Buka menu utama

Indonesian All Stars adalah nama sebuah grup musik jazz asal Indonesia yang didirikan di Jakarta pada tahun 1966. Meskipun grup musik ini hanya sempat merilis satu album saja, namun perannya menjadi sangat penting karena telah menjadi salah satu tonggak sejarah musik jazz modern di Indonesia.

Daftar isi

BiografiSunting

Indonesian All Stars terdiri dari musisi jazz Indonesia yang anggotanya terdiri dari Jack Lesmana, Bubi Chen, Benny Mustapha, Maryono dan Jopie Chen. Mereka terbentuk juga atas sumbang saran dari Mas Yos,[1]. yang kebetulan waktu itu adalah pemilik perusahaan Irama Record, tempat di mana Jack Lesmana bekerja sebagai supervisi musiknya. Kemudian Indonesian All Star mulai berlatih secara rutin dalam rangka keberangkatan untuk ikut berpartisipasi pada Berlin Jazz Festival yang akan diadakan setahun kemudian.[2]

Pada tahun 1967 bertemulah mereka dengan Tony Scott, seorang pemain klrinet asal Amerika Serikat. Kebetulan Tony Scott sedang wara-wiri di seputar Asia dalam rangka pembuatan album pertamanya yang berjudul Homage To Lord Krishna. Tony adalah seorang pemain klarinet jazz yang cukup terkenal di Amerika Serikat pada waktu itu, bahkan dia pernah bermain dengan Sarah Vaughan dan Billie Holiday. Tony Scott juga pernah terpilih sebagai klarinetis terbaik versi majalah Down Beat[3] pada tahun 1955, 1957, 1958 dan 1959, karena gaya bermainnya dianggap lebih modern dari Buddy DeFranco.

Kemudian terjadilah pendekatan antara Indonesian All Stars dan Tony Scott selama kurang lebih enam bulan. Tidak lama setelah itu, terjadilah kesepakatan untuk berkolaborasi membuat album dan juga bermain secara langsung. Tony yang tertarik dengan musik-musik oriental akhirnya dapat berkolaborasi dengan pemain-pemain jazz Indonesia yang juga dapat mengerti pemikirannya. Maka terjadilah ide untuk menyatukan bunyi-bunyian tradisional dan juga mengaransemen ulang lagu-lagu tradisional tetapi dimainkan dengan gaya yang sangat berbeda. Intinya album tersebut adalah kolaborasi pemain barat dan timur yang juga mengawinkan musik barat dan timur tetapi dengan interpertasi secara jazz.[2]

Akhirnya pada tahun 1967 berangkatlah mereka ke Berlin Jerman, untuk mengikuti festival jazz dan sekaligus membuat rekaman di sana. Akhirnya terciptalah alabum Djanger Bali yang direkam di Villingen, Black Forrest pada tanggal 27 dan 28 Oktober 1967, ditangani teknisi rekaman Rolf Donner di Saba Tonstudio. Dirilis oleh MPS/Saba Record dan diproduseri oleh Joachim Ernest Berendt.[2]

DiskografiSunting

ReferensiSunting

  1. ^ Maryono di Jakarta go.id, Maryono di Jakarta go.id, diakses 22 April 2011
  2. ^ a b c Djanger Bali Rumah Musik Denny Sakrie, Rumah Musik Denny Sakrie, diakses 22 April 2011
  3. ^ Tony Scott di Downbeat readers pool, Tony Scott, Downbeat readers pool, diakses 22 April 2011

Pranala luarSunting