Jidat hitam

Zebibah (Arab زبيبة zabība, "kismis"), juga disebut sebagai zabiba atau zebiba, atau jidat hitam, adalah sebuah tanda di dahi beberapa Muslim, karena gesekan yang dihasilkan oleh kontak berulang dari dahi dengan sajadah saat salat. Beberapa Muslim menganggap keberadaan jidat hitam merupakan tanda dedikasi religius dan kesalehan.[1]

Seorang haji dengan jidat hitam difoto di luar Masjid al-Haram.

Didalam ajaran Islam mengharuskan pengikutnya untuk salat lima kali sehari (dikenal sebagai salat lima waktu), yang melibatkan praktik untuk berlutut di atas sajadah dan menyentuh tanah dengan dahi seseorang ketika sujud. Ketika dilakukan dengan teguh dan terus menerus untuk jangka waktu yang lama, jidat hitam dapat berkembang. Sebagian Muslim menganggap kehadiran jidat hitam di dahi seorang mukmin adalah sebagai tanda dedikasi terhadap agama dan kesalehan.[1] Ada umat Islam di Mesir yang percaya bahwa pada hari kiamat, jidat hitam ini terutama akan memancarkan cahaya.[2]

Referensi dalam beberapa literaturSunting

Paulus Theroux menyebutkan didalam bukunya berurusan dengan seorang pejabat Sudan dengan jidat hitam dalam bukunya Dark Star Safari.

Dalam novel Salman Rushdie, Shame, yang berlatar belakang di Pakistan, jidat hitam ini disebut sebagai "gatta, memar dari pengabdian" ditemukan di dahi beberapa karakter muslim yang saleh.

ReferensiSunting

  1. ^ a b Michael Slackman (December 18, 2007). "Fashion and Faith Meet, on Foreheads of the Pious" (dalam bahasa Inggris). New York Times. Diakses tanggal 2011-01-10. 
  2. ^ Magdi Abdelhadi (23 June 2008). "Signs of division on Egypt's brow" (dalam bahasa Inggris). BBC News. Diakses tanggal 2011-01-10. 

Pranala luarSunting