Buka menu utama

Bunglon (sinetron)

Sinetron Indonesia

Bunglon merupakan sebuah sinetron yang ditayangkan di SCTV sejak tahun 2004. Pemain utama di sinetron ini ialah Fauziah Alatas, Doly Indra Permana, Cynthia Apsari, Muhammad Amien, Arini Astari, Kukuh Adirizky, Heliya S, Yudi Lifa, Berliana Febrianti, dan masih banyak lagi. Jumlah episode yang ditayangkan adalah 4, meskipun sebenarnya sudah dibuat 26 episode.[2] Sinetron ini diproduksi oleh Rapi Films. Sinetron ini mendapat kecaman dari masyarakat dan enam lembaga swadaya masyarakat (LSM) karena dinilai tidak memberikan contoh yang baik bagi masyarakat, sehingga penayangan sinetron ini telah dihentikan.

Bunglon
Sinetron Bunglon.jpg
Poster
PembuatRapi Films
PemeranFauziah Alatas
Doly Indra Permana
Cynthia Apsari
Muhammad Amien
Arini Astari
Kukuh Adirizky
Heliya S
Yudi Lifa
Berliana Febrianti
NegaraIndonesia
Jumlah episode4[1]
Produksi
LokasiJakarta
Durasi1 Jam
Rilis
Jaringan penyiarSCTV
Format audioStereo
Dolby Digital 5.1
Tayang perdanaMinggu, 20 Juni 2004
Tanggal rilisMinggu, 20 Juni 2004 –
Minggu, 11 Juli 2004[2]
Kronologi
Diawali olehGembel Naik Kelas
Dilanjutkan olehCewek Tulalit

SinopsisSunting

Nina (Fauziah Alatas) berasal dari sebuah keluarga harmonis yang cukup berada. Ibu Nina (Berliana Febrianti) figur seorang ibu yang sempurna, penyayang dan penuh perhatian pada ketiga anaknya, Dodi, Nina dan Danang. Dia hanya tidak mengetahui kalau Nina memiliki perangai yang bertolak belakang, alim di rumah tetapi ‘ratu gaul’ di luar.

Sekolah Nina kedatangan seorang murid baru berwajah tampan yang bernama Bagus Raditya (Doly Indra Permana). Selain wajah tampannya, sikapnya yang cool langsung menyita perhatian murid-murid perempuan di sekolah tersebut, tak terkecuali Nina. Nina jatuh hati tetapi belaga sok jaim dihadapan semua orang kecuali sahabat-sahabatnya, Cecil (Widaningsih), Tari (Arini Astari) dan Lusi (Cynthia Apsari). Sementara di tempat lain, Bianca, saingan Nina di sekolah, juga sibuk mencari cara mendapatkan Adit. Bianca tak mau kalah bersaing dengan Nina.

Kehadiran Adit mengganggu Robin yang selama ini mengincar Nina sejak kelas satu. Peluangnya mendapatkan Nina tentu semakin kecil dengan adanya Adit. Bianca yang menyadari hal ini memanfaatkan situasi dengan mengajak Robin bertaruh, ia mengincar Adit sementara Robin harus mendapatkan Nina. Robin jelas gengsi dan menerima tantangan tersebut.

Satu malam Nina kembali membuat ulah. Berlagak hendak mengerjakan PR, ia menolak ajakan orang tuanya untuk makan malam di luar rumah. Padahal itu hanya alasan agar ia bisa pergi bersama genk-nya menonton premiere film bintang favoritnya. Sepeninggalan orang tuanya, Nina pun berdandan funky dan menyelinap keluar rumah. Di bioskop tempatnya menonton, satu hal tak terduga terjadi. Keesokan harinya Nina pucat melihat wajahnya dengan dandanan modis terpampang jelas di sebuah surat kabar yang sedang dibaca ayahnya.[3]

Tokoh dan pemeranSunting

  • Fauziah Alatas sebagai Nina,[2] seorang siswa SLTP berambut pendek, berperawakan kurus, pandai berargumentasi, dan mendapatkan peringkat yang bagus di sekolahnya. Di hadapan orang tuanya Nina selalu memperlihatkan religiusitas yang tinggi dengan berperilaku sopan kepada orang tuanya, namun dia berkebiasaan menganti seragamnya di tengah jalan dengan baju lengan pendek dan rok mini. Selain itu, dia juga suka memakai perhiasan beraneka warna dan tampil funky. Dia berani membawa majalah Playboy, sesuatu yang lumrahnya dilakukan oleh siswa laki-laki.[4]
  • Arini Astari sebagai Tari.[2] Tari adalah salah satu anggota geng Nina, namun Tari berpenampilan kalem dan dia adalah anak yang alim dan selalu melakukan salat. Ibu Tari adalah seorang wanita panggilan kelas atas. Ibu Tari sering melakukan kekerasan pada Tari untuk memaksanya supaya mengikuti kebiasaan ibunya.[4]
  • Doly Indra Permana sebagai Adit[2]
  • Cynthia Apsari sebagai Lusi[2]
  • Muhammad Amien sebagai Robin[2]
  • Berliana Febrianti sebagai ibu Nina[2]

PenerimaanSunting

Bunglon memperoleh kecaman dari masyarakat karena ceritanya yang terlalu mengada-ada, menjungkirbalikkan norma kehidupan dan pola pengasuhan, dan menonjolkan nilai-nilai antisosial.[2] Di dalam sinetron ini, remaja perempuan digambarkan sebagai pelaku dan korban kekerasan, dan kekerasan yang ditunjukkan menjurus ke arah tindak kriminal serta terjadi di dalam rangkaian kekerasan yang tidak ada putusnya.[4] Terdapat adegan pelecehan seksual yang ditampilkan tanpa resistansi dan bahkan digambarkan sebagai perilaku yang layak.[4] Enam lembaga swadaya masyarakat (LSM) anak dan remaja, yaitu Yayasan Kesejahteraan Anak Indonesia (YKAI), Aliansi Masyarakat Anti Pornografi (AMAP), Kritis Media untuk Anak (KIDIA), Media Ramah Keluarga (Marka), Media Watch and Consumer Center (MWCC), dan Yayasan Kita dan Buah Hati mengeluarkan pernyataan untuk menghentikan penayangan sinetron ini.[5] Ini merupakan salah satu kasus resistensi masyarakat yang jarang terjadi pada industri sinetron di Indonesia.[4] Oleh karena itu, penayangan sinetron ini telah dihentikan.[2]

ReferensiSunting

  1. ^ Sinetron Bunglon Menuai Protes[pranala nonaktif]
  2. ^ a b c d e f g h i j "Dinilai Meresahkan Sinetron Bunglon Distop". Suara Merdeka. 14 Juli 2004. Diarsipkan dari versi asli tanggal 8 Mei 2008. 
  3. ^ "Bunglon". Rapi Films. Diakses tanggal 18 Juli 2018. 
  4. ^ a b c d e Santoso, Widjajanti M. (Februari–Juli 2012). "Konstruksi Remaja Perempuan di Sinetron". Journal Communication Spectrum. 2 (1): 84–99. Diakses tanggal 18 Juli 2018. 
  5. ^ "Belajar dari "sinetron bunglon" perlunya regulasi penyiaran". Jurnal Perempuan: Untuk Pencerahan dan Kesetaraan (37): 44. September 2004. 

Pranala luarSunting