Buka menu utama

Perubahan

Tidak ada perubahan ukuran, 2 bulan yang lalu
:: {{Re|HaEr48}} Untuk tatanama senyawa kimia organik dari IUPAC, memang harus menggunakan -a jika semisal memiliki gugus amina atau amida. Namun, penamaan obat menggunakan ''International nonproprietary name'' dengan WHO yang bertanggungjawab untuk memberikan nama tersebut. Jika nama INN diterjemahkan ke bahasa Indonesia dan terdapat perbedaan pengejaan antarsumber, saya yakin tenaga kesehatan akan lebih mengacu Farmakope Indonesia atau Peraturan Menteri Kesehatan lainnya ketimbang Pusba. Memanggil {{ping|IvanLanin}} untuk memberikan pendapat. -- [[Pengguna:Johnstad Di Maria|<font style="color:#4682B4;">'''Johnstad'''</font>]]&nbsp;<sup>[[Pembicaraan Pengguna:Johnstad Di Maria|<font style="color:#4682B4;">'''Почта'''</font>]]</sup> 9 Juli 2019 03.59 (UTC)
::: Saya pribadi lebih memilih menggunakan KBBI sebagai acuan. Kaidah yang dipakai KBBI umumnya lebih konsisten dan lebih dapat dirujuk. Kaidah yang dipakai praktisi umumnya terpengaruh oleh struktur bahasa asing. –[[Pengguna:IvanLanin|IvanLanin]] ([[Pembicaraan Pengguna:IvanLanin|bicara]]) 9 Juli 2019 10.46 (UTC)
:::: {{Re|IvanLanin}} Hmmm.... untuk kali ini sepertinya lebih baik ''agree to disagree''. Saya masih berpendapat bahwa rujukan mengenai obat yang paling utama adalah Farmakope Indonesia yang diterbitkan oleh Kementerian Kesehatan selaku otoritas tertinggi. Saya usul untuk saat ini pengguna boleh mengacu salah satu versi ejaan dan membuat halaman pengalihan untuk ejaan versi lainnya. Tidak ada yang boleh mengalihkan nama obat ke ejaan versi lain sampai pada akhirnya baik Pusba maupun Kemenkes menyepakati ejaan yang sama -- [[Pengguna:Johnstad Di Maria|<font style="color:#4682B4;">'''Johnstad'''</font>]]&nbsp;<sup>[[Pembicaraan Pengguna:Johnstad Di Maria|<font style="color:#4682B4;">'''Почта'''</font>]]</sup> 13 Juli 2019 09.25 (UTC)
 
== Jama masjid ==