Buka menu utama

Krama Inggil merupakan etiket untuk bahasa Jawa yang sopan jika dipergunakan dalam percakapan sehari-hari,[1][2] secara khusus terhadap orang yang lebih tua. Sementara kebalikan dari Krama Inggil adalah ngoko atau basa ngoko.[3][4][5] Saat ini Krama inggil sudah jarang diucapkan oleh penduduk di wilayah Jawa, karena dianggap memelihara budaya feodalisme dan tidak sesuai lagi dengan perkembangan zaman.[butuh rujukan]

Contoh dan perbandinganSunting

  • Ngoko: Aku arep mangan. ("Aku mau makan.")
  • Madyå: Kula ajeng nedha.
  • Krama:
    • (Biasa) Kula badhé nadhi.
    • (Halus) Dalem badhé nedhi.

ReferensiSunting

  1. ^ M. Suryadi. "Use of term". Universitas Sebelas Maret. hlm. 11. ISSN 1948-5425. Diakses tanggal 10 Februari 2015. 
  2. ^ Stuart O. Robson. "Speaking to God In Javanese". Diakses tanggal 10 Februari 2015. 
  3. ^ "Seasite". Diakses tanggal 10 Februari 2015. 
  4. ^ "Guide Card". Diakses tanggal 10 Februari 2015. 
  5. ^ Wolff, John U.; Soepomo Poedjosoedarmo (1982). Communicative Codes in Central Java. Cornell Southeast Asia Program. hlm. 4. ISBN 0-87727-116-X.