Buka menu utama

Ki Ageng Kutu adalah salah seorang tokoh yang ada dalam kisah berdirinya wilayah Ponorogo. Dalam hal ini dia adalah salah satu penguasa di daerah Wengker yang bertindak sewenang-wenang kepada masyarakat yang dipimpinnya.

Ki Ageng Kutu memiliki nama lain Ki Demang Suryongalam. Ki Demang Suryongalam adalah kerabat Prabu Brawijaya V yang berkuasa atas daerah Wengker.[1] Ketika Prabu Brawijaya menobatkan Raden Patah sebagai pemimpin daerah Demak, Ki Ageng Kutu merasa kecewa karena dia merasa seharusnya dirinyalah yang lebih pantas untuk menyandang jabatan tersebut. Karenanya ketika terjadi peperangan di Majapahit, Ki Ageng Kutu memilih untuk pergi dan pada akhirnya mendirikan padepokan di daerahnya, Wengker. Daerah kekuasaannya di masa lalu, kademangan Suru Kubeng, sekarang menjadi nama sebuah desa yaitu Desa Kutu, Kecamatan Jetis, Ponorogo. Ki Ageng Kutu adalah seseorang ahli sihir. Dia sakti dan berilmu tinggi. Bahkan dia memiliki dua buah keris yang menjadi andalannya, yaitu Kyai Jabadras dan Kyai Condong Rawe.

Di daerah pelariannya, yaitu Wengker, Ki Ageng Kutu cukup sukses untuk membangun sebuah daerah kekuasaan. Karena hal inilah dianggap sebagai ancaman bagi Raden Patah yang kemudian mengutus Raden Batoro Katong dan para pengawalnya untuk membentuk sebuah daerah kekuasaan di daerah Wengker.

Pada zaman dahulu masyarakat di daerah itu tidak percaya akan ada Sang Hyang Tunggal. Hal ini diakibatkan karena adanya ulah dari Ki Ageng Kutu.[2] Melalui padepokannya dia mendidik putra-putri daerah dengan berbagai macam ilmu, di antaranya ilmu kanuragan, filsafat, dan seni. Salah satu sumber menyebutkan bahwa Reog adalah ciptaan dari Ki Ageng Kutu.[3] Namun sebenarnya awalnya kesenian ini dibuat sebagai kritik atas Prabu Brawijaya yang ditundukkan oleh rayuan wanita. Karena kesenian yang diciptakannya melambangkan sebuah seni barongan yang menampilkan sosok kepala harimau sebagai simbol raja Majapahit yang ditunggangi merak sebagai simbol putri Campa.

Ki Ageng Kutu memiliki tiga orang anak, yaitu Niken Gandini yang nantinya akan menjadi istri dari Raden Batoro Katong. Kedua anak lainnya adalah Suryodono dan Suryodoko yang nantinya juga akan menjadi pengikut dari Raden Batoro Katong sepeninggal ayahnya. Suryodono menjadi pengawal pribadi Raden Batoro Katong dan berganti nama menjadi Suromenggolo. Suryodoko menggantikan ayahnya memimpin Suru Kubeng dan dikenal dengan nama Surohandoko.

Perseteruan dengan Batoro KatongSunting

Setiba di Wengker terjadi pertarungan tak terelakkan di antara Raden Batoro Katong dan Ki Ageng Kutu. Namun berakhir seri karena keduanya memiliki kesaktian yang sebanding. Hingga pada akhirnya Raden Batoro Katong mencari taktik lain. Ketika Ponorogo telah berdiri di bawah pimpinan Raden Batoro Katong, Ki Ageng Kutu dan para bekel (pimpinan desa)merasa tidak senang. Sehingga mereka melakukan perlawanan terhadap kekuasaan Raden Batoro Katong. Terlebih karena perbedaan keyakinan yang dibawa oleh Raden Batoro Katong, kebanyakan dari mereka beragama Buddha dan Brahma.[3] Golongan ini melakukan banyak hal untuk menyulitkan pemerintahan dan penguasa yang ada. Bahkan tak jarang melakukan penyerangan dan pemberontakan terhadap pemerintah. Akhirnya dengan taktik yang dilakukan oleh Batoro Katong melalui Nawangsari yang menjadi mata-mata. Namun di lain sisi, Raden Batoro Katong mendekati dan menikahi anak gadis Ki Ageng Kutu yaitu Niken Gandini untuk bisa mengambil pusaka Ki Ageng Kutu. Ki Ageng Kutu mampu ditaklukkan berkat hilangnya pusaka yang dimiliki olehnya. Ki Ageng Kutu kalah dan menghilang pada Jumat Wage. Tempat menghilangnya Ki Ageng Kutu ini disebut Gunung Bacin yang terletak di daerah Kecamatan Bungkal.

Warga merasa marah kepada Raden Batoro Katong karena dianggap telah membunuh Ki Ageng Kutu. Untuk meredam ini, Raden Katong mengaku kepada warga bahwa Ki Ageng Kutu mengalami moksa. Selain itu Raden Batoro Katong mengaku bahwa dia adalah manusia setengah dewa. Sehingga inilah asal mula dia memiliki 'batoro' di tengah namanya yang melambangkan sifat kedewaannya.

Catatan kakiSunting

  1. ^ Fikriono, Muhaji (2012-07-01). Puncak Makrifat Jawa: Pengembaraan Batin Ki Ageng Suryomentaram (dalam bahasa Inggris). NouraBooks. ISBN 9786029498608. 
  2. ^ Rama, Ageng Pangestu (2007). Kebudayaan Jawa: ragam kehidupan kraton dan masyarakat di Jawa, 1222-1998. Cahaya Ningrat. ISBN 9789799998651. 
  3. ^ a b Suromenggolo Warok Ponorogo Jilid 1. Penerbit Indomedia.