Hokky Situngkir

Hokky Situngkir (lahir di Siantar, Sumatra Utara, 7 Februari 1978; umur 43 tahun)[1] adalah ilmuwan/peneliti teori kompleksitas di Surya University dan Pendiri Bandung Fe Institute. Ia dikenal memiliki spektrum kajian yang luas, mulai dari keberhasilannya memecahkan rahasia pola/motif batik fraktal,[2] kompleksitas matematis lagu-lagu daerah Indonesia, aspek matematis dalam Candi Borobudur hingga pergerakan saham dengan memakai teori kompleksitas[3] yang dilakukannya bersama Yohanes Surya. Hokky Situngkir juga merupakan penggagas pendataan budaya tradisional Indonesia secara partisipatif melalui website Perpustakaan Digital Budaya Indonesia (PDBI) pertama yang dilakukan secara terbuka menggunakan berbagai gawai elektronik populer[4].

Hokky Situngkir
Hokky situngkir.jpg
Hokky Situngkir, yang dijuluki Bapak Kompleksitas Indonesia, di ruang kerjanya.
LahirHokky Situngkir
PekerjaanIlmuwan/Peneliti
Tahun aktif2000 - sekarang
Situs webhttp://www.bandungfe.net/hs

Riwayat HidupSunting

Hokky Situngkir dibesarkan di Sumatra Utara dan merupakan salah seorang cucu dari Liberty Manik atau L.Manik, seorang komponis Indonesia, pencipta lagu “Satu Nusa Satu Bangsa”.[5] Setelah menamatkan pendidikannya di SMA Negeri 1 Medan, ia mendaftar di Institut Teknologi Bandung (ITB), dan mengambil jurusan Elektro ITB. Semenjak mahasiswa ia telah aktif dalam berbagai organisasi, seperti: anggota Majelis Permusyawaratan Mahasiswa di Himpunan Mahasiswa Elektroteknik, Tim Materi Orientasi Studi Keluarga Mahasiswa ITB, Kepala Divisi Dana Tim Beasiswa KM ITB, dan Kepala Divisi Budaya Unit Kesenian Sumatra Utara ITB. Situngkir merupakan penerima silver medal Ganesha Innovation Championship Award (GICA) 2014, dari Ikatan Alumni Institut Teknologi Bandung.

Saat ini Hokky Situngkir juga menjabat sebagai presiden di Bandung Fe Institute dan seorang Peneliti di Center for Complexities, Surya University. Ia juga aktif dalam berbagai pertemuan dan komunitas ilmiah berskala nasional dan internasional seperti Conference of Application of Physics in Financial Analysis, International Conference on World of Heterogenous and Interacting Agents, Complexity in Cultural and Literary Studies, World New Economic Window, International Conference in Computational Intelligence in Economics and Finance, Asia Pacific Forum on Cultures-based Innovation.

Batik FraktalSunting

Awalnya ketertarikannya dengan teori kompleksitas yang dikembangkan Santa Fe Institute, lembaga riset di Santa Fe, New Mexico, Amerika Serikat, dimulai dari berbagai diskusi dan korespondensi melalui internet. Teori yang kemudian dikembangkannya di Indonesia ini lahir pada akhir abad ke-20 dengan merangkul berbagai disiplin ilmu untuk menjelaskan suatu persoalan. Ia akhirnya mendirikan Bandung Fe Institute, mengambil nama Santa Fe Institute. Pada awalnya kebanyakan risetnya berhubungan dengan sistem keuangan dalam kajian ekono-fisika, yaitu pengunaan berbagai model fisika untuk meneliti pola-pola data dalam ekonomi. Riset-riset kompleksitasya kemudian membawanya untuk meneliti batik. Ia ingin membuktikan batik bukan ornamen tetapi lukisan yang disejajarkan dengan karya Leonardo da Vinci, Raphael, atau Michelangelo. Ia mulai megumpulkan berbagai motif batik dan kemudian diterjemahkan dalam rumus fraktal matematis. Hasilnya kemudian dimodifikasi dengan bantuan komputer sehingga menghasilkan desain pola baru yang sangat beragam, baik dilihat dari grafis, warna, ukuran, sudut maupun perulangannya. Proses pembuatan motif batik fraktal dapat memecahkan masalah keterbatasan motif batik dan dapat menghasilkan banyak motif secara cepat.[6] Menurutnya, pola fraktal juga terlihat pada pigmentasi kerang, pola sulir cangkang kerang, bentuk-bentuk rumit bunga salju, atau pertumbuhan sel kanker. Termasuk beberapa pola pergerakan harga saham dan indeks dalam ekonomi.

Cara berpikir dengan pendekatan goemetri fraktal ini kemudian digunakannya untuk membuktikan pengukuran di setiap sudut candi Borubudur. Selain itu, dia juga menggunakannya untuk menganalisis lagu-lagu daerah,[7] ukir-ukiran tradisional, anyam-anyaman nusantara dan berbagai ritual tradisi budaya Indonesia di berbagai daerah. Keberhasilan Hokky menemukan hal ini membuatnya mendapat julukan "Bapak Kompleksitas Indonesia" dari Prof. Yohanes Surya, Ph.D.

Dalam aktivitas sosialnya, Hokky merintis Gerakan Sejuta Data Budaya (GSDB), yang menggalang kelompok muda pecinta budaya untuk pelestarian data budaya melalui Perpustakaan Digital Budaya Indonesia (PDBI). Kegiatan pendataan budaya secara partisipatif dan digital ini dimotori berbagai komunitas yang menamakan diri "Sobat Budaya" di berbagai komunitas muda pecinta budaya di berbagai kawasan budaya di Indonesia.[8] Belakangan banyak kegiatannya adalah mempromosikan budaya Indonesia melalui sains dan berbagai inovasi teknologi, khususnya teknologi informasi. Berbagai karya implementasinya dalam bentuk perangkat lunak dan aplikasi, baik komputasi untuk komputer meja maupun komputasi bergerak dapat diakses dan digunakan oleh publik baik secara luring maupun daring.

Di samping sebagai peneliti, Hokky juga aktif menjadi pembina peneliti-peneliti belia dari berbagai sekolah menengah yang menjadi perwakilan Indonesia dan menuai prestasi di berbagai ajang internasional sebagai mentor di Center for Young Scientists,[9] Surya University.

Karya TulisSunting

AwardSunting

  • Penghargaan perak Ganesha Innovation Championship Award (GICA) 2014, Ikatan Alumni Institut Teknologi Bandung
  • Pemenang Kompetisi Dana Hibah Indonesian Young Change-Maker Summit (IYCS) 2013.
  • National Award of Intellectual Property 2013 from Ministry of Law and Human Rights of the Republic of Indonesia [1]
  • 10 Indonesian Inventors by TEMPO Magazine [2]
  • Ashoka Fellow 2012 [3]
  • Ahmad Bakrie Award [[2011 on category: outstanding young scientist[10]
  • Museum Rekor Indonesia for Database of Indonesian Batik with Mathematical & Geometrical Aspects
  • 104 most prospective innovations in Indonesia 2011 the Indonesian Batik for Institutional Logo
  • 103 most prospective Innovations in Indonesia 2011 the Living Database System
  • 102 most prospective Innovations in Indonesia 2010 for Rotating Social Disc
  • 102 most prospective Innovations in Indonesia 2010 for The Mathematical Song Composer
  • 102 most prospective Innovations in Indonesia 2010 for The Color of Indonesia’s Data
  • 101 most prospective Innovations in Indonesia 2009 for Tree of Cultural Diversification
  • 101 most prospective Innovations in Indonesia 2009 for Physics of Batik Application

ReferensiSunting

Pranala luarSunting