Jaap Kunst

Jaap Kunst lahir di Belanda pada tanggal 12 Agustus 1891 di Groningen, memiliki ayah seorang kritikus musik yang mahir dalam bermain piano, menjadikan Kunst yang memiliki perhatian lebih pada seni musik. Saat menjalani kuliah di bidang hukum, Jaap Kunst bergabung dengan Groningen Symphony Orchestra selama enam bulan dan mulai tertarik melakukan riset terhadap seni musik lokal seperti lagu-lagu rakyat dari Terschelling.

KarierSunting

Setelah lulus dan berhasil meraih gelar sarjana hukum dari Universitas Groningen pada tahun 1917, ia bekerja pada salah satu cabang Amsterdam Bank di Utrecht, tetapi hanya bertahan tiga bulan. Selanjutnya selama setahun ia bekerja di kantor wali kota Amsterdam pada Departemen Pendidikan. Pada tahun 1919, Kunst bersama dengan kedua rekannya memutuskan untuk meninggalkan Belanda dan berkarier sebagai musisi di Hindia Belanda (Indonesia). Rangkaian pertunjukan musik yang ditampilkan Kunst di berbagai wilayah Indonesia, kemudian menggiringnya untuk menekuni musik rakyat Indonesia.

Dalam perjalanan kariernya di bidang musik, Jaap Kunst juga berperan dalam menyunting beberapa folklor beserta musik Belanda yang berjudul Terschellinger Voksleven dan Noord Nederlandse Volkliederen en Dansen. Pada saat meneliti seni musik di beberapa wilayah di Indonesia, Jaap Kunst kemudian berhasil membukukan beberapa karya dan berbagai macam dokumentasi seperti foto serta rekaman suara gamelan dalam bentuk wax cylinder (silinder lilin). Beberapa judul buku mengenai musik di Indonesia yang berhasil ditulis antara lain De Toonkunst van Bali (1925), Hindoe-Javaanse Muziekinstrumenten (1927), A Study of Papuan Music,De Toonkunst van Java atau Music in Java yang diterbitkan dalam 2 jilid, Music in Nias, Music in Flores, Muziec en de Zending dan seterusnya. Pada tahun 1932 Kunst tinggal di Batavia dan menjadi kurator tidak resmi di Koninklijk Bataviaasch Genootschap van Kunsten en Wetenschappen (kini Museum Nasional). Kunst banyak bekerja di rumahnya di Jalan Jalan Kebon Sirih No. 14, tempat ia menyimpan ribuan koleksi alat musik yang dikumpulkannya selama perjalanan ke daerah-daerah serta rekaman, foto dan film yang dijadikan bahan risetnya. Dalam proses risetnya, Kunst juga berkorespondensi dengan banyak pihak antara lain Mangkunegoro VII, C.C.F.M le Roux, Heinz Noah, Van der Hoop, Hoesein Djadjadiningrat, Karl Halusa, Claire Holt dan F.D. K. Bosch. Surat korespondesi Jaap Kunst tersebut masih tersimpan rapi di Perpustakaan Universitas Amsterdam.[1]

Kontribusi dan komitmen Kunst dalam bidang musik, diakui oleh pemerintah Belanda dengan memberikannya hak sebagai ahli musik. Pengakuan tersebut kemudian mendorong Kunst untuk lebih banyak membuat berbagai jenis dokumentasi musik di hampir seluruh wilayah Indonesia.Kunst kembali ke Belanda setelah Indonesia merdeka dan menjalani kariernya dari seorang peneliti menjadi seorang dosen etnomusikologi di Universitas Amsterdam dan juga dosen tamu di beberapa universitas di dunia.[2]

ReferensiSunting


  1. ^ Admin. "Melacak Jejak Jaap Kunst | Museum Nasional Indonesia". Diakses tanggal 2019-09-07. 
  2. ^ Yayasan Untuk Indonesia.; Jakarta Raya (Indonesia). Dinas Kebudayaan dan Permuseuman. (2005). Ensiklopedi Jakarta : culture & heritage = budaya & warisan sejarah. [Jakarta]: Pemerintah Provinsi Daerah Khusus Ibukota Jakarta, Dinas Kebudayaan dan Permuseuman. ISBN 9798682491. OCLC 70850252.