Buka menu utama

Bubur Asyura adalah makanan khas daerah Desa Penyengat, Riau. Bahan utamanya adalah biji-bijian yang dimasak dengan cara dibuat bubur. Bubur ini tentu saja dibuat pada bulan Asyura atau bulan Muharam tepat pada tanggal 10 Muharam.[1]

Bubur Asyura sebagai makanan yang dibuat untuk memperingati peristiwa syahidnya cucu Muhammad di Karbala.[1]

Sebelum menyantap Bubur Asyura, warga Desa Penyengat melakukan pawai. Mereka mengenakan pakaian Melayu, para wanita memakai baju kurung Melayu atau ada pula yang menggunakan kebaya labuh (panjang), satu stel dengan padanannya kerudung dan jilbab. Para pria menggunakan baju kurung melayu teluk belanga, cekak musang atau baju muslim (baju koko) dengan padanan celana panjang yang serasi warnanya atau baju kurung satu stel serta menggunakan kain songket yang dilipat dua dan dililitkan di pinggang. Cara menggunakan sarungnya ada yang di dalam baju kurung dan ada pula yang di luar baju kurung.[1]

Pembuatan bubur Asyura ini bukan merupakan suatu ibadah ritual syar'i umat Islam pada umumnya, tetapi hanya budaya masyarakat setempat.[1]

ReferensiSunting

  1. ^ a b c d Rasyid, Harun Nur (2004-01-01). Ensiklopedi Makanan Tradisional Indonesia (Sumatra). Direktorat Jenderal Kebudayaan.