Pisang Biru

Pisang Biru (Inggris Blue Banana) adalah sebuah daerah koridor urbanisasi di Eropa Barat dan Tengah dengan penduduk sekitar 111 juta jiwa.[1] Konsep ini dikembangkan pada tahun 1989 oleh RECLUS, sebuah kelompok ahli geografi Prancis yang dipimpin oleh Roger Brunet.[2]

Pisang Biru

Kawasan ini membentang kurang lebih dari Wales Utara melampaui London menuju ke Benelux dan sepanjang Rheinland di Jerman, Jerman Selatan, Alsace di Prancis di sebelah barat dan Swiss (Basel dan Zürich) ke Italia Utara (Milano) di sebelah selatan.

SejarahSunting

 
Kepadatan penduduk di Eropa pada tahun 1994, yang menunjukkan kepadatan tertinggi pada kawasan Pisang Biru

Ahli geografi Prancis Roger Brunet, yang mengamati pembagian antara ruang "aktif" dan "pasif", mengembangkan konsep "tulang punggung" Eropa Barat pada tahun 1989. Dia membuat referensi ke koridor perkotaan industri dan layanan yang membentang dari Inggris Utara ke Italia Utara. Nama "Pisang Biru" pada akhirnya diciptakan oleh Jacques Chérèque dan seorang seniman menambahkan grafik ke sebuah artikel oleh Josette Alia di Le Nouvel Observateur. Warna biru mengacu pada bendera Komunitas Eropa atau kerah biru pekerja pabrik di wilayah tersebut.

Brunet melihat "Tulang Punggung Eropa" sebagai pengembangan preseden historis, misalnya rute perdagangan, atau sebagai konsekuensi dari akumulasi modal industri. Dalam analisisnya, Brunet mengecualikan daerah perkotaan Paris dan kota-kota lain di Prancis karena terisolasinya ekonomi Prancis. Tujuannya adalah integrasi ekonomi yang lebih besar di Eropa, tetapi ia juga merasa bahwa Prancis telah kehilangan koneksi ini pada abad ke-17 sebagai akibat dari persekusi terhadap kaum Huguenot dan sentralisasi di Paris. Namun, versi selanjutnya menyertakan Paris.

Pada tahun 1991, dalam konteks penelitian atas nama Komisi Eropa untuk mendukung Kebijakan Regionalnya, para peneliti mengkritik gagasan Pisang Biru sebagai formasi yang diinginkan, tetapi bukan realitas empirisnya, yang mengidentifikasinya sebagai hasil kompetisi regional dalam Eropa. Selain itu, diagram Pisang Biru mereka memiliki lebih banyak kurva, masih termasuk Italia Utara, tetapi berakhir di Barcelona. Itu juga termasuk Paris, dan memiliki perbatasan Inggris-Skotlandia sebagai batang utaranya. Sebuah studi tentang sejarah Pisang Biru sebagai konsep merujuk pada studi Komisi sebagai penolakan yang salah terhadap Pisang Biru dari gagasan asli Brunet. Dari penelitian atas nama Komisi, Pisang Biru mewakili inti yang dikembangkan dengan mengorbankan pinggiran, sedangkan Brunet secara empiris memandang Pisang Biru sebagai wilayah pengembangan di pinggiran Paris, di luar perbatasan Prancis.

Kepentingannya secara internasionalSunting

Secara internasional Pisang Biru merupakan salah satu aglomerasi terpenting. Hal ini antara lain karena empat dari sepuluh bandar udara internasional dunia berada di kawasan ini:

  1. Bandar Udara Heathrow di London, Britania Raya.
  2. Bandar Udara Charles de Gaulle di Paris, Prancis.
  3. Bandar Udara Frankfurt am Main di Jerman.
  4. Bandar Udara Schiphol di Amsterdam.

Selain itu di kawasan ini juga terdapat dua dari sepuluh pelabuhan terbesar di dunia:

  1. Pelabuhan Rotterdam
  2. Pelabuhan Antwerpen

Banyak lembaga internasional, seperti Istana Perdamaian (Vredespaleis), Europol, dan Eurojust di Den Haag, ibu kota Uni Eropa secara de facto dan markas besar NATO (Brussel), kantor ousat Bank Sentral Eropa (di Frankfurt am Main) dan juga pusat kebudayaan, dunia gemerlap, dan mode di kota-kota besar di dalam aglomerasi ini.

Pisang Biru ini ditilik dari jumlah penduduk berada di peringkat lima besar megalopolis di dunia.

Catatan kakiSunting

  1. ^ "The European Blue Banana". Eu-partner.com. 3 March 2011. Diarsipkan dari versi asli tanggal 6 October 2014. Diakses tanggal 14 September 2013. 
  2. ^ Brunet, Roger (1989). Les villes europeénnes: Rapport pour la DATAR (dalam bahasa French). Montpellier: RECLUS. ISBN 978-2-11-002200-4.