Bursa Efek Mongolia

Bursa Efek Mongolia (MSE) (Mongolia: Монголын Хөрөнгийн Бирж/Mongolyn Khöröngiin Birj) adalah Bursa efek satu-satunya di Mongolia. Bursa ini berlokasi di Ulanbator.[5] Bursa ini didirikan pada bulan Januari 1991 dengan keputusan Pemerintah Mongolia untuk memprivatisasi aset milik negara.[6]

Bursa Efek Mongolia
TipeBursa efek
Lokasi Ulanbator, Mongolia
Didirikan18 Januari 1991
pemilikNegara
Tokoh pentingManduul Nyamandeleg (Chairman),
Altai Khangai (CEO)
Mata uangTugrik Mongolia (MNT)
Jumlah daftaran219[1]
MarketCapMNT 1.47 triliun (USD 600.6 juta) (Maret 2017),[2][3]
VolumeMNT 348.7 milyar (2016)
IndeksMSE ALL[4]

MSE telah bertumbuh sangat cepat sejak tahun 2006. Pada waktu itu, bursa ini adalah bursa efek terkecil di dunia dengan nilai kapitalisasi pasar kira-kira US$83 juta.[7] Angka itu kemudian tumbuh menjadi US$406 juta pada tahun 2008 dan kemudian menjadi empat kali lipat ke US$2 miliar pada tahun 2011.[8]

Pada tahun 2010 MSE adalah bursa efek dengan performa terbaik di dunia setelah meningkat 121 persen. MSE menempati peringkat kedua terbaik untuk pasar saham dengan angka 57,8 persen setelah Bursa Efek Caracas yang meningkat sebesar 80,8 persen.[9][10][11] Pada bulan Maret 2017, sudah ada 219 perusahaan yang terdaftar dengan kapitalisasi pasar 1,47 triliun MNT (US$600.6 juta).

SejarahSunting

 
Bursa Efek Mongolia

Peran dalam privatisasi aset negaraSunting

Bursa Efek Mongolia didirikan pada tahun 1991 sebagai kendaraan untuk melaksanakan rencana pemerintah untuk privatisasi perusahaan besar milik negara. Dalam upaya untuk memastikan pemerataan aset, pemerintah Mongolia memilih untuk memberi skema berbasis-voucher; satu voucher biru senilai MNT7,000 dikeluarkan untuk setiap warga negara yang lahir sebelum 31 Mei 1991 untuk membeli saham di perusahaan-perusahaan besar, dan 29 jaringan broker nasional didirikan untuk melayani pesanan mereka.[12][13] Voucher merah senilai MNT3,000 juga dikeluarkan untuk membeli aset-aset perusahaan-perusahaan kecil yang tidak terdaftar di bursa; tidak seperti voucher biru, voucher merah ini bisa diperdagangkan di pasar sekunder.[14] Pada awalnya, para pejabat bursa berharap untuk memprivatisasi 80% aset negara, namun pada 7 Juni 1991, Resolusi Pemerintah No. 170 mengumumkan bahwa negara akan mempertahankan saham 50% di beberapa perusahaan besar; pertambangan, energi, transportasi, komunikasi, dan perusahaan pasokan air dikecualikan dari skema privatisasi ini.[15][16]

Lelang secara resmi dimulai pada tanggal 7 Februari 1992; dengan peluncuran saham di tiga perusahaan. Hari pertama omzet mencapai 16.000 saham, senilai US$15.000; tumbuh lebih dari dua belas kali lipat menjadi 200.000 saham di bulan Maret. Lelang terus diadakan mingguan; broker regional mengumpulkan voucher dan pesanan saham dari individu-individu. Komunikasi sering dilakukan oleh modem. Jam perdagangan dibatasi untuk selama dua jam pada satu hari per minggu, diperluas ke dua kali lima jam hari per minggu pada bulan Juli. 30 pejabat bursa menggunakan sisa waktu kerja mereka untuk mempersiapkan infrastruktur dan rekomendasi legal untuk perdagangan di pasar sekunder.[15][16] Pada bulan Oktober, 121 perusahaan telah melantai di bursa.[17]

Mongolia dengan segera menciptakan tingkat kepemilikan saham tertinggi di dunia karena semakin banyak orang yang menukarkan voucher mereka untuk saham.[18] Anggota keluarga diizinkan untuk mentransfer voucher mereka satu sama lain, sehingga tidak semua orang menjadi pemegang saham, tetapi puncak jumlah pemegang saham diperkirakan satu juta, atau 43% dari jumlah penduduk pada saat itu.[19] Pada akhirnya, total 475 perusahaan senilai MNT17.33 miliar diprivatisasi oleh lelang dan terdaftar di Bursa Efek Mongolia, termasuk MNT5.04 miliar dari perusahaan-perusahaan manufaktur, MNT4.09 miliar dari perusahaan-perusahaan pertanian, MNT1.27 miliar dari perusahaan konstruksi, MNT1.25 miliar dari peternakan negara, MNT580 juta dari perusahaan perdagangan, MNT520 juta dari perusahaan transportasi, dan MNT280 juta dari perusahaan-perusahaan di sektor-sektor lainnya.[14]

Lokasi fisikSunting

Bursa Efek Mongolia terletak di bekas gedung Bioskop Anak, dekat Lapangan Sükhbaatar, sebelah kantor pusat Perusahaan Telekomunikasi Mongolia dan di seberang gedung Parlemen Mongolia. Gedung ini diperbaharui dengan biaya US$4,5 juta sebelum perdagangan resmi dimulai; kursi dan layar dilepas, lantai perdagangan diciptakan dan dilengkapi dengan komputer, dan wastafel otomatis dipasang di kamar mandi.[13][15] Bangunan itu sendiri bergaya neoklasik berwarna pink-dan-putih.[18] Salah satu sudut bangunan telah dipartisi untuk menjadi sebuah warung internet.[20] Karena warna bangunannya itu, koresponden Financial Times Leslie Hook, mendefinisikannya sebagai rumah ekuitas pink.[21] Namun sejak itu, bangunan telah dicat menjadi abu-abu.

ReferensiSunting

  1. ^ "Монголын хөрөнгийн бирж". 
  2. ^ "Монголын хөрөнгийн бирж". Diarsipkan dari versi asli tanggal 2016-08-10. Diakses tanggal 2017-11-22. 
  3. ^ "Salinan arsip". Diarsipkan dari versi asli tanggal 2012-04-19. Diakses tanggal 2017-11-22. 
  4. ^ "Монголын хөрөнгийн бирж". 
  5. ^ "Монголын Хєрєнгийн Бирж: Бидний тухайБидний: Танилцуулга" (dalam bahasa Mongolian). Mongolian Stock Exchange. Diakses tanggal 2007-09-11. 
  6. ^ "Монголын хөрөнгийн бирж". 
  7. ^ Jeffs, Luke (2007-02-12). "Mongolia earns a sporting chance with fledgling operation". Dow Jones Financial News Online. Diakses tanggal 2007-09-11. 
  8. ^ Humber, Yuriy (26 October 2011). "Mongolia Delays First U.S. Dollar Bond Sale as Economy Set for 20% Growth". Bloomberg. 
  9. ^ "Мэдээ - www.netcapital.mn". 
  10. ^ "Salinan arsip". Diarsipkan dari versi asli tanggal 2011-12-30. Diakses tanggal 2017-11-22. 
  11. ^ "Mongolia: the pink house of equities". 
  12. ^ Anderson, James H.; Georges Korsun; Peter Murrell (2003). "Glamour and value in the land of Chingis Khan" (PDF). Journal of Comparative Economics (31): 34–57. ISSN 0147-5967. Diarsipkan dari versi asli (PDF) tanggal 2008-05-28. Diakses tanggal 2017-11-22. 
  13. ^ a b Griffiths, Sian (2000-07-11). "How to start a stock exchange". BBC News. Diakses tanggal 2007-09-11. 
  14. ^ a b Nixson, Frederick (1998). "The Economic Development Experience of Mongolia". Dalam Kuotsai Liou. Handbook of Economic Development. CRC Press. hlm. 675–696. ISBN 082470181X. 
  15. ^ a b c Gluckman, Ron (1992). "Yakking Up Mongolian Finance". Asia, Inc. Diakses tanggal 2007-09-11. 
  16. ^ a b Boone, Peter; Baavaa Tarvaa; Adiya Tsend; Enkhbold Tsendjav; Narantsetseg Unenburen. "Mongolia's Transition to a Democratic Market System". Dalam Wing Thye Woo; Stephen Parker; Jeffrey D. Sachs. Economies in Transition: Comparing Asia and Europe. Boston, Massachusetts: MIT Press. hlm. 103–130. ISBN 0262731207. 
  17. ^ Jeffries, Ian (1993). Socialist Economies and the Transition to the Market: A Guide. Routledge. hlm. 495. ISBN 0-415-07580-7. 
  18. ^ a b Gregson, Jonathan (December 2004). "Coming in from the cold". Global Finance. Diakses tanggal 2007-09-11. 
  19. ^ Melloan, George (1997-07-07). "A Landlocked Asian Nation Struggles to Breathe Free". The Wall Street Journal. Diakses tanggal 2007-09-12. 
  20. ^ Kohn, Michael (2005). Mongolia. Lonely Planet. hlm. 67. ISBN 1-74059-359-6. 
  21. ^ "Mongolia: the pink house of equities".