Buka menu utama

La Pangewa adalah Raja Pagatan I yang memerintah tahun 1755-1800 (1761-1838[1]) di Kerajaan Pagatan. Meninggal tahun 1838 dan digantikan oleh putranya Abdurrahim (La Palebbi).[1] Ia adalah cucu dari Puanna Dekke', seorang bugis dari tanah Wajo, Sulawesi Selatan, yang merintis terbukanya wilayah tanah Pagatan yang ada sekarang.[2]

Daftar isi

BiografiSunting

La Pangewa (atau Petta Coa, atau Hasan Pangewa), yang diberi gelar Kapitan Laut Pulo oleh Sunan Nata Alam yang bergelar Panembahan Batuah, adalah Raja Pagatan pertama yang memerintah Kerajaan Pagatan tahun 1755-1800.[3][4]

Bermula dari sejarah terbentuknya kota Pagatan oleh Puanna Dekke' pada tahun 1750 yang telah mendapat izin dari Sultan Banjar, Sunan Nata Alam. Tak lama berselang, Puanna Dekke' menjemput La Pangewa yang saat itu merupakan seorang bangsawan bugis dari tanah Wajo ke Pagatan.

Sebagai wilayah bagian dari Kesultanan Banjar, Pagatan turut membantu dalam pertikaian politik kerajaan melawan Sultan Amir bin Sultan Muhammadillah (keturunan Sultan Kuning) yang ingin menuntut tahta Kesultanan Banjar. Atas keberhasilan mengusir Sultan Amir dari Tanah Kusan, La Pangewa, sebagai pemimpin Bugis Pagatan saat itu, akhirnya dilantik Sultan Banjar sebagai kapitan (raja) Pagatan.

Setelah pengangkatannya menjadi Kapiitan Laut Pulo dan Raja Pagatan pertama, La Pangewa memainkan peranan penting dalam menjaga wilayah-wilayah Tanah Bumbu dan perairan Kalimantan bagian tenggara dari perompak.[1]

Versi LainnyaSunting

Menurut sumber lain dikatakan bahwa Puanna Dekke' dan saudaranya dari Pontianak, Pua Janggo, (dan La Pagala dari Kalimantan Barat[1]) berunding dan sepakat untuk menjemput "cucunya" yang bernama La Pangewa yang merupakan turunan anak Raja dari Tanah Bugis (Kampiri, Wajo)[5] dan dibawa ke Pagatan. Setelah berada di Pagatan barulah cucunya tersebut dikhitan, dikawinkan dan selanjutnya dinobatkan menjadi Raja Pegatang (Pagatan) pertama.[6][1] Karena masih belia, pemerintahan untuk sementara dipercayakan kepada pamannya Raja Balo, sambil mendidik dan membimbing La Pangewa untuk menjadi pemimpin dan mengatur pemerintahan setelah dewasa.[1]

Sumber lain juga mengatakan - Pada masa itu, Pangeran Muhammad Aminullah Ratu Anum Bin Sultan Kuning atau lebih dikenal dengan nama Pangeran Anom memblokade (mengganggu arus lalu lintas) Muara Banjarmasin yang menghalang-halangi dan menahan perahu-perahu pedagang yang masuk ke Banjarmasin. Puanna Dekke' segera memerintahkan cucunya La Pangewa menemui Panembahan di Banjarmasin. Setiba di Banjarmasin, La Pangewa diberi tugas untuk menggempur Pangeran Anom hingga Pangeran Anom beserta pengikutnya mengundurkan diri ke Kuala Biyajo (Kuala Kapuas). Sedangkan La Pangewa masuk kembali ke Banjarmasin menemui Panembahan dan melaporkan hasil tugasnya. Atas keberhasilan La Pangewa, ia diberi Gelar Kapiten Laut Pulo (Pulau Laut) oleh Panembahan. Tindakan ini semakin memperkokoh kedudukan La Pangewa atas tanah Pagatan yang diserahkan sepenuhnya oleh Panembahan.[5]

KeluargaSunting

Kakek La Pangewa adalah Puanna Dekke' [2][5][6], sementara sumber lain mengatakan ia adalah ayah La Pangewa.[7] Ibunya bernama Arung Kampare (Petta Palaka).[8]. Istrinya bernama I Walena Petta Coa,[9][5] atau I Wale' Petta Coa.[1] Anak-anak La Pangewa bernama La Palebbi[10], La Paliweng[11], dan Besse'[1]

Lihat jugaSunting

ReferensiSunting