Buka menu utama

Petirtaan Belahan, dikenal juga sebagai Candi Belahan atau Sumber Tetek (Jawa: Sumber Payudara), adalah sebuah pemandian bersejarah yang dibangun pada abad ke-11, pada masa pemerintahan raja Airlangga dari Kerajaan Kahuripan. Petirtaan Belahan terletak di sisi timur Gunung Penanggungan, tepatnya di Dusun Belahan Jowo, Desa Wonosunyo, Kecamatan Gempol, Kabupaten Pasuruan. Pemandian ini berbentuk kolam persegi empat yang mendapat pasokan air dari sebuah sungai kecil. Dinding sebelah barat belakang mengepras lereng gunung penanggungan dengan bentuk relung-relung yang dahulunya berisi arca perwujudan Airlangga sebagai dewa Wishnu. Dengan ukuran panjang 6,14 m dan lebar 6,14 m

Petirtaan Belahan
Candi Belahan
Sumber Tetek
041 Fountain Figures, Candi Belahan (25543837107).jpg
Candi belahan pada tahun 2017
Petirtaan Belahan berlokasi di Jawa
Petirtaan Belahan
Lokasi di Pulau Jawa
Informasi umum
Gaya arsitekturCandi Jawa Timuran
KotaGempol, Pasuruan, Jawa Timur
NegaraIndonesia
Koordinat7°36′27″S 112°39′06″E / 7.607426°S 112.651600°E / -7.607426; 112.651600

Menurut sejarah, selain sebagai tempat pertapaan Prabu Airlangga, petirtaan ini juga di fungsikan sebagai pemandian selir-selir Prabu Airlangga. Oleh karena itu, sebagai bentuk pengabdian dibangunlah 2 patung permaisuri Prabu Airlangga, yaitu Dewi Laksmi dan Dewi Sri. Pada dua patung tersebut, mengalir aliran air dari bentuk payudara patung, dan karenanya petirtaan ini terkadang di sebut sebagai Sumber Tetek.[1]

Pada tahun 991 M, Raja Bali, Udayana, membuat sebuah candi di sebelah barat Gunung Pananggungan, Pasuruan, Jawa Timur. Nama candi itu adalah Petirtaan Jolotundo, dibangun untuk memperingati hari kelahiran anaknya, Airlangga. Pada tahun 1009 M, Airlangga yang sudah dewasa membangun candi yang berdekatan dengan petirtaan tersebut. Warga setempat menyebutnya Candi Belahan, atau Candi Sumber Tetek. Arca keduanya melambangkan kesuburan. Konon, kolam ini adalah tempat mandi para istri dan selir Prabu Airlangga. Bagian puting arca Dewi Laksmi sempat diperbaiki, karena awalnya air yang keluar hanya jatuh di kakinya. Dikhawatirkan hal ini bisa merusak kaki patung, maka pengelola candi berinisiatif untuk memasang pipa di bagian dada tersebut agar airnya langsung meluncur ke kolam.[butuh rujukan]

GaleriSunting

ReferensiSunting