Pulau Palangasiang

Pulau Pangalasiang adalah pulau yang terletak dalam wilayah administrasi desa Pangalasiang, kecamatan Sojol, Kabupaten Donggala, Sulawesi Tengah. Nama pulau ini berasal dari bahasa Dampal yang berarti pangalaseang atau 'pengambil manusia' yang berkaitan dengan sejarah panjang pulau ini. Pulau ini terkenal sebagai daerah transit penebangan liar pada zaman dulu. [1]

Pulau Pangalasiang
Koordinat0°29′19″N 119°54′0″E / 0.48861°N 119.90000°E / 0.48861; 119.90000
NegaraIndonesia
Gugus kepulauanSulawesi
ProvinsiSulawesi Tengah
KabupatenDonggala
Luas156,1 ha
Populasi410 jiwa
Peta
Letak Pulau Pangalasiang di dekat daratan Sulawesi

Sejarah

sunting

Pulau ini telah dihuni sejak zaman Mangindanaw, yaitu pada 1886 dimana penduduk di pulau ini sering diganggu oleh perompak. Kejadian ini menimbulkan pepatah 'nasib baik jika membunuh, nasib buruk jika terbunuh'.

Pada 1923, perompak ini menguasai pulau Pangalasiang dengan menimbulkan korban jiwa yang banyak hingga seringkali ditemukan tengkorak manusia ketika menggali pondasi rumah.

Pada 1932, ditemukan kuburan keramat di pulau ini dan dipercaya sebagai kuburan Puang Saiyye atau seorang syekh (keturunan Arab) dan menajdi tujuan wisata ziarah oleh pengunjung pulau.

Pada 1960, pulau Pangalasiang mencapai masa kejayaannya karena pulau ini menjadi tempat persinggahan kapal besar yang menuju kota besar lainnya seperti tujuan ke Tolitoli, Makassar ataupun kapal ke Kalimantan.

Penduduk

sunting

Pulau ini dihuni oleh 410 jiwa penduduk dengan 220 kepala keluarga (2014). Pulau ini mengalami kendala kekurangan air bersih dan masyrakat terpaksa mengambil air bersih dari daratan Kampung Tanjung dengan berkendara sepeda motor selama 10 menit. Penduduk pulau Pangalasiang berasal dari Suku Bajau, Pendau, Tolitoli dan suku lainnya. Adapun bahasa sehari-hari penduduk menggunakan bahasa Dampal.

Gugusan pulau

sunting

Pulau Palangasiang ditemani oleh dua pulau lain seperti Pulau Maputi dan Pulau Toguan.

Pulau Maputi

sunting

Pulau Maputi atau dikenal juga dengan nama Pulau Punteang. Penamaan pulau ini berasal dari nama burung putih yang mirip dengan burung Merpati. Hal ini dikarenakan pulau ini habitat untuk berkembangbiaknya burung Punteang. Dalam bahasa Dampal, maputi berarti 'kelihatan putih dari jauh'. Pulau Maputi memiliki luas 625 ha dan dihuni oleh penduduk satu dusun.

Pulau Maputi dikenal sebagai tempat bertelur penyu hijau dan terdapat ekosistem terumbu karang di bagian timur dan barat pulau dengan kondisi yang baik.[2]

Pulau Toguan

sunting

Pulau Toguan dikenal juga dengan nama Pulau Tongo. Penggantian nama pulau ini dimulai sejak 1818 oleh pemerintah Belanda dikarenakan pembangunan mercusuar di pulau ini. Pulau ini memiliki luas 81 ha yang dihuni oleh empat kepala keluarga. Dalam bahasa Dampal, Toguan berarti 'dilihat dari jauh'. Pulau ini memiliki tipe pulau batuan dan pantai berpasir putih.

Referensi

sunting
  1. ^ Batubara, Rido; Yusuf, Muhammad; Sidqi, Muhandis; Sinaga, Simon; YB, Anang (2014). Laut Sulawesi dan Selat Makassar, Sulawesi Tengah. Jakarta: Penerbit Buku Kompas. hlm. 23–41. ISBN 978-979-709-588-8. 
  2. ^ Ndobe, Samliok; Moore, Abigail; Wahyudi, Deddy; Muslihuddin (2014). "Ekosistem terumbu karang di Pulau Maputi, Kabupaten Donggala, Provinsi Sulawesi Tengah". Simposium Nasional I Kelautan dan Perikanan.