Buka menu utama

Elaeis (kelapa sawit)

genus tumbuh-tumbuhan
(Dialihkan dari Elaeis guineensis)
Elaeis
Elaeis guineensis0.jpg
Kelapa sawit Afrika (Elaeis guineensis)
Klasifikasi ilmiah
Kingdom: Plantae
Divisi: Magnoliophyta
Kelas: Liliopsida
Ordo: Arecales
Famili: Arecaceae
Genus: Elaeis
Jacq.
Species

Elaeis guineensis
Elaeis oleifera

Elaeis (dari bahasa Yunani, artinya "minyak") adalah genus dari Arecaceae yang memiliki dua spesies, yang disebut sebagai kelapa sawit. Tumbuhan ini digunakan untuk usaha pertanian komersial dalam produksi minyak sawit. Kelapa sawit Afrika Elaeis guineensis (nama spesies guineensis mengacu pada negara asalnya) adalah sumber utama minyak kelapa sawit. Kelapa sawit Amerika, Elaeis oleifera (dari bahasa Latin oleifer, artinya "penghasil minyak")[1] adalah tanaman asli Amerika Selatan dan Tengah tropis,[2] dan digunakan secara lokal untuk produksi minyak.

Kelapa sawit merupakan tumbuhan industri sebagai bahan baku penghasil minyak masak, minyak industri, maupun bahan bakar. Kelapa sawit ini memiliki peranan yang penting dalam industri minyak yaitu dapat menggantikan kelapa sebagai sumber bahan bakunya. Perkebunannya menghasilkan keuntungan besar sehingga banyak hutan dan perkebunan lama dikonversi menjadi perkebunan kelapa sawit. Indonesia adalah penghasil minyak kelapa sawit terbesar di dunia. Di Indonesia penyebarannya di daerah Aceh, pantai timur Sumatra, Jawa, Kalimantan, dan Sulawesi. Terdapat beberapa spesies kelapa sawit yaitu E. guineensis Jacq., E. oleifera, dan E. odora. Varietas atau tipe kelapa sawit digolongkan berdasarkan dua karakteristik yaitu ketebalan endokarp dan warna buah. Berdsarkn ketebalan endokarpnya, kelapa sawit digolongkan menjadi tiga varietas yaitu Dura, Pisifera, dan Tenera, sedangkan menurut warna buahnya, kelapa sawit digolongkan menjadi tiga varietas yaitu Nigrescens, Virescens, dan Albescens. Secara umum, kelapa sawit terdiri atas beberapa bagian yaitu akar, batang, daun, bunga dan buah. Bagian dari kelapa sawit yang dilolah menjadi minyak adalah buah.[3]

Daftar isi

KeteranganSunting

Arecaceae dewasa bertangkai tunggal, dan dapat tumbuh dengan ketinggian lebih dari 20 m (66 ft). Daunnya menyirip, dan panjang mencapai antara 3–5 m (10–16 ft). Bunganya diproduksi dalam bentuk padat; masing-masing bunga kecil, dengan tiga sepal dan tiga kelopak.

Buahnya berwarna kemerahan, seukuran plum besar, dan tumbuh dalam tandan besar. Setiap buah terdiri dari lapisan luar yang mengandung minyak (perikarp), dengan biji tunggal (inti sawit), juga kaya akan minyak.

SpesiesSunting

Kedua spesies, E. guineensis dan E. oleifera dapat menghasilkan hibrida subur. Genom E. guineensis telah diurutkan, yang memiliki implikasi penting untuk membiakkan tanaman yang lebih baik.[4]

Gambar Nama Nama umum Penyebaran
  Elaeis guineensis Jacq. Kelapa sawit Afrika atau lemak macaw Afrika barat dan barat daya, khususnya antara wilayah Angola dan Gambia
  Elaeis oleifera (Kunth) Cortés Kelapa sawit Amerika Amerika Selatan dan Tengah dari Honduras ke Brasil bagian utara

Budidaya kelapa sawit komersialSunting

Karena minyak kelapa sawit mengandung lebih banyak lemak jenuh daripada minyak yang terbuat dari kanola, jagung, biji rami, kacang kedelai, safflower, dan bunga matahari, minyak kelapa sawit dapat tahan terhadap panas yang ekstrem dan tahan terhadap oksidasi.[5] Ini tidak mengandung lemak trans, dan penggunaannya dalam makanan telah meningkat sebagai hukum pelabelan makanan dan telah mengubah dalam penentuan kandungan lemak trans. Minyak dari Elaeis guineensis juga digunakan sebagai biofuel.

Penggunaan minyak kelapa sawit oleh manusia telah dilakukan sekitar 5.000 tahun yang lalu di pesisir barat Afrika. Minyak kelapa sawit juga ditemukan pada akhir abad ke-19 oleh para arkeolog di sebuah makam di Abydos yang berasal dari 3000 SM.[6] Diperkirakan pedagang Arab membawa kelapa sawit ke Mesir.[7]

Elaeis guineensis sekarang banyak dibudidayakan di negara-negara tropis di luar Afrika, khususnya Malaysia dan Indonesia yang bersama-sama menghasilkan minyak kelapa sawit dan menjadi pemasok besar dunia.

KontroversiSunting

Minyak sawit biasanya dianggap sebagai minyak goreng yang paling kontroversial - untuk alasan kesehatan dan lingkungan.[8] Perkebunan kelapa sawit berada di bawah pengawasan ketat terhadap kerusakan sosial dan lingkungan, terutama karena hutan hujan dengan keanekaragaman hayati tinggi dihancurkan, pengaruh gas rumah kaca meningkat, dan pekerja buruh lokal terlantar oleh perusahaan minyak kelapa sawit yang tidak bermoral dan mata pencaharian tradisional terkena dampak negatif. Khususnya di Indonesia, ada juga tekanan yang semakin besar bagi produsen minyak kelapa untuk membuktikan bahwa mereka tidak membahayakan hewan langka dalam proses pembudidayaan.[9]

Pada tahun 2018, iklan TV Natal oleh jaringan supermarket Islandia, diproduksi oleh Greenpeace, dilarang oleh pengawas iklan UK Clearcast.[10] Islandia telah berkomitmen untuk melarang minyak sawit dari produk mereknya sendiri pada akhir 2018.[11]

Potensi kelapa sawit di IndonesiaSunting

Indonesia merupakan produsen kelapa sawit terbesar di dunia yang mampu memasok setengah dari kebutuhan kelapa sawit dunia. Kelapa sawit yang dibudidayakan di Indonesia terdiri dari dua jenis yaitu E. guineensis dan E. oleifera. Menurut data Kementerian Pertanian, jumlah tenaga kerja dan petani yang bekerja dalam perkebunan kelapa sawit di Indonesia diperkirakan mencapai 5,99 juta pada tahun 2017. Jumlah ini mengalami peningkatan sebanyak 200.000 orang dibandingkan dengan tahun 2016. Berdasarkan Badan Pusat Statistik Indoensia, luas areal perkebunan kelapa sawit di Indonesia pada tahun 2013 hingga 2017 mengalami kenaikan, kecuali pada tahun 2016. Pada tahun 2016, luas areal perkebunan kelapa sawit mengalami penurunan sekitar 0,52 persen dibandingkan tahun 2015 menjadi 11,20 juta ha. Sedangkan pada tahun 2017, luas areal perkebunan kelapa sawit mengalami peningkatan sebesar 9,8 persen dari tahun 2016 menjadi 12,30 juta ha dengan sebagian besar dikelola oleh PTPN. Hampir 70% perkebunan kelapa sawit erletak di Sumatra, dan sisanya tersebar di Aceh, Kalimantan, Sulawesi dan Papua.. Perkebunan kelapa sawit tidak umum ditemukan di daerah Pulau Jawa karena karakteristik tanah dan iklim yang kurang mendukung pertumbuhan kelapa sawit. Di Jawa, perkebunan kelapa sawit dapat ditemui di daerah Jawa Barat dan Bnten. Perkebunan ini sebagian besar berasal dari peralihan perkebunan teh atau karet. Produksi minyak kelapa sawit berupa crude palm oil atau CPO terus mengalami peningkatan pada tahun 2013 hingga 2017. Pada tahun 2017, diperkirakan jumlah produksi CPO meningkat sebesar 9,46 perse menjadi 34,47 juta ton.[12]

Pemerian botaniSunting

 
African Oil Palm (Elaeis guineensis)

Kelapa sawit berbentuk pohon. Tingginya dapat mencapai 24 meter. Akar serabut tanaman kelapa sawit mengarah ke bawah dan samping. Selain itu juga terdapat beberapa akar napas yang tumbuh mengarah ke samping atas untuk mendapatkan tambahan aerasi.

Seperti jenis palma lainnya, daunnya tersusun majemuk menyirip. Daun berwarna hijau tua dan pelepah berwarna sedikit lebih muda. Penampilannya agak mirip dengan tanaman salak, hanya saja dengan duri yang tidak terlalu keras dan tajam. Batang tanaman diselimuti bekas pelepah hingga umur 12 tahun. Setelah umur 12 tahun pelapah yang mengering akan terlepas sehingga penampilan menjadi mirip dengan kelapa.

Bunga jantan dan betina terpisah namun berada pada satu pohon (monoecious diclin) dan memiliki waktu pematangan berbeda sehingga sangat jarang terjadi penyerbukan sendiri. Bunga jantan memiliki bentuk lancip dan panjang sementara bunga betina terlihat lebih besar dan mekar.

Tanaman sawit dengan tipe cangkang pisifera bersifat female steril sehingga sangat jarang menghasilkan tandan buah dan dalam produksi benih unggul digunakan sebagai tetua jantan.

Buah sawit mempunyai warna bervariasi dari hitam, ungu, hingga merah tergantung bibit yang digunakan. Buah bergerombol dalam tandan yang muncul dari tiap pelapah. Minyak dihasilkan oleh buah. Kandungan minyak bertambah sesuai kematangan buah. Setelah melewati fase matang, kandungan asam lemak bebas (FFA, free fatty acid) akan meningkat dan buah akan rontok dengan sendirinya.

Buah terdiri dari tiga lapisan:

  • Eksoskarp, bagian kulit buah berwarna kemerahan dan licin.
  • Mesoskarp, serabut buah
  • Endoskarp, cangkang pelindung inti

Inti sawit (kernel, yang sebetulnya adalah biji) merupakan endosperma dan embrio dengan kandungan minyak inti berkualitas tinggi.

Kelapa sawit berkembang biak dengan cara generatif. Buah sawit matang pada kondisi tertentu embrionya akan berkecambah menghasilkan tunas (plumula) dan bakal akar (radikula).

Syarat hidupSunting

Habitat aslinya adalah daerah semak belukar. Sawit dapat tumbuh dengan baik di daerah tropis (15° LU - 15° LS). Di Indonesia, kelapa sawit tersebar di daerah Aceh, pantai timur Sumatra, Kalimantan, Sulawesi dan Papua. Kelapa sawit biasa ditemukan di daerah semak belukar dengan berbagai jenis tipe tanah seperti podzolik, latosol, hidromorfik kelabu, alluvial atau regosol, tanah gambut saprik, dataran pantai dan muara sungai. Jenis tanah tersebut mempengaruhi tingkat produksi kelapa sawit, dimana produktivitas kelapa sawit yang ditumbuhkan di tanah podzolik lebih tinggi dibandingkan ditumbuhkan di tanah berpasir dan gambut. Kelapa sawit kurang optimal jika ditumbuhkan di Pulau Jawa karena jenis tanahnya yang kurang sesuai dengan jenis tanah yang mendukung pertumbuhan kelapa sawit. Temperatur optimal untuk pertumbuhan kelapa sawit adalah 24-28 °C dengan ketinggian 1-500 mdpl dan tingkat kelembaban 80-90%. Kecepatan angin yang optimal adalah 5-6 km/jam, dimana kecepatan angin akan membantu proses penyerbukan bunga kelapa sawit. Kelapa sawit membutuhkan curah hujan yang sangat tinggi yaitu sekitar 1500-4000 mm per tahun. Tingkat curah hujan mempengaruhi jumlah pelepah yang dihasilkan oleh kelapa sawit. Pola curah hujan tahunan memengaruhi perilaku pembungaan dan produksi buah sawit. Kebutuhan penyinaran kelapa sawit berada pada rentang normal yaitu 5-7 jam/hari, sehingga dalam perkebunan kelapa sawit jarak tanam dibuat dengan ukuran 9x9 meter agar setiap tumbuhan mendapatkan cukup cahaya. [13][14]

Inovasi dalam produksiSunting

Biji kelapa sawit tidak berkecambah secara cepat karena adanya sifat dormansi. Batang kelapa sawit memiliki kecepatan tumbuh sekitar 35-75 cm per tahunnya. Untuk meningkatkan kecepatan produksi, maka dilakukan beberapa inovasi. Metode pertama yang dilakukan adalah pengecambahan biji kelapa sawit. Hal ini dilakukan untuk menghilangkan dormansi benih dan meningatkan persentasi daya kecambah. Metode kedua adalah pemupukan. Pupuk yang dapat ditambahan dapat berupa pupuk organik maupun anorganik. Pupuk organik dimanfaatkan dalam memperbaiki struktur tanah dan memberikan pasokan zat hara bagi tanaman. Pupuk anorganik yang biasa ditambahkan adalah pupuk NPK. Efektivitas pemupukan akan tinggi jika pupuk diberikan dalam dosis yang rendah secara kontinu.[14] Metode ketiga adalah pengendalian gulma. Pengendalian gulma dapat dilakukan secara manual, kimiawi dan biologis. Secara manual dapat dilakukan melalui penyiangan piringan kelapa sawit dengan memotong rerumputan. Pengendalian gulma secara kimiawi dilakukan dengan pemberian herbisida dengan memperhatikan beberapa faktor yaitu mekanisme kerja herbisida, cara pemberian dan sifat gulma. Herbisida memiliki berbagai macam mekanisme kerja seperti mempengaruhi respirasi dan fotosintesis gulma, serta menghambat perkecambahan gulma, menghambat sintesis asam amino dan metabolisme lipid [15] Metode keempat adalah pengendalian hama. Hama yang umum menyerang kelapa sawit antara lain ulat api, ulat kantong, tikus, rayap, kumbang bahkan babi hutan. Pengendalian hama dapat dilakukan dengan pemberian insektisida atau menggunakan predator alaminya.[14]

JenisSunting

Kelapa sawit yang dibudidayakan terdiri dari dua jenis: E. guineensis dan E. oleifera. Jenis pertama yang terluas dibudidayakan orang. dari kedua species kelapa sawit ini memiliki keunggulan masing-masing. E. guineensis memiliki produksi yang sangat tinggi dan E. oleifera memiliki tinggi tanaman yang rendah. banyak orang sedang menyilangkan kedua species ini untuk mendapatkan species yang tinggi produksi dan gampang dipanen. E. oleifera sekarang mulai dibudidayakan pula untuk menambah keanekaragaman sumber daya genetik.

Penangkar seringkali melihat tipe kelapa sawit berdasarkan ketebalan cangkang, yang terdiri dari

  • Dura,
  • Pisifera, dan
  • Tenera.

Dura merupakan sawit yang buahnya memiliki cangkang tebal sehingga dianggap memperpendek umur mesin pengolah namun biasanya tandan buahnya besar-besar dan kandungan minyak per tandannya berkisar 18%. Pisifera buahnya tidak memiliki cangkang, sehingga tidak memiliki inti (kernel) yang menghasilkan minyak ekonomis dan bunga betinanya steril sehingga sangat jarang menghasilkan buah. Tenera adalah persilangan antara induk Dura dan jantan Pisifera. Jenis ini dianggap bibit unggul sebab melengkapi kekurangan masing-masing induk dengan sifat cangkang buah tipis namun bunga betinanya tetap fertil. Beberapa tenera unggul memiliki persentase daging per buahnya mencapai 90% dan kandungan minyak per tandannya dapat mencapai 28%.

Untuk pembibitan massal, sekarang digunakan teknik kultur jaringan.

Hasil tanamanSunting

Minyak sawit digunakan sebagai bahan baku minyak goreng, margarin, sabun, kosmetika, industri baja, kawat, radio, kulit dan industri farmasi. Minyak sawit dapat digunakan untuk begitu beragam peruntukannya karena keunggulan sifat yang dimilikinya yaitu tahan oksidasi dengan tekanan tinggi, mampu melarutkan bahan kimia yang tidak larut oleh bahan pelarut lainnya, mempunyai daya melapis yang tinggi dan tidak menimbulkan iritasi pada tubuh dalam bidang kosmetik.[16]

Bagian yang paling populer untuk diolah dari kelapa sawit adalah buah. Bagian daging buah menghasilkan minyak kelapa sawit mentah yang diolah menjadi bahan baku minyak goreng dan berbagai jenis turunannya. Kelebihan minyak nabati dari sawit adalah harga yang murah, rendah kolesterol, dan memiliki kandungan karoten tinggi. Minyak sawit juga diolah menjadi bahan baku margarin.

Minyak inti menjadi bahan baku minyak alkohol dan industri kosmetika. Bunga dan buahnya berupa tandan, bercabang banyak. Buahnya kecil, bila masak berwarna merah kehitaman. Daging buahnya padat. Daging dan kulit buahnya mengandung minyak. Minyaknya itu digunakan sebagai bahan minyak goreng, sabun, dan lilin. Ampasnya dimanfaatkan untuk makanan ternak. Ampas yang disebut bungkil inti sawit itu digunakan sebagai salah satu bahan pembuatan makanan ayam. Tempurungnya digunakan sebagai bahan bakar dan arang.

Buah diproses dengan membuat lunak bagian daging buah dengan temperatur 90 °C. Daging yang telah melunak dipaksa untuk berpisah dengan bagian inti dan cangkang dengan pressing pada mesin silinder berlubang. Daging inti dan cangkang dipisahkan dengan pemanasan dan teknik pressing. Setelah itu dialirkan ke dalam lumpur sehingga sisa cangkang akan turun ke bagian bawah lumpur.

Sisa pengolahan buah sawit sangat potensial menjadi bahan campuran makanan ternak dan difermentasikan menjadi kompos.

Standardisasi produk minyak kelapa sawitSunting

Produk utama dari kelapa sawit adalah minyak berupa crude palm oil (CPO) dan palm kernel oil (PKO). Kedua jenis minyak ini memiliki perbedaan sumber yaitu CPO berasal dari sabut kelapa sawit sedangkan PKO berasal dari biji atau kernel kelapa sawit. Standar kualitas minyak kelapa sawit ditentukan oleh beberapa faktor antara lain kandungan air dan kotoran, kandungan asam lemak bebas, warna bilangan peroksida. Penentuan kualitas ini mengacu pada beberapa standar seperti SNI, CODEX STAN, dan PORAM. Berdasarkan SNI 01-2901-2006, minyak kelapa sawit yang memenuhi standar memiliki warna kuning jingga hingga kemerahan, kandungan asam lemak bebas sebesar 5% b/b satuan, kadar kotoran sebesar 0,25% dan kadar air sebesar 0,25%.. Komponen karoten pada minyak kelapa sawit yang baik menurut CODEX STAN adalah 500 ppm. Sedangkan parameter DOBI menurut PORAM adalah sebesar 2,3 satuan. Produk olahan lebih lanjut yang dapat dihasilkan dari minyak kelapa sawit antara lain adalah cokelat, lipstik, margarin, detergen, sabun, dan biodiesel.[17][18][19]

Sejarah perkebunan kelapa sawitSunting

Kelapa sawit didatangkan ke Indonesia oleh pemerintah Hindia Belanda pada tahun 1848. Beberapa bijinya ditanam di Kebun Raya Bogor, sementara sisa benihnya ditanam di tepi-tepi jalan sebagai tanaman hias di Deli, Sumatra Utara pada tahun 1870-an. Pada saat yang bersamaan meningkatlah permintaan minyak nabati akibat Revolusi Industri pertengahan abad ke-19. Dari sini kemudian muncul ide membuat perkebunan kelapa sawit berdasarkan tumbuhan seleksi dari Bogor dan Deli, maka dikenallah jenis sawit "Deli Dura".

Pada tahun 1911, kelapa sawit mulai diusahakan dan dibudidayakan secara komersial dengan perintisnya di Hindia Belanda adalah Adrien Hallet, seorang Belgia, yang lalu diikuti oleh K. Schadt. Perkebunan kelapa sawit pertama berlokasi di Pantai Timur Sumatra (Deli) dan Aceh.Tepatnya di daerah Pulu Raja ( Sumatra Utara) dan di Sungai Liput (Aceh) Luas areal perkebunan mencapai 5.123 ha. Pusat pemuliaan dan penangkaran kemudian didirikan di Marihat (terkenal sebagai AVROS), Sumatra Utara dan di Rantau Panjang, Kuala Selangor, Malaya pada 1911-1912. Di Malaya, perkebunan pertama dibuka pada tahun 1917 di Ladang Tenmaran, Kuala Selangor menggunakan benih dura Deli dari Rantau Panjang. Di Afrika Barat sendiri penanaman kelapa sawit besar-besaran baru dimulai tahun 1910.

Hingga menjelang pendudukan Jepang, Hindia Belanda merupakan pemasok utama minyak sawit dunia. Semenjak pendudukan Jepang, produksi merosot hingga tinggal seperlima dari angka tahun 1940.[20]

Usaha peningkatan pada masa Republik dilakukan dengan program Bumil (buruh-militer) yang tidak berhasil meningkatkan hasil, dan pemasok utama kemudian diambil alih Malaya (lalu Malaysia).

Baru semenjak era Orde Baru perluasan areal penanaman digalakkan, dipadukan dengan sistem PIR Perkebunan. Perluasan areal perkebunan kelapa sawit terus berlanjut akibat meningkatnya harga minyak bumi sehingga peran minyak nabati meningkat sebagai energi alternatif.

Beberapa pohon kelapa sawit yang ditanam di Kebun Botani Bogor hingga sekarang masih hidup, dengan ketinggian sekitar 12m, dan merupakan kelapa sawit tertua di Asia Tenggara yang berasal dari Afrika.

Hama dan penyakitSunting

Faktor yang dapat menyebabkan penurunan hasil produksi pada tanaman kelapa sawit diantaranya hama dan penyakit. Serangan hama utama ulat pemakan daun kelapa sawit, yakni ulat api (Lepidoptera: Limacodidae) dan ulat kantung (Lepidoptera: Psychidae). [21] Potensi kehilangan hasil yang disebabkan kedua hama ini dapat mencapai 35%. [22] Jenis ulat api yang paling banyak ditemukan di lapangan adalah Setothosea asigna, Setora nitens, Darna trima, Darna diducta dan Darna bradleyi. [23] Selain hama, penyakit juga menimbulkan masalah pada pertanaman kelapa sawit. Penyakit busuk pangkal batang yang disebabkan oleh infeksi cendawan Ganoderma boninense merupakan penyakit penting yang menyerang kebun-kebun kelapa sawit. Cendawan G. boninense merupakan patogen tular tanah yang merupakan parasitik fakultatif dengan kisaran inang yang luas dan mempunyai kemampuan saprofitik yang tinggi. [24] Gejala awal penyakit busuk pangkal batang pada tanaman kelapa sawit belum menghasilkan (TBM) terlihat dari luar adanya daun yang menguning pada satu sisi, atau adanya bintik-bintik kuning dari daun muda, yang kemudian diikuti dengan nekrosis. Pada tanaman menghasilkan (TM), gejala berupa beberapa daun tombak tidak terbuka dan kanopi daun umumnya pucat (menguning). Daun yang terserang kemudian mati dimana nekrosis dimulai pada daun yang paling tua dan merambat meluas ke atas ke arah mahkota daun. Semakin lama, maka tanaman kemudian mati ditandai dengan daun kering terkulai pada ujung pelepah pada batang atau patah tulang di beberapa titik sepanjang anak daun, dan menggantung ke bawah.[25]

Manfaat minyak sawitSunting

Selain manfaat utama minyak sawit sebagai minyak makan, minyak sawit juga dapat digunakan sebagai pengganti lemak susu dalam pembuatan susu kental manis dan tepung susu skim [26]

Kajian metabolomik mengenai kelapa sawitSunting

Kajian metabolomik dilakukan sebagai strategi untuk meningkatkan kualitas dari produk minyak kelapa sawit. Analisis metabolit yang terdapat dalam minyak kelapa sawit dapat dilakukan menggunakan Ulta-High-Pressure Liquid Chromatography Mass Spectrometry (UHPLC-MS). Dari spektrum yang dihasilkan dapat diketahui komponen-komponen yang terdapat dalam minyak. Dengan diuji berbagai jenis minyak dengan perlakuan yang berbeda seperti proses pemanenan, pengolahan, dan penyimpanan minyak, maka dapat diketahui varian mana yang menghasilkan produk dengan kualitas tertinggi.[27]

Kajian metabolomik juga dilakukan dengan tujuan mengindentifikasi biomarker dengan melakukan screening pada populasi kelapa sawit yang resisten terhadap Ganoderma boninense. Salah satu penyakit pda kelapa sawit adalah Basal Stem Root atau BSR yang disebabkan oleh Ganoderma boninense. Penyakit BSR merupakan masalah yang serius dan menimbulkan dampak destruktif pada kelapa sawit, umumnya di Asia Tenggara. BSR ini dapat menyebabkan kerugian ekonomi yang besar karena tidak maksimalnya pertumbuhan dan buah kelapa sawit yang dihasilkan. Akibat dampak yang ditumbulkan, maka diperlukan suatu kontrol pengukuran untuk mengatasi kerusakan yang ditimbulkan oleh penyakit pada kelapa sawit yang terserang. Telah dilakukan kontrol pengukuran melalui manajemen penanaman untuk meminimalkan penyebaran BSR seperti penggundukan tanah, penghilangan tanaman yang telah terserang, dan treatment menggunakan fungisida, dazomet, hexacomazole hingga penggunaan pupuk GanoCareTM. Namun perlakuan ini hanya dapat mengontrol penyakit dan menurunkan laju perkembangan penyakit. Kemudian, dilakukan inovasi dengan pendekatan metabolomik. Kelapa sawit dengan kerentanan yang berbeda terhadap G. boninense berdasarkan uji indukan kelapa sawit menggunakan teknik inokulasi akar untuk mengidentifikasi kelapa sawit yang partially tolerant dan rentan terhadap G. boninense dianalisis menggunakan pendekatan metabolomik dengan instrumen GCxGC-TOF-MS. Data yang diperoleh dianalisis dengan analisis multivariat PLS dan OPLS-DA sehingga didapatkan data cross-validation dan fungsi tes respon permutasi. Hasil yang diperoleh menunjukkan bahwa terdapat 7 jenis metabolit yang berkontribusi dalam perbedaan kerentanan kelapa sawit terhadap G. boninense yaitu mannose, xylose, glucopyranose, myo-inositol, dan hexadecanoic acid yang ditemukan dalam jumlah yang tinggi pada kelapa sawit partially tolerant, sedangkan cadaverine dan turanose ditemukan dalam jumlah tinggi pada kelapa sawit yang rentan. Pendekatan ini dapat meningkatkan pemahaman mengenai mekanisme pertahanan kelapa sawit terhadap G. boninense. Metode ini dapat diaplikasikan dalam pemilihan bibit kelapa sawit yang unggul dan rentan terhadap penyakit BSR.[28]

Peningkatan kualitas dan keberlanjutan minyak kelapa sawit dalam hal pengembangbiakan, genomik fungsional dan kulur jaringan dapat dilakukan dengan melakukan analisis menggunakan pendekatan proteomik dan metabolomik atau yang disebut juga PROMET. Analisis PROMET memungkinkan untuk dilakukannya identifikasi sifat ekonomi yang penting dalam budidaya tanaman hasil panen seperti kandungan asam lemak yang nilainya lebih tinggi dan rendemen kelapa sawit yang tinggi. Analisis ini bersifat kompleks dengan menggunakan beberapa instrumentasi seperti Matrix-assisted Laser Desorption Ionization Time of Flight (MALDI-TOF), Liquid Chromatography (LC) dan Gas Chromatography-quadruple-TOF (GC-TOF) dimana MS atau Mass Spectrometry merupakan instrumenttasi yang paling penting. Salah satu analisis yang dilakukan adalah melakukan seleksi kelapa sawit yang toleran terhadap Ganoderma boninense dengan melakukan pengujian terhadap metabolit yang membantu dalam memahami mekanisme gen resisten dalam kelapa sawit dalam melawan penyakit. Penelitian ini dapat meningkatkan pemahaman mengenai penyakit dan kemungkinan diciptakannya produk yang dapat memonitor adanya penyakit. Dalam jangka panjang, penelitian ini akan meingkatkan produktivitas dan keberlanjutan dari minyak kelapa sawit.[29]

Lihat jugaSunting

ReferensiSunting

  1. ^ Gledhill, David (2008). The Name of Plants (edisi ke-4). Cambridge: University Press. hlm. 279. 
  2. ^ Collins Guide to Tropical Plants, ISBN 0-00-219112-1
  3. ^ Sastrosayono, S., 2003. Budidaya Kelapa Sawit. Jakarta: Agromedia Pustaka
  4. ^ Singh, R.; Ong-Abdullah, M.; Low, E.-T.L.; Manaf, M.A.A.; Rosli, R.; Nookiah, R.; Ooi, L.C.-L.; Ooi, S.-E.; Chan, K.-L.; Halim, M.A.; Azizi, N.; Nagappan, J.; Bacher, B.; Lakey, N.; Smith, S.W.; He, D.; Hogan, M.; Budiman, M.A.; Lee, E.K.; DeSalle, R.; Kudrna, D.; Goicoechea, J.L.; Wing, R.A.; Wilson, R.K.; Fulton, R.S.; Ordway, J.M.; Martienssen, R.A.; Sambanthamurthi, R. (2013). "Oil palm genome sequence reveals divergence of interfertile species in Old and New worlds". Nature. 500: 335–339. doi:10.1038/nature12309. PMC 3929164 . PMID 23883927. 
  5. ^ De Marco, Elena; Savarese, Maria; Parisini, Cristina; Battimo, Ilaria; Falco, Salvatore; Sacchi, Raffaele (2007). "Frying performance of a sunflower/palm oil blend in comparison with pure palm oil". European Journal of Lipid Science and Technology. 109 (3): 237–246. doi:10.1002/ejlt.200600192. 
  6. ^ Kiple, Kenneth F.; Conee Ornelas, Kriemhild, ed. (2000). The Cambridge World History of Food. Cambridge University Press. ISBN 0521402166. Diarsipkan dari versi asli tanggal 20 October 2012. Diakses tanggal 30 August 2012. 
  7. ^ Obahiagbon, F.I. (2012). "A Review: Aspects of the African Oil Palm (Elaeis guineesis Jacq.)" (PDF). American Journal of Biochemistry and Molecular Biology: 1–14. doi:10.3923/ajbmb.2012. Diakses tanggal 30 August 2012. 
  8. ^ https://www.independent.co.uk/life-style/palm-oil-health-impact-environment-animals-deforestation-heart-a8505521.html
  9. ^ "Palm Oil Plantations Are Blamed For Many Evils. But Change Is Coming". NPR.org (dalam bahasa Inggris). Diakses tanggal 2017-07-19. 
  10. ^ https://www.independent.co.uk/voices/iceland-christmas-advert-banned-tv-greenpeace-palm-oil-political-emma-thompson-a8626416.html
  11. ^ https://www.bbc.co.uk/news/business-43696948
  12. ^ Badan Pusat Statistik. 2017. Statistik Kelapa Sawit Indonesia. Jakarta: Badan Pusat Statistik
  13. ^ Kiswanto. 2008. Teknologi Budidaya Kelapa Sawit. Jakarta: Badan Penelitian dan Pengembangan Pertanian.
  14. ^ a b c Pahan, I., 2006. Panduan Lengkap Kelapa Sawit Manajemen Agribisnis dari Hulu hingga Hilir. Jakarta.: Penebar Swadaya
  15. ^ Djojosumarto, P. 2008. Teknik Aplikasi Pestisida Pertanian. Yogyakarta: Kanisius
  16. ^ http://web.archive.org/web/20080321235726/http://fitagri.com/kelapa_sawit/kelapa_sawit_main.html
  17. ^ Badan Standardisasi Nasional. 2006. SNI-01-2901-2006: Minyak Kelapa Sawit Mentah / Crude Palm Oil. Jakarta: Badan Standardisasi Nasional
  18. ^ CODEX STAN 210-1999. 1999. Codex Standard for Named Vegetable Oils. USA: CODEX STAN 210
  19. ^ Hasibuan, H.A. 2012. Kajian Mutu dan Karakteristik Minyak Sawit Indonesia serta Produk Fraksinya. Penelitian Kelapa Sawit
  20. ^ http://elearning.unej.ac.id/courses/PNU1705/document/babIklpswt.doc?cidReq=PNU1705
  21. ^ Pengamatan Kelimpahan Ulat Api (Limacodidae) dan Ulat Kantung (Psychidae) serta Predator Pada Perkebunan Kelapa Sawit (Elaeis guineensis Jacq.) Cikidang Plantation Estate di Bawah Naungan Karet
  22. ^ Ulat api (Limacodidae) dan ulat kantung (Psychidae) serta musuh alami pada pertanaman kelapa sawit (Elaeis guineensis jacq.) PTPN VIII, Cimulang
  23. ^ Kelimpahan Populasi Ulat Api (Lepidoptera: Limacodidae) dan Ulat Kantung (Lepidoptera: Psychidae) serta Predator pada Perkebunan Kelapa Sawit (Elaeis guineensis Jacq.) Cikidang Plantation Estate, Sukabumi
  24. ^ Pengembangan Teknik Inokulasi Buatan Ganoderma boninense Pat. Pada Bibit Kelapa Sawit (Elaeis guineensis Jacq.)
  25. ^ "Ganoderma : "Momok Menakutkan" Planter Kelapa Sawit". Sawit Indonesia (dalam bahasa Inggris). Diakses tanggal 2019-03-12. 
  26. ^ [1][penggunaan mnyak kelapa sawit seabgai pengganti lemak susu]
  27. ^ Vargas, Luiz Henrique Galli; Neto, Jorge Candido Rodrigues; de Aquino Ribeiro, José Antônio; Ricci-Silva, Maria Esther; Souza, Manoel Teixeira; Rodrigues, Clenilson Martins; de Oliveira, Anselmo Elcana; Abdelnur, Patrícia Verardi (2016-09-15). "Metabolomics analysis of oil palm (Elaeis guineensis) leaf: evaluation of sample preparation steps using UHPLC–MS/MS". Metabolomics. 12 (10). doi:10.1007/s11306-016-1100-z. ISSN 1573-3882. 
  28. ^ Malaysian Palm Oil Board, No. 6, Persiaran Institusi, Bandar Baru Bangi, 43000 Kajang, Selangor, Malaysia; Rozali, Nurul Liyana; Yarmo, Mohd Ambar; School of Chemical Sciences and Food Technology, Faculty of Science and Technology, Universiti Kebangsaan Malaysia, 43600 Bangi, Selangor, Malaysia; Idris, Abu Seman; Malaysian Palm Oil Board, No. 6, Persiaran Institusi, Bandar Baru Bangi, 43000 Kajang, Selangor, Malaysia; Kushairi, Ahmad; Malaysian Palm Oil Board, No. 6, Persiaran Institusi, Bandar Baru Bangi, 43000 Kajang, Selangor, Malaysia; Ramli, Umi Salamah (2017-02-20). "Metabolomics differentiation of oil palm (Elaeis guineensis Jacq.) spear leaf with contrasting susceptibility to Ganoderma boninense" (PDF). Plant Omics. 10 (02): 45–52. doi:10.21475/poj.10.02.17.pne364. 
  29. ^ Ramli, U.S., Chung, B.L.Y., Tahir, N.I.M., Shahwan, S., Hassa, H., Zain, N., Rozali, N.L., Dzulkafli, S.B., Ishak, N.M., Othman, A. 2016. Proteomics and Metabolomics: Spearheading Oil Palm Improvement and Sustainability. The Planter. 92(1087): 727-737