Perjanjian Gencatan Senjata Korea

Perjanjian Gencatan Senjata Korea adalah gencatan senjata yang mengakhiri Perang Korea. Perjanjian ini ditandatangani oleh Letnan Jenderal Angkatan Darat Amerika Serikat William Harrison, Jr. mewakili Komando Perserikatan Bangsa-Bangsa, Jenderal Korea Utara Nam Il mewakili Tentara Rakyat Korea, dan Tentara Sukarelawan Rakyat Tiongkok.[1] Perjanjian gencatan senjata ditandatangani pada tanggal 27 Juli 1953, dan dirancang untuk "memastikan penghentian menyeluruh permusuhan dan segala tindakan pasukan bersenjata di Korea sampai sebuah penyelesaian damai akhir tercapai.[2] Belum ada "penyelesaian damai akhir" yang telah dicapai. Gencatan senjata yang ditandatangani tersebut membentuk Zona Demiliterisasi Korea (sebuah perbatasan baru antara kedua negara secara de facto ), pemberlakuan gencatan senjata, dan pemulangan akhir tawanan perang. Zona Demiliterisasi berada tidak jauh dari paralel 38, yang memisahkan Korea Utara dan Selatan sebelum perang.

Perjanjian Gencatan Senjata Korea
{{{image_alt}}}
Delegasi menandatangani Perjanjian Gencatan Senjata Korea di P’anmunjŏm
Ditandatangani27 Juli 1953
LokasiP’anmunjŏm
Penandatangan William Kelly Harrison, Jr.
Bendera Korea Utara Nam Il
Bendera Republik Rakyat Tiongkok Peng Dehuai
Negara anggota Komando Perserikatan Bangsa-Bangsa
 Korea Utara
 Tiongkok
BahasaInggris, Korea, Mandarin

Latar belakangSunting

Pada pertengahan Desember 1950, Amerika Serikat membahas persyaratan bagi sebuah perjanjian untuk mengakhiri Perang Korea.[3] Perjanjian yang diinginkan akan mengakhiri pertempuran, memberikan jaminan terhadap permulaan kembali, dan melindungi keamanan masa depan pasukan PBB.[4] Amerika Serikat memutuskan perlunya sebuah komisi gencatan senjata militer dari keanggotaan campuran yang akan mengawasi semua perjanjian.[3] Kedua belah pihak perlu untuk menyetujui "pemberhentian masuknya ke Korea semua tambahan kekuatan unit atau personel udara, darat, atau laut...dan untuk mencegah peningkatan tingkat peralatan dan material perang yang ada di Korea."[3] Amerika Serikat juga menginginkan untuk membuat sebuah zona demiliterisasi yang akan memiliki lebar sekitar 20 mil.[3] Perjanjian tersebut akan mengatasi masalah tawanan perang yang Amerika Serikat yakini harus dilakukan pertukaran atas dasar "satu-untuk-satu".[3]

Sementara pembicaraan untuk kemungkinan perjanjian gencatan senjata bergulir, pada akhir Mei dan awal Juni 1951, Presiden Republik Korea (Korea Selatan), Syngman Rhee menentang perundingan damai. Dia percaya Republik Korea harus terus memperbesar jumlah tentaranya untuk melakukan mars sepanjang jalan menuju Sungai Yalu dan mempersatukan negara secara tuntas.[5] PBB tidak mendukung posisi Rhee.[5] Meski tanpa dukungan PBB, Rhee dan pemerintah Korea Selatan melancarkan upaya besar-besaran untuk memobilisasi masyarakat untuk menolak setiap penghentian pertempuran dekat Sungai Yalu.[6] Pejabat Republik Korea lainnya mendukung ambisi Rhee dan Majelis Nasional Republik Korea dengan suara bulat mengeluarkan resolusi mendukung pertempuran lanjutan untuk sebuah "negara merdeka dan bersatu".[6] Namun, pada akhir Juni, Majelis memutuskan untuk mendukung perundingan gencatan senjata,[6] meskipun Presiden Rhee tetap menentangnya.[7]

Seperti halnya Syngman Rhee, pemimpin Korea Utara Kim Il-sung juga mencari unifikasi menyeluruh. Pihak Korea Utara lambat untuk mendukung perundingan gencatan senjata dan baru pada tanggal 27 Juni 1951  – tujuh belas hari setelah perundingan gencatan senjata dimulai – melakukan perubahan slogannya dari "mendorong musuh ke laut" menjadi "mendorong musuh ke paralel 38."[8] Korea Utara ditekan untuk mendukung perundingan gencatan senjata oleh sekutunya, Tiongkok dan Uni Soviet, dimana dengan dukungan mereka memungkinkan Korea Utara untuk terus bertempur.

ReferensiSunting

  1. ^ "Document for July 27th: Armistce Agreement for the Restoration of the South Korean State". Diakses tanggal 2012-12-13. 
  2. ^ "Korean War Armistice Agreement", FindLaw, July 27, 1953
  3. ^ a b c d e Stueck 1995, hlm. 212.
  4. ^ Stueck 1995, hlm. 211.
  5. ^ a b Stueck 1995, hlm. 214.
  6. ^ a b c Stueck 1995, hlm. 215.
  7. ^ "Allies Ready to Sign Armistice Without Syngman Rhee". Spokane Daily Chronicle. Associated Press. 1 July 1953. Diakses tanggal 26 January 2014. 
  8. ^ Stueck 1995, hlm. 216.

BibliografiSunting

  • Agov, Avram (2013). "North Korea's Alliances and the Unfinished Korean War" (PDF). The Journal of Korean Studies. Lanham: Rowman & Littlefield: 225–262. 
  • Catchpole, Brian (2000), The Korean War, London: Constance & Roninson, ISBN 1-84119-413-1 
  • Mount, Graeme S; Laferriere, André (April 1, 2004), The Diplomacy of War: The Case of Korea, Black Rose Books, ISBN 978-1-55164239-0 .
  • Stokesbury, James L (August 1988), A Short History of the Korean War (edisi ke-1st), William Morrow & Co, ISBN 978-0-68806377-1 .
  • Stueck, William Whitney (1995), The Korean War: An International History, Princeton: Princeton University Press, ISBN 0-69103767-1 .
  • Watry, David M. Diplomacy at the Brink: Eisenhower, Churchill, and Eden in the Cold War. Baton Rouge: Louisiana State University Press, 2014.