Buka menu utama

Harian Rakyat adalah salah satu media massa Indonesia pada periode 1950-1965.[1] Harian Rakyat pertama kali terbit pada tanggal 31 Januari 1951 yang semula bernama Suara Rakyat. Motto yang diusung oleh Harian Rakyat adalah “Untuk rakyat hanya ada satu harian, Harian Rakyat!”. Harian Rakyat berkantor dipimpin oleh Njoto sebagai dewan redaksi dan Mula Naibaho sebagai penanggungjawab redaksi.[2]

Harian Rakyat
Dewan RedaksiNjoto
Penanggungjawab RedaksiMula Naibaho
Terbitan pertama31 Januari 1951
NegaraIndonesia
Berpusat diJalan Pintu Besar Selatan no. 93, Jakarta
BahasaBahasa Indonesia
D.N. Aidit, ketua CC PKI yang turut mengelola Harian Rakyat

Ideologi dan Aliran JurnalismeSunting

Aliran jurnalisme yang diusung oleh Harian Rakyat adalah jurnalisme konfrontasi dengan bahasa yang meledak, tembak langsung dan pukul di tempat.[2] Garis politik redaksi yang ditarik Harian Rakyat adalah konfrontasi maka sering terjadi konflik dan pertentangan dengan media massa lain.[2][3] Secara sederhana, Harian Rakyat selalu menunjukkan sikap berani dan ofensif terhadap lawan-lawannya. Gaya bahasa yang digunakan hemat, lincah, dan terus terang sesuai dengan ajaran Marxisme dan Leninisme. Bahasa yang hemat, lincah dan terus terang itu mudah dimengerti petani dan buruh yang menjadi basis massa Partai Komunis Indonesia (PKI).[4]

Harian Rakyat dapat dikatakan sebagai barisan pembela Manifesto Politik (Manipol) Soekarno. Ketika koran beraliran kanan atau konservatif tidak terlalu memikirkan tentang Manipol Soekarno, Harian Rakyat ampil ke depan menjadi corong propaganda Manipol, anti imperialis, dan menganggap koran-koran kanan telah menghina Soekarno karena tidak mendukung Manipol.[5] Harian Rakyat berpendirian tidak akan mencetak yang bertentangan dengan cita-cita revolusi. Secara sederhana dalam pertentangan antara sosialisme dan kapitalisme, Harian Rakyat lebih memilih sosialisme. Antara demokrasi terpimpin dan demokrasi liberal, Harian Rakyat lebih berpihak pada demokrasi terpimpin.[6]

PembredelanSunting

Sebagai sebuah media massa yang mengambil aliran konfrontasi, Harian Rakyat selalu bertentangan dengan pihak lain tak terkecuali juga pihak penguasa. Karena pemberitaannya dianggap melanggar ketentuan pihak penguasa, Harian Rakyat ditutup. Penutupan ini terjadi selama 23 jam antara 13 September 1957 pukul 21.00 hingga 14 September 1957 pukul 20.00 bersama media lain seperti koran Indonesia Raya, Bintang Timur, Pemuda Merdeka, Djiwa Baru, Pedoman, Keng Po, Java Bode, serta tiga kantor berita Antara, PIA dan INPS.[7]

Penutupan kembali berulang pada tahun 1959, lebih tepatnya pada tanggal 16 Juli 1959. Penutupan hampir terjadi selama satu bulan. Harian Rakyat dibredel karena memuat pernyataan CC PKI pada tanggal 3 Juli yang berjudul “Penilaian sesudah satu tahun Kabinet Kerdja, Komposisi, tidak mendjamin pelaksanaan program 3 pasal, perlu segera diretul”. Pada tanggal 2 Agustus 1959, sebulan setelah penutupan, Harian Rakyat kembali terbit lagi.[8]

Pada tanggal 2 November 1959, Harian Rakyat kembali dibreidel oleh Penguasa Perang. Alasan pembredelan kali ini tidak begitu jelas. Yang terjadi atas pembredelan ini adalah diadakan aksi perluasan peredaran Harian Rakyat yang dipimpin oleh para petinggi PKI yaitu D.N. Aidit, M.H Lukman dan aktivis PKI lainnya yang langsung turun ke jalan.[8] Pada tanggal 9 Desember 1959, pembredelan Harian Rakyat terulang kembali. Alasan pembredelan karena Harian Rakyat memuat berita “tjeramah Njoto di gedung SBKA” yang diadakan pada 23 November 1959 dan dimuat pada 24 November 1959. Alasan pembredelan ini juga tidak jelas sehingga menimbulkan protes dan desakan agar Harian Rakyat diterbitkan kembali. Oleh karena banyak desakan dari berbagai pihak, Harian Rakyat dapat terbit kembali pada tanggal 23 Desember 1959.[9]

Pada tanggal 3 Februari 1961 oleh Penguasa Perang Jakarta Raya, Harian Rakyat ditutup kembali. Alasan yang diajukan untuk pembredelan adalah pemuatan sambutan ketua CC PKI D.N Aidit pada hari jadi ke-10 koran Harian Rakyat. Dalam pidatonya, Aidit mengajukan tuntutan struktur kabinet dan menyinggung masalah demokrasi serta kebebasan politik. Menurut Penguasa Perang, komentar yang muncul itu dapat mengganggu kestabilan politik di Indonesia saat itu.[10]

Setelah terjadi peristiwa G30S, akhirnya Harian Rakyat mengalami akhir perjalanannya. Pada tanggal 3 Oktober 1965, Harian Rakyat bertekuk lutut dan berhenti terbit. Tidak hanya bubar, semua anggota partai dan aktivis yang mendukung Harian Rakyat diburu, ditangkap, dipenjarakan dan dibunuh.[11] Inilah kata-kata terakhir dari redaksi Harian Rakyat kepada para pembacanya, “Banyak-banyak terimakasih, sekalian para pembaca!” [10]

RujukanSunting

Daftar pustakaSunting

  • Rhoma Dwi Aria dan Muhidin M. Dahlan (2008). Lekra Tak Membakar Buku. Yogyakarta: Merekasumba. 
  • Sekretariat Negara Republik Indonesia (1994). Gerakan 30 September Partai Komunis Indonesia: Latar Belakang, Aksi dan Penumpasannya. Jakarta: Ghalia Indonesia. 
  • Taufik Rahzen, dkk. (2007). Seabad Pers Kebangsaan (1907-2007). Yogyakarta: I.Boekoe. 
  • Arif Zulkifi, dkk. (2014). Seri Buku Tempo: Lekra dan Geger 1965. Jakarta: Kepustakaan Populer Gramedia.