektor saat ini.)

ReferensiSunting

  1. ^ Missiefront, Februari 1960, hlm. 8-9.
  2. ^ Ibid., hlm. 8.
  3. ^ Bdk. dengan artikel dari Romo Jan Wolters CM, "Seminarie St. Vincentius te Surabaya," dalam Missiefront, Agustus 1950, hlm. 150-154. Di dalam artikel itu, Romo Wolters CM menyebut bahwa karya seminari adalah karya puncak dari misi pengorbanan dan perintisan Romo-Romo CM bagi kevikariatan Surabaya.
  4. ^ Karl Prent CM, "Het Nieuwe Seminarie te Garum", dalam Missiefront, Februari 1960, hlm. 8
  5. ^ Menurut kesaksian dari Romo Anton Bastiaensen CM, direktur novisiat pertama CM di Garum, Mgr. de Backere CM pada awalnya melakukan usaha-usaha untuk mendirikan seminari sebagai wujud usaha Gereja untuk berdiri di "kaki sendiri" (dalam Missiefront 1948), Lih. Armada Riyanto CM, 80 Tahun Romo-Romo CM di Indonesia, Surabaya, CM Provinsialat, hlm. 136-137.

Lihat pulaSunting