Suku Tengger: Perbedaan revisi

4 bita ditambahkan ,  2 tahun yang lalu
k (Perubahan kosmetik tanda baca)
Tag: Suntingan perangkat seluler Suntingan peramban seluler
 
== Agama ==
Agama asli orang Tengger kemungkinan adalah sejenis campuran agama hindu-buddha zaman majapahit dengan beberapa elemen pemujaan kepada leluhur, berbeda dengan agama hindu dharma dari Bali. Agama mereka disebut [[Buda Tengger]], untuk membedakan dengan agama Buda Jawa (kejawen) dan Buda Bali (Hindu Dharma Bali. Pada tahun 1970an, orang Tengger terpaksa menganut agama resmi yang diakui pemerintah untuk menghindari tuduhan sebagai pendukung PKI. Sebagian besar pemimpin adat (dukun pandhita) menyerukan untuk menganut agama hindu dharma dari Bali (yang pada waktu itu lebih dulu mendapat pengakuan resmi dari pemerintah) karena melihat kemiripan dalam tata cara peribadatan. Namun, dukun pandhita desa Ngadas di Kabupaten [[Malang]], menolak keputusan itu. Penduduk desa tersebut kemudian menganut agama buddha. Sebagian lagi menganut Islam atau kristen, terutama penduduk di lereng bawah. Beberapa desa tersebut telah sama sekali meninggalkan tradisi Tengger sehingga terlihat tidak berbeda lagi dengan penduduk suku Jawa kebanyakan. Namun, desa Wonokerto di [[Probolingggo]] tetap hidup dengan cara Tengger, walaupun terbatas hanya pada interaksi sehari-hari. Orang-orang suku Tengger dikenal taat dengan aturan dan agama [[Hindu]]. Meskipun telah menganut agama Hindu Dharma, tetapi tradisi-tradisi sebelumnya tetap dilaksanakan. Penduduk suku Tengger diyakini merupakan keturunan langsung dari [[Kerajaan Majapahit]]. Nama ''Tengger'' berasal dari [[legenda]] [[Rara Anteng]] dan [[Jaka Seger]] yang diyakini sebagai asal usul nama Tengger, yaitu "Teng" akhiran nama Rara An-"teng" dan "ger" akhiran nama dari Jaka Se-"ger". Alur cerita legenda tersebut simpang siur, tetapi cerita yang paling dipercaya menceritakan bahwa Rara Anteng adalah putri Raja Brawijaya V dari majapahit. Putri tersebut lari ke pegunungan Tengger setelah kehancuran Majapahit. Di Tengger, Dia diangkat anak oleh salah seorang pandhita yang bernama Resi Dadap Putih. Sementara Jaka Seger adalah seorang pemuda daru Kediri yang mencari pamannya di pegunungan Tengger. Mereka berdua bertemu lalu membentuk keluarga yang akan menurunkan penduduk Tengger.
 
Perasaan sebagai satu saudara dan satu keturunan Rara Anteng-Jaka Seger inilah yang menyebabkan suku Tengger tidak menerapkan sistem kasta dalam kehidupan sehari-hari.
35

suntingan