Pandu Kartawiguna

Pandu Kartawiguna adalah pejuang Angkatan 1945, salah satu Tokoh Pers Indonesia yang mempelopori berdirinya Lembaga Kantor Berita Nasional Antara pada 1937 berkantor di JI. Pinangsia 38 Jakarta Kota. Dengan modal satu meja tulis tua, satu mesin tulis tua, dan satu mesin roneo tua, mereka menyuplai berita ke berbagai surat kabar nasional.[1][2][3][4]

Pada fragmen genting menjelang revolusi 17 Agustus 1945, Pandu menggebrak meja dan marah-marah mendengar Sutan Sjahrir yang ragu ketika didaulat untuk menjadi proklamator kemerdekaan Indonesia setelah sebelumnya para pemuda-pemuda pergerakan bawah tanah sudah menyusun Proklamasi alih-alih mencegah dugaan ''Proklamasi buatan Djepang'' dan bersepakat Sjahrir yang akan memimpin perjuangan, karena Sjahrir dianggap bersih dari tuduhan isu kolaborator dengan Jepang. Adam Malik ketawa dan ia paham dengan jalan pikiran Sjahrir, Chaerul Saleh idem dengan Adam Malik.[5]

KarierSunting

  • Pemimpin Umum Lembaga Kantor Berita Antara.[1]

ReferensiSunting

  • Shahab, Alwi. (2006). Cerita-cerita Betawi: Maria van Engels menantu Habib Kwitang. Penerbit Republika. ISBN 979-3210-72-9.

ReferensiSunting

  1. ^ a b Alwi Shahab (Juni 2006). "Cerita-cerita Betawi : Maria van Engels menantu Habib Kwitang.". Penerbit Republika. 
  2. ^ Alwi Shahab (12 Maret 2006). "Badan Pendukung Sukarnoisme". Blog Alwi Shahab. Diakses tanggal 26 Juli 2015. 
  3. ^ Universitas Pancasila (19 Juni). "Biografi Adam Malik". Univpancasila.ac.id. Diakses tanggal 28 Juli 2015. 
  4. ^ Andi Saiful Haq (22 Februari 2007). "The last Mohican, Tentang Syamsir Muhammad, Angkatan 45: Tiga orde Tiga penindasan". Saifulhaq.com. Diarsipkan dari versi asli tanggal 2013-08-07. Diakses tanggal 28 Juli 2015. 
  5. ^ adilhamzah60. "Cerita di balik proklamasi". Pulsk.com. Diakses tanggal 28 Juli 2015.