Simpang Susun Semanggi

simpang susun jalan di Indonesia
(Dialihkan dari Jembatan Semanggi)

Simpang Susun Semanggi atau lebih dikenal dengan nama Jembatan Semanggi adalah simpang susun yang berbentuk daun semanggi yang berada di persimpangan antara Jalan Sudirman dan Jalan Gatot Subroto.[1] Jembatan ini dinamakan "Semanggi" karena bentuknya yang menyerupai daun semanggi dan juga wilayah pembangunannya dahulu merupakan daerah rawa yang dipenuhi semanggi.[1] Proyek ini mulai dibangun pada tahun 1961, pada masa pemerintahan Soekarno dan , Menteri Pekerjaan Umum pada saat itu, yakni Ir. Sutami.[1]

Simpang Susun Semanggi
Jembatan Semanggi
Semanggi roundabout, Sekilas Lintas Kepolisian Republik Indonesia, p38.jpg
Simpang Susun Semanggi pada tahun 1976
Lokasi
Jakarta, Indonesia
Koordinat6°13′11″S 106°48′52″E / 6.219754°S 106.814478°E / -6.219754; 106.814478Koordinat: 6°13′11″S 106°48′52″E / 6.219754°S 106.814478°E / -6.219754; 106.814478
Jalan yang
bersimpangan
Pembangunan
JenisPersimpangan daun semanggi
Dibuka1962 (1962)
PengelolaDinas Binamarga Provinsi DKI Jakarta

Pada tahun 2016, dua jembatan layang persimpangan tambahan yang merupakan hasil rancangan Jodi Firmansyah dibangun. Dua jembatan layang tambahan tersebut memiliki panjang 796 meter yang menghubungkan arus lalu lintas dari arah Grogol menuju ke Senayan dan dari arah Cawang menuju ke Jalan Sudirman, sehingga jika dilihat dari atas, maka akan membentuk lingkaran. Pembangunan dua jembatan layang baru tersebut diresmikan oleh Presiden Joko Widodo pada tanggal 17 Agustus 2017, bertepatan pada HUT ke-72 Proklamasi Kemerdekaan RI.[2]

SejarahSunting

1960-anSunting

Kawasan Simpang Susun Semanggi sebelumnya merupakan daerah rawa-rawa yang dipenuhi oleh pohon semanggi. Sejak awal 1960-an, sejalan dengan persiapan penyelenggaraan Pesta Olahraga Asia 1962 dan visi Soekarno untuk menjadikan Jakarta sebagai "mercusuar" dari bangsa Indonesia sebagai sebuah bangsa yang baru dan kuat, maka dibangunlah Jalan Jendral Sudirman yang menghubungkan kawasan Medan Merdeka dengan kawasan Kebayoran Baru sebagai kota mandiri modern pertama di Indonesia. Selain Jalan Sudirman, Jalan Gatot Subroto juga dibangun untuk menghubungkan kawasan Cawang di sebelah timur dengan Grogol di sebelah Barat.

Agar arus lalu lintas di persimpangan Jalan Sudirman dan Gatot Subroto dapat ditampung dengan baik, maka dibangunlah sebuah simpang susun yang berbentuk daun semanggi, sesuai dengan kondisi kawasan persimpangan yang sebelumnya merupakan rawa-rawa yang ditumbuhi pohon semanggi. Pembangunan simpang susun tersebut selesai dan diresmikan pada tahun 1962, dan dikenal oleh hampir seluruh masyarakat Jakarta sebagai "Jembatan Semanggi"

1980-an hingga 1990-anSunting

Pada tahun 1980-an hingga 1990-an, Jembatan Semanggi telah mengalami dua kali modifikasi untuk menampung arus lalu lintas yang semakin padat. Modifikasi yang pertama adalah pembangunan struktur jembatan baru yang digunakan untuk arus lalu lintas Jalan Gatot Subroto, menggantikan struktur jembatan eksisting yang di alih fungsi menjadi jalan utama (Main Road) Jalan Tol Lingkar Dalam Jakarta ruas Cawang-Grogol. Modifikasi yang kedua adalah mengubah dua saluran air yang melewati taman ditengah Jembatan Semanggi menjadi jalan kecil satu arah. Masing-masing satu arah dari Monas menuju Senayan dan arah sebaliknya. Pembangunan dua jalan kecil satu arah tersebut diperuntukan untuk sepeda motor, karena sejak itu sepeda motor dari arah Monas menuju Senayan dan sebaliknya tidak diperbolehkan langsung lurus, sehingga harus melewati dua jalan kecil satu arah yang melewati taman di bagian tengah Jembatan Semanggi.[butuh rujukan]

2016-sekarangSunting

Pada Agustus 2016, Gubernur DKI Jakarta pada saat itu, Basuki Tjahaja Purnama mencanangkan proyek "Revitalisasi Jembatan Semanggi". Proyek tersebut merupakan modifikasi ketiga dari Jembatan Semanggi setelah modifikasi pertama dan kedua pada tahun 1980-an hingga 1990-an. Modifikasi tersebut adalah pembangunan dua jembatan layang atau ramp baru yang membentuk lingkaran. Dua ramp tersebut adalah dari arah Cawang menuju ke arah Bundaran HI dan dari arah Grogol menuju Senayan dan Kebayoran Baru. Pembangunan dua jembatan layang baru tersebut mulai dibangun pada tahun 2016 dan selesai sekitar tahun 2017[butuh rujukan], dengan menghabiskan anggaran sebesar Rp360 miliar, dibiayai dari dana kompensasi atas kelebihan koefisien luas bangunan (KLB) dari PT Mitra Panca Persada, salah satu anak perusahaan asal Jepang, Mori Building Company.[3][4][5] Pembangunan dua ramp baru tersebut selesai pada tahun 2017 dan diresmikan oleh Presiden Joko Widodo pada tanggal 17 Agustus 2017, bertepatan pada HUT ke-72 Proklamasi Kemerdekaan RI.[2] Sejak itulah, istilah Simpang Susun Semanggi mulai digunakan.

Pada tahun 2019, seiring dengan proyek revitalisasi trotoar di sepanjang Jalan Jendral Sudirman, dibangun sebuah spot budaya di kolong Simpang Susun Semanggi, tepatnya di area jalan kecil yang merupakan hasil modifikasi kedua pada tahun 1990-an.

FilosofiSunting

 
Penampakan Simpang Susun Semanggi pada malam hari (2012)

Bentuk daun semanggi dipilih oleh Soekarno karena dianggap sebagai simbol persatuan bangsa. Empat bagian daun menyerupai suku-suku yang ada di Indonesia, kemudian disatukan menjadi satu kesatuan daun yang utuh. Daun semanggi juga diibaratkan “suh” atau pengikat sapu lidi. Batang lidi yang disatukan oleh “suh” akan menjadi kokoh.[6]

AlurSunting

Simpang Susun Semanggi terdiri dari sepuluh ramp, terdiri dari delapan ramp eksisting dan dua ramp tambahan. Delapan ramp eksisiting tersebut terdiri dari empat ramp lurus dan empat ramp melengkung yang membentuk daun semanggi. Empat garis tersebut menghubungkan:

  • Dari arah Senayan/Kebayoran Baru menuju Grogol
  • Dari arah Grogol menuju Bundaran HI/Monas
  • Dari arah Bundaran HI/Monas menuju Cawang
  • Dari arah Cawang menuju Senayan/Kebayoran Baru

Selain garis lurus, terdapat empat ramp lainnya yang membentuk daun semanggi, yakni:

  • Dari arah Cawang menuju ke Bundaran HI/Monas
  • Dari arah Bundaran HI/Monas menuju Grogol
  • Dari arah Senayan/Kebayoran Baru menuju Cawang
  • Dari arah Grogol menuju Senayan/Kebayoran Baru

Sementara dua ramp tambahan menghubungkan dari arah Cawang menuju Bundaran HI/Monas dan dari arah Tomang Grogol menuju Senayan/Kebayoran Baru, sehingga empat ramp eksisting yang membentuk daun Semanggi hanya dapat digunakan untuk kendaraan berputar dari arah Slipi/Grogol kembali ke arah Slipi/Grogol dan dari arah Cawang kembali ke Cawang serta gerakan belok kanan dari Senayan/Kebayoran Baru menuju Cawang dan dari Bundaran HI/Monas menuju Slipi-Tomang.

Lihat pulaSunting

ReferensiSunting

  1. ^ a b c Liputan6.com. "Sejarah Jembatan Semanggi, Buah Pemikiran Filosofis Sukarno". liputan6.com. Diakses tanggal 2017-08-16. 
  2. ^ a b Nasional Kompas: Resmikan Simpang Susun Semanggi, Jokowi Puji Ahok-Djarot diakses 18 Agustus 2017
  3. ^ Prastiwi, Devira. "Ini Alur Laju Kendaraan di Simpang Susun Semanggi". liputan6.com. Diakses tanggal 30 Juli 2017. 
  4. ^ Prastiwi, Devira. "Djarot: Simpang Susun Semanggi Mahal Pernah Bikin Ahok Marah". liputan6.com. Diakses tanggal 30 Juli 2017. 
  5. ^ Olyvia, Filani. "Djarot: Jangan Selfie di Simpang Susun Semanggi". CNN Indonesia. Diakses tanggal 30 Juli 2017. 
  6. ^ Liputan6.com. "Sejarah Jembatan Semanggi, Buah Pemikiran Filosofis Sukarno". liputan6.com. Diakses tanggal 2017-08-16.