Buka menu utama


Dalam sejarah Kristen, Gerakan Konsiliar adalah suatu gerakan pembaruan dalam Gereja Katolik pada abad ke-14 dan 15 yang menyatakan bahwa otoritas tertinggi dalam masalah-masalah rohani terletak pada sidang Konsili Gereja, bukan pada Paus. Gerakan ini muncul sebagai tanggapan terhadap Kepausan Avignon - ketika paus dipindahkan dari Roma dan tunduk kepada tekanan-tekanan dari raja-raja Prancis - serta skisma yang terjadi sesudah itu, yang menyebabkan diadakannya Konsili Konstanz (1414-1418). Pemenang akhir dari konflik ini adalah lembaga Kepausan, yang dikukuhkan oleh kutukan terhadap Gerakan Konsiliar pada Konsili Lateran V, 1512-1517. Namun, sikap terakhirnya, doktrin tentang infalibilitas Paus, baru dirumuskan pada Konsili Vatikan Pertama tahun 1870.

Dalam masa satu abad Gereja Katolik Roma mengalami perpecahan karena perbedaan-perbedaan yang tidak dapat dipertemukan, seperti pada penekanan relatif pada Kitab Suci dan Otoritas, apabila keduanya tampak bertentangan dan masalah-masalah lain yang menimbulkan perpecahan yang diangkat oleh Gerakan Konsiliar, yang belakangan dikutuk oleh kaum Katolik tradisionalis, yang mendukung kepausan dalam masalah-masalah otoritas.

Gerakan ini sering pula dinamai "Konsiliarisme", khususnya apabila pernyataan-pernyataannya dianggap heterodoks atau sesat, sementara aspek-aspek pembaruan struktural di lingkungan Gereja Katolik sendiri tidak ditonjolkan. Para sejarahwan sekuler cenderung menggunakan ungkapan yang lebih netral, yaitu "Gerakan Konsiliar," yang tidak memberikan konotasi buruk.

Meskipun Gereja Ortodoks Timur tidak terlibat dengan Gerakan Konsiliar pada abad ke-14 dan 15, pada umumnya mereka setuju dengan kaum Konsiliaris bahwa otoritas tertinggi terletak pada konsili-konsili gereja, dan bukan pada paus. Ini adalah salah satu masalah yang menyebabkan skisma antara Gereja Ortodoks Timur dengan Gereja Katolik Roma, yang mencapai puncaknya pada 1054.