Harta Karun

Harta kekayaan yang ditimbun Kroisos

Harta Kârun adalah nama yang disematkan kepada koleksi 363 artefak bernilai tinggi peninggalan masyarakat Lidia dari sekitar abad ke-7 Pramasehi, yang ditemukan di Provinsi Uşak, kawasan barat wilayah negara Turki. Koleksi ini diperebutkan lewat jalur hukum oleh Turki dan Museum Seni Rupa Metropolitan New York antara tahun 1987 sampai 1993, dan akhirnya dipulangkan ke Turki pada tahun 1993 sesudah pihak Museum Seni Rupa Metropolitan New York mengaku tahu bahwa barang-barang tersebut adalah barang curian pada waktu membelinya. Nama lain yang disematkan kepada koleksi artefak ini adalah Khazanah Lidia. Artefak-artefak tersebut kini terpajang di Museum Arkeologi Uşak.

Buyung, benda peninggalan masyarakat Lidia yang ditemukan di dekat Uşak

Koleksi artefak ini kembali santer diberitakan pada bulan Mei 2006 ketika salah satu artefak penting, yakni kerongsang hipokampos emas, yang terpajang di Museum Uşak bersama artefak lainnya yang menjadi bagian dari koleksi ini, didapati sudah diganti dengan tiruannya, diduga kuat antara bulan Maret sampai bulan Agustus 2005.[1]

Koleksi artefak ini juga dikenal dengan sebutan "Harta Kroisos". Meskipun kurang lebih sezaman dengan Kroisos, dapat tidaknya artefak-artefak tersebut dikaitkan secara langsung dengan tokoh Raja Lidia legendaris itu masih menjadi pokok perdebatan. Beberapa kebudayaan Asia juga mengenal tokoh hartawan legendaris dengan ketenaran yang setaraf dengan Kroisos di dalam kebudayaan Eropa, yaitu قارون - Qārūn (dalam bahasa Arab dan bahasa Farsi), Kârun (dalam bahasa Turki), atau Korah. Harta kekayaannya yang berlimpah ruah juga digambarkan dengan berbagai macam ungkapan yang senada dengan pemeo Inggris "as rich as Croesus" (sama kaya rayanya dengan Kroisos).[2] Itulah sebabnya istilah "Harta Karun" mengakar di tengah masyarakat. Terlepas dari semua itu, jumlah harta kekayaan Kroisos melebihi 363 artefak, dan tumulus bilik makam tempat sebagian besar dari artefak-artefak tersebut ditemukan (lokasi penemuan artefak lainnya memang tidak jauh, tetapi merupakan situs arkeologi tersendiri) adalah makam seorang perempuan.[3]

Penemuan dan penyelundupan sunting

Artefak-artefak yang utama dan yang paling tinggi nilainya berasal dari bilik makam seorang putri Lidia. Artefak-artefak tersebut didapatkan melalui ekskavasi liar yang dilakukan oleh tiga orang pemburu harta asal desa Güre di provinsi Uşak. Situs bilik makam tersebut memang tidak jauh letaknya dari desa Güre, yakni di area yang disebut Toptepe. Sesudah berhari-hari menggali dan gagal membobol tembok penutup pintu makam yang terbuat dari batu pualam, mereka akhirnya meledakkan sotoh makam dengan dinamit pada malam hari tanggal 6 Juni 1966, dan menjadi orang-orang pertama yang takjub melihat jenazah bangsawati Lidia beserta segala harta kekayaan yang dikebumikan bersamanya 2600 tahun silam. Harta jarahan dari tumulus ini diperkaya lagi dengan berbagai temuan yang dijarah oleh orang-orang yang sama dari beberapa tumulus lain di area yang sama antara tahun 1966 sampai 1967. Benda-benda bersejarah tersebut kemudian diselundupkan keluar dari Turki melalui İzmir dan Amsterdam untuk selanjutnya dibeli oleh Museum Seni Rupa Metropolitan antara tahun 1967 sampai 1968, dengan melunasi faktur senilai 1,2 juta dolar Amerika Serikat untuk 200 artefak.[4]

Sengketa hukum sunting

Pemerintah Turki silih berganti terus-menerus mengupayakan pemulangan koleksi artefak ini ke negaranya. Upaya tersebut mulai menemukan titik terang ketika pemerintah Turki menerima informasi dari seorang wartawan bernama Özgen Acar.[5] Özgen Acar pertama kali mendapati beberapa barang dari koleksi Harta Karun di dalam sebuah katalog Museum Seni Rupa Metropolitan pada tahun 1984. Ia lalu menyampaikan informasi seputar asal-muasal barang-barang itu kepada Kementerian Kebudayaan Turki, sembari menulis pula beberapa artikel dan mendesak pemerintah Turki melalui berbagai jalur birokrasi yang ada supaya mengambil tindakan terkait urusan yang sedang diperjuangkannya. Ia menjadi duta sukarela Kementerian Kebudayaan Turki dalam rangka pengajuan gugatan hukum ke pengadilan Kota New York pada tahun 1987 maupun penuntasannya pada tahun 1993.[6] Pada waktu yang sama ia ditetapkan sebagai konsultan dalam rangka keikutsertaan Turki di dalam ikhtiar perlindungan warisan sejarah, budaya, dan agama yang dilaksanakan oleh UNIDROIT. Di Turki, Özgen Acar juga dikenal sebagai orang yang berjasa memboyong pulang koleksi artefak lain yang dinamakan "Harta Elmalı", sesuai dengan nama tempat penemuannya, yaitu kota Elmalı yang terletak di kawasan barat daya Turki, yang mencakup kepingan-kepingan uang logam Lidia dan uang logam pecahan sepuluh dirham yang sangat langka dan diperkirakan berasal dari zaman liga Delos, sesudah memenangkan gugatan hukum melawan Museum Seni Rupa Murni Boston.[7]

Kasus Museum Uşak sunting

Kebutuhan mendesak akan keberadaan sebuah museum yang layak untuk dijadikan tempat penyimpanan Harta Karun mulai disuarakan semenjak koleksi artefak ini diboyong pulang ke Turki.[8] Dengan disitanya sepuluh artefak hasil ekskavasi liar lainnya oleh pihak berwenang pada tahun 1998, didapatinya temuan-temuan arkeologis lanjutan, serta diketahuinya keberadaan delapan artefak emas yang muncul pada tahun 2000 di sebuah pameran galeri pribadi di Paris dan belum diupayakan pemulangannya, sudah terkumpul koleksi perdana yang cukup lumayan, yakni 375 artefak, akan tetapi museum kecil di Uşak yang dijadikan tempat penyimpanannya lebih difokuskan kepada usaha penyimpanan permadani-permadani Uşak serta beroperasi dengan anggaran belanja dan jumlah karyawan yang terbatas,[9] sehingga tidak sepenuhnya memenuhi syarat kelayakan tempat pelestarian Harta Karun. Keraguan terhadap kelayakan Museum Uşak kian menguat dengan diajukannya gugatan hukum terhadap karyawan museum terkait pencurian yang terjadi pada tahun 2007. Meskipun mula-mula ada sepuluh orang yang ditersangkakan sehubungan dengan penggantian kerongsang hipokampos yang asli dengan tiruannya, hanya mantan direktur museum yang ditahan.

Kutukan sunting

Sebagian pihak di Uşak maupun di tempat lain beranggapan bahwa ada kutukan yang melekat pada Harta Karun. Konon kabarnya tujuh orang yang terlibat di dalam usaha ekskavasi liar yang berujung pada penemuan artefak-artefak itu "tewas secara mengenaskan atau ditimpa berbagai kesialan".[10]

Galeri sunting

Baca juga sunting

Rujukan sunting

  1. ^ "Croesus riches replaced by fakes". British Broadcasting Corporation. 29 May 2006. Diakses tanggal 29 Mei 2006. 
  2. ^ Qarun dan harta kekayaannya diriwayatkan di dalam Al'Quran ([28:76] sampai [28:82]). Di dalam mitologi Persia, harta Qâru adalah harta terpendam yang konon terus-menerus berpindah tempat. Frasa harta Karu (secara harfiah berarti harta kekayaan Kroisos) juga terserap ke dalam bahasa Melayu dengan makna harta kekayaan, sinonim dengan istilah harta terpendam. Ganj-e-Qaru (harta Kroisos) adalah judul film Iran yang diproduksi pada tahun 1965 oleh Siamak Yasemi, dan secara luas dianggap sebagai salah satu karya klasik dunia perfilman Iran. Film ini meriwayatkan kembali kisah hidup seorang kaya raya yang hendak bunuh diri tetapi akhirnya menemukan kebahagiaan di dalam rumah bersahaja seorang miskin.
  3. ^ Nezih Başgelen. "The rich kings of the thousand hills, Lydians" (PDF). serfed.com. Turkish Ceramic Federation. Diarsipkan dari versi asli (PDF) tanggal 22 Januari 2007. Diakses tanggal 01 Juli 2005. 
  4. ^ "Uşak-New York". tayproject.org (dalam bahasa Turkish). TAY Project. Diakses tanggal 01 April 2001. 
  5. ^ Michel Bessières. "We have to change the buyer's attitude". UNESCO Courrier. Diarsipkan dari versi asli tanggal 23 Juli 2001. Diakses tanggal 01 April 2001. 
  6. ^ Thomas Adcock. "The Art Theft Experts" (PDF). New York Law Journal. Diarsipkan dari versi asli (PDF) tanggal 31 Oktober 2006. Diakses tanggal 24 Februari 2006. 
  7. ^ "Elmalı treasure". Museum Security. Diarsipkan dari versi asli tanggal 23 Agustus 2000. 
  8. ^ Özgen Acar. "Croesus: The poverty of treasure". Cumhuriyet. Diakses tanggal 2003-07-21. 
  9. ^ Jumlah tenaga ahli yang bekerja di museum-museum Turki turun separuh dari 1.500 orang menjadi 750 orang dalam sepuluh tahun terakhir."Croesus: Ten people charged in Croesus theft case". Turkish Daily News. Diarsipkan dari versi asli tanggal 17 Juli 2006. Diakses tanggal 21 Juli 2003. 
  10. ^ Constanze Letsch (25 November 2012). "King Croesus's golden brooch to be returned to Turkey". The Guardian.