Buka menu utama

Credo Sirmium I adalah salah satu rumusan iman yang diakui oleh Gereja Katolik dan golongan Semi Arian. Dalam koleksi dokumen Gereja Katolik, oleh Schonmetzer, Credo Sirmium I dimasukkan ke dalam Enchiridion Symbolorum (DS 139 – 140) karya H. J. D. Denzinger. Salinan Credo Sirmium I yang dikenal saat ini umumnya berasal dari De Synodis, karya St. Athanasius, Patriarkh Aleksandria.

PenggunaanSunting

Credo Sirmium I disusun oleh para bapa Konsili Sirmium II (tahun 351) untuk melawan beberapa ajaran sesat yang tampaknya diajarkan oleh Marcellus, Uskup Ancyra dan muridnya yaitu Photinus, Uskup Sirmium. Secara umum, Marcellus berjuang membela ajaran orthodoks yang digariskan oleh Konsili Nicaea I. Namun menurut para musuhnya, Marcellus kemudian berkecenderungan untuk menyederhanakan ajaran Gereja dengan pernyataan yang berbau Sabellian. Sedangkan Photinus berkecenderungan untuk mengajarkan bahwa Kristus hanyalah manusia, bukan Putra Allah.

Asal usulSunting

Karena ajarannya yang dianggap berbau Sabellian, pada tahun 335 Marcellus disingkirkan dari keuskupannya oleh para pengikut Eusebius dari Caesarea. Posisinya sebagai Uskup Ancyra kemudian ditempati oleh Basilus. Pada tahun 351 para uskup Timur berkumpul dalam sebuah konsili di Sirmium untuk melawan Photinus. Konsili ini kemudian dikenal sebagai Konsili Sirmium II. Basilus – yang adalah musuh Marcellus – memimpin para uskup untuk melawan Photinus yang menyebarkan ajaran yang tidak kurang parah dari ajaran gurunya. Pada akhirnya dalam konsili ini Photinus disingkirkan, dan posisinya sebagai Uskup Sirmium diserahkan kepada Germinius, seorang penganut ajaran Arian. Kemudian konsili menyusun sebuah credo, yang mengambil jalan tengah antara Homoeusian dan Homoean.

Credo Sirmium I merupakan Credo Antiokhia IV yang dibawa ke Konsili Sirmium II dan diperpanjang dengan kutukan-kutukan pada bagian akhirnya. Kerangka Credo Sirmium I sendiri kemungkinan disusun oleh para uskup yang hadir atau oleh Basilus dari Ancyra atau oleh Markus dari Arethusa.

Perdebatan mengenai Paus LiberiusSunting

Pada tahun 356 Kaisar Konstantius II (yang menganut ajaran Arian) mengasingkan Paus Liberius dari Roma ke Boeroea di Trachia karena paus menolak untuk mengutuk St. Athanasius yang membela ajaran Konsili Nicaea I bahwa Putra sehakikat dengan Bapa. Tetapi kemudian, dalam pengasingannya dan di bawah ancaman penyiksaaan dari pihak kaisar, paus menandatangani salah satu dari tiga Credo Sirmium. Ketiga Credo Sirmium tersebut ditolak oleh para bapa yang membela ajaran Konsili Nicaea I dan St. Athanasius. Pada tahun 357 (menurut keterangan Baronius, Coustant, dan Zaccaria) atau tahun 358 (menurut keterangan Natalis Alexander dan Mansi) Paus Liberius menandatangai Credo Sirmium I yang bersifat Semi Arian dan sebuah pernyataan yang mengutuk St. Athanasius. Sedangkan menurut keterangan Petavius dan Montfoucon, pada tahun 357 Paus Liberius menandatangani Credo Sirmium II yang jelas bersifat Arian. Dan menurut Valesius, Pagi, dan Basnage, pada tahun 358 Paus Liberius menandatangai Credo Sirmium III yang bersifat Semi Arian.

Menurut pihak yang menyangkal kekebalsesatan paus (infallibilitas paus), saat dimana Paus Liberius menandatangani salah satu Credo Sirmium adalah contoh historis bahwa paus bisa salah dalam hal iman. Seperti telah diuraikan sebelumnya, Credo Sirmium I dan Credo Sirmium III bersifat Semi Arian, sedangkan Credo Sirmium II bersifat Arian. Dengan menandatangani credo yang bersifat Semi Arian (ataupun Arian) maka paus telah menolak Credo Nicaea dan menyatakan ajaran Semi Arian (ataupun Arian) sebagai ajaran yang benar. Selain itu, dengan mengutuk St. Athanasius yang adalah pembela ajaran Konsili Nicaea I, secara tidak langsung paus telah mengutuk ajaran Konsili Nicaea I.

Tetapi menurut pihak yang menerima kekebalsesatan paus, dalam pertikaian Arian tersebut Paus Liberius tetap tidak jatuh dalam kesesatan karena:

  1. Dari antara para sejarawan di atas, hanya dua orang yang menyebutkan bahwa Paus Liberius menandatangani Credo Sirmium II. Oleh karena itu dapat disimpulkan bahwa paus menandatangani Credo Sirmium I atau Credo Sirmium III. Kedua credo ini – walaupun tidak bersifat anti Arian tetapi juga – tidak bersifat anti Katolik.
  2. Pernyataan kekebalsesatan paus tidak meliputi masalah St. Athanasius. Kaisar pribadi (dan banyak orang lain) ingin menyingkirkan St. Athanasius karena dia dianggap telah merusak perdamaian dalam kekaisaran, dengan melawan para uskup yang tidak mengakui bahwa Putra sehakikat dengan Bapa. Kekebalsesatan paus merupakan masalah iman dan susila, dan tidak melibatkan masalah pribadi perorangan.
  3. Paus menandatangani salah satu Credo Sirmium dalam posisi tertekan dari pihak kaisar. Di kemudian hari, contoh inilah yang dapat digunakan untuk menjawab pertanyaan mengapa paus harus menjadi seorang raja yang berdaulat dan memiliki tentara sendiri.
  4. Walaupun St. Athanasius sampai menulis “Liberius, dalam pengasingan selama dua tahun, dan karena takut akan kematian yang selalu mengancamnya, akhirnya menandatangani”, dia tidak pernah menyebutkan bahwa paus telah jatuh dalam kesesatan. Kata menandatangani dalam kalimat tersebut maksudnya adalah menandatangani pengutukan St. Atanasius.
  5. Bahkan jika Paus Liberius berdampingan dengan penganut ajaran sesat, mengutuk St. Athanasius, atau menyangkal Putra Allah, maka hal itu merupakan kelemahan manusia yang sementara dan tidak ada hubungannya dengan kepausan. Paus Liberius akan mirip dengan St. Petrus, Pangeran Para Rasul (dan paus pertama) yang sampai tiga kali menyangkal Yesus (Matius 26: 69 – 75; Markus 14: 66 – 72; Lukas 22: 54 – 62; Yohanes 18: 17 – 18, 25 – 27).

Lihat pulaSunting

Pranala luarSunting