Akidah Islam: Perbedaan revisi

2 bita dihapus ,  5 tahun yang lalu
k
Robot: Perubahan kosmetika
(Menolak 2 perubahan teks terakhir (oleh 118.137.165.105) dan mengembalikan revisi 8214287 oleh SkullSplitter)
k (Robot: Perubahan kosmetika)
 
== Etimologi ==
Dalam bahasa Arab akidah berasal dari kata ''al-'aqdu'' (الْعَقْدُ) yang berarti ikatan, ''at-tautsiiqu'' (التَّوْثِيْقُ) yang berarti kepercayaan atau keyakinan yang kuat, ''al-ihkaamu'' (اْلإِحْكَامُ) yang artinya mengokohkan (menetapkan), dan ''ar-rabthu biquw-wah'' (الرَّبْطُ بِقُوَّةٍ) yang berarti mengikat dengan kuat.
 
Sedangkan menurut istilah ([[terminologi]]), akidah adalah [[iman]] yang teguh dan pasti, yang tidak ada keraguan sedikit pun bagi orang yang meyakininya.<ref>''Lisaanul 'Arab'' (IX/311:عقد) karya Ibnu Manzhur (wafat th. 711 H) t dan ''Mu'jamul Wasiith'' (II/614:عقد).</ref>
* '''''Tauhid Al-Asma' was-Sifat''''', <br />mengesakan Allah dalam asma dan sifatNya, artinya mengimani bahwa tidak ada makhluk yang serupa dengan Allah, dalam dzat, asma maupun sifat.
 
[[Iman]] kepada '''qadar''' adalah termasuk tauhid ''ar-rububiyah''. Oleh karena itu [[Imam Ahmad]] berkata: "Qadar adalah kekuasaan Allah". Karena, tak syak lagi, [[qadar]] (takdir) termasuk qudrat dan kekuasaanNya yang menyeluruh. Di samping itu, qadar adalah rahasia Allah yang- tersembunyi, tak ada seorangpun yang dapat mengetahui kecuali Dia, tertulis pada [[Lauh Mahfuzh]] dan tak ada seorangpun yang dapat melihatnya. Kita tidak tahu takdir baik atau buruk yang telah ditentukan untuk kita maupun untuk [[makhluk]] lainnya, kecuali setelah terjadi atau berdasarkan nash yang benar.<ref>Disalin dari kitab ''Al-Qadha wal Qadar'', edisi Indonesia Qadha & Qadhar, Penyusun Syaikh Muhammad Shalih Al-Utsaimin, Penerjemah A. Masykur Mz, Penerbit Darul Haq, Cetakan Rabi'ul Awwal 1420H/Juni 1999M</ref>
 
Tauhid itu ada tiga macam, seperti yang tersebut di atas dan tidak ada istilah ''Tauhid Mulkiyah'' ataupun ''Tauhid Hakimiyah'' karena istilah ini adalah istilah yang baru. Apabila yang dimaksud dengan Hakimiyah itu adalah kekuasaan Allah, maka hal ini sudah masuk ke dalam kandungan Tauhid Rububiyah. Apabila yang dikehendaki dengan hal ini adalah pelaksanaan hukum Allah di muka bumi, maka hal ini sudah masuk ke dalam Tauhid Uluhiyah, karena hukum itu milik Allah dan tidak boleh kita beribadah melainkan hanya kepada Allah semata. Lihatlah firman Allah pada surat Yusuf ayat 40.<ref>Disalin dari kitab ''Syarah Aqidah Ahlus Sunnah Wal Jama'ah'' Oleh Yazid bin Abdul Qadir Jawas, Penerbit Pustaka At-Taqwa, Po Box 264 Bogor 16001, Cetakan Pertama Jumadil Akhir 1425H/Agustus 2004M.</ref>
110.443

suntingan