Buka menu utama

Wikipedia β

Garis suksesi takhta Liechtenstein

Pangeran Karl I, yang mendirikan primogenitur
Pangeran Johann I Joseph, yang mengesahkan keturunan patrilineal laki-laki yang layak menjadi penerus
Pangeran Hans-Adam II, penguasa monarki saat ini

Suksesi tahta Liechtenstein diatur oleh hukum wangsa Keluarga Kepangeranan Liechtenstein, yang memegang asas primogenitur agnatik. Pada 2004, kepala negara Hans-Adam II, yang secara terbuka menanggapi kritikan dari PBB yang menegur diskriminasi pengecualian perempuan dari garis suksesi, menyatakan bahwa kekuasaan tersebut lebih tua ketimbang negara itu sendiri.

Garis suksesiSunting

  •   Pangeran Johann I Josef (1760–1836)
    •   Pangeran Alois II (1796–1858)
    • Pangeran Franz de Paula (1802–1887)
      • Pangeran Alfred (1842–1907)
        • Pangeran Alois (1869–1955)
        • Pangeran Johannes (1873–1959)
          • Pangeran Alfred (1907–1991)
            • (20) Pangeran Franz (l. 1935)
              • (21) Pangeran Alfred (l. 1972)
                • (22) Pangeran Franz (l. 2009)
              • (23) Pangeran Lukas (l. 1974)
            • Pangeran Friedrich (1937–2010)
              • (24) Pangeran Emanuel (l. 1978)
                • (25) Pangeran Leopold (l. 2010)
                • (26) Pangeran Heinrich (l. 2012)
              • (27) Pangeran Ulrich (l. 1983)
            • (28) Pangeran Anton (l. 1940)
              • (29) Pangeran Georg (l. 1977)
          • Pangeran Johannes (1910–1975)
            • (30) Pangeran Eugen (l. 1939)
              • (31) Pangeran Johannes (l. 1969)
        • Pangeran Alfred (1875–1930)
          • Pangeran Hans-Moritz (1914–2004)
            • (32) Pangeran Gundakar (b. 1949)
              • (33) Pangeran Johann (b. 1993)
              • (34) Pangeran Gabriel (l. 1998)
            • (35) Pangeran Alfred (l. 1951)
            • (36) Pangeran Karl (l. 1955)
            • (37) Pangeran Hugo (l. 1964)
          • Pangeran Heinrich (1916–1991)
            • (38) Pangeran Michael (l. 1951)
            • (39) Pangeran Christof (l. 1956)
            • (40) Pangeran Karl (l. 1957)
        • Pangeran Karl Aloys (1878–1955)
          • (41) Pangeran Wolfgang (l. 1934)
            • (42) Pangeran Leopold (l. 1978)
              • (43) Pangeran Lorenz (l. 2012)
    • Pangeran Eduard Franz (1809–1864)
      • Pangeran Aloys (1840–1885)
        • Pangeran Friedrich (1871–1959)
          • Pangeran Aloys (1898–1943)
            • Pangeran Luitpold (1940–2016)
              • (44) Pangeran Carl (l. 1978)
          • Pangeran Alfred (1900–1972)
            • Pangeran Alexander (1929–2012)
              • (45) Pangeran Christian (l. 1961)
                • (46) Pangeran Augustinus (l. 1992)
                • (47) Pangeran Johannes (l. 1995)
              • (48) Pangeran Stefan (l. 1961)
                • (49) Pangeran Lukas (l. 1990)
                • (50) Pangeran Konrad (l. 1992)
              • (51) Pangeran Emanuel (l. 1964)
                • (52) Pangeran Josef (l. 1998)

Tuduhan diskriminasiSunting

Pada 2004, Perserikatan Bangsa-Bangsa mempertanyakan kelayakan primogenitur agnatik, yang melarang wanita menjadi kepala negara Liechtenstein, dengan Konvenan Hak Sipil dan Politik Internasional[1] dan kemudian melayangkan teguran terhadap hal tersebut.[1] Dalam menanggapi tuntutan Perserikatan Bangsa-Bangsa untuk kesetaraan gender pada 2007, Pangeran Hans-Adam II menjelaskan bahwa hukum suksesi tersebut lebih tua ketimbang Kepangeranan Liechtenstein itu sendiri dan telah menjadi tradisi keluarga sehingga tak berdampak pada masyarakat di negara tersebut; Konstitusi Liechtenstein menyatakan bahwa suksesi tahta merupakan urusan pribadi keluarga.[2]

ReferensiSunting

  1. ^ a b Report of the Human Rights Committee: Vol. 1: Seventy-ninth session (20 October - 7 November 2003); eightieth session (15 March - 2 April 2004); eighty-first session (5-30 July 2004). United Nations Publications. 2004. ISBN 9218101722.  Kesalahan pengutipan: Tanda <ref> tidak sah; nama "UN" didefinisikan berulang dengan isi berbeda
  2. ^ Pancevski, Bojan (19 November 2007). "No princesses: it’s men only on this throne". The Times. Diakses tanggal 16 February 2013.