Abdul Rahman Tolleng (lahir di Sinjai, 5 Juli 1937 – meninggal di Jakarta, 29 Januari 2019 pada umur 81 tahun) adalah seorang aktivis dan politisi asal Indonesia. Rahman pernah menjabat sebagai anggota DPR Gotong Royong (DPR-GR)/Majelis Permusyawaratan Rakyat Sementara (MPRS) pada tahun 1968 hingga 1971 dan kemudian menjadi anggota DPR/MPR dari tahun 1971 sampai 1974.[2] Ia merupakan aktivis mahasiswa eksponen angkatan 66 yang turut menentang kekuasaan Orde Lama.

Rahman Tolleng
Rahman Tolleng, Sorgemagz.com - Rahman Tolleng Bagian 3, Tentang Kapitalisme dan Demokrasi.jpg
LahirAbdul Rahman Tolleng
(1937-07-05)5 Juli 1937
Sinjai, Sulawesi Selatan, Hindia Belanda
Meninggal29 Januari 2019(2019-01-29) (umur 81)[1]
Jakarta, Indonesia
Tahun aktif1955–2019
Dikenal atasAktivis 66
Partai politikGolkar (hingga 1974)
Partai SRI
Gerakan politikGerakan mahasiswa angkatan 66
Suami/istriTati Rahman

BiografiSunting

Menentang Orde LamaSunting

Ia memulai kegiatan aktivismenya sejak merantau ke Pulau Jawa pada tahun 1955. Ketika itu, ia mulai berkuliah di Institut Teknologi Bandung (ITB) jurusan apoteker, ia pun merintis dan bergabung dengan Gerakan Mahasiswa Sosialis (GMSos) yang didirikan pada 21 Oktober 1955 dan berafiliasi dengan Partai Sosialis Indonesia (PSI).[3] Ketika Presiden Soekarno mengeluarkan dekret pada bulan Juli 1959, Rahman mengkritisi dekret tersebut dengan menganggapnya sebagai akal-akalan dan sebuah hal yang menggelikan dari Soekarno untuk melanggengkan kekuasaannya lewat sebuah sistem pemerintahan baru yang disebut sebagai Demokrasi Terpimpin.[3] Ia kemudian menjadi buruan aparat rezim Orde Lama karena sikap kritisnya tersebut, akan tetapi kritikannya itu akhirnya terbukti ketika MPRS mengangkat Soekarno sebagai presiden seumur hidup pada tahun 1963.

Di bawah rezim Orde Lama, Rahman termasuk kalangan aktivis yang menentang hegemoni Nasionalis, Agama, dan Komunis (Nasakom) yang digelorakan Presiden Soekarno. Pasca meletusnya Gerakan 30 September 1965, muncul gelombang unjuk rasa mahasiswa yang begitu banyak menentang Soekarno. Rahman juga ikut di dalamnya, ia ikut aktif di dalam Kesatuan Aksi Mahasiswa Indonesia (KAMI) di Bandung. Kemudian, ia naik sebagai salah seorang Ketua Presidium KAMI Pusat.[4]

Pertengahan tahun 1966, ia bersama Riandi dan Awan Karmawan Burhan menginisiasi media mingguan Mahasiswa Indonesia.[4] Rahman menjadi pemimpin redaksi di mingguan tersebut, ia juga menjabat sebagai pemimpin umum, ia pun memakai nama samaran Iwan Ramelan, selain nama aslinya.[5] Media itu segera dikenal luas sebagai koran intelektual yang berisi pandangan-pandangan kritis mengenai perpolitikan nasional dan arah masa depan bangsa. Media itu, pada mulanya, juga menjalin hubungan baik dengan berbagai kekuatan antikomunis saat itu, terutama militer. Rahman menempatkan Brigjen Soegandhi yang memangku jabatan Kepala Penerangan Hankam dan Prof Oemi Abdurrahman, dekan Fakultas Publisistik Unpad sebagai penasihat media mingguan ini.[5] Namun sayang, pada tahun 1974, Mahasiswa Indonesia dibredel oleh rezim Orde Baru.

ReferensiSunting