Buka menu utama

Benteng Bukit Tajadi atau kadang salah dieja Bukit Tak Jadi adalah bekas benteng pertahanan Kaum Padri yang terletak di Kampung Chaniago, Nagari Ganggo Hilie, Kecamatan Bonjol, Kabupaten Pasaman, Sumatra Barat, Indonesia. Saat meletusnya Perang Padri, benteng ini menjadi pusat komando pasukan Padri. Area benteng meliputi bukit berbentuk persegi panjang yang memiliki kemiringan hampir tegak lurus ke atas. Di atas bukit, pasukan Padri dulunya membangun struktur menyerupai benteng sebagai basis pertahanan Tuanku Imam Bonjol dan pengikutnya dari serangan pasukan Belanda sehingga dalam literatur Belanda area ini disebut sebagai Benteng Bonjol.[1]

Dalam catatan harian seorang perwira Belanda berpangkat Letnan I J.C. Boelhouwer, Benteng Bonjol digambarkan memiliki tembok-tembok yang terbuat dari batu-batu besar dengan teknik pembuatan "hampir sama seperti benteng-benteng di Eropa". Sisi bukit dikelilingi oleh parit pertahanan dan rumpun bambu berduri yang sulit ditembus. Sejak 1833, pasukan Belanda berkali-kali melancarkan serangan untuk menaklukan Benteng Bonjol, tetapi menuai kegagalan. Belanda baru dapat menjatuhkan Benteng Bonjol setelah serangkaian serangan bertubi-tubi pada 15 Agustus 1837 di bawah pimpinan Letnan Kolonel Michiels.[2]

Pada 2007, Balai Pelestarian Cagar Budaya (BPCB) Sumatra Barat menetapkan bekas Benteng Bonjol sebagai cagar budaya. Namun, kondisinya saat ini tak terawat. Tidak ditemukan lagi struktur bangunan yang mengindikasikan sebuah bangunan pertahanan. Pada era belakangan, didirikan monumen di puncak bukit untuk mengenang perjuangan Tuanku Imam Bonjol. Dari atas bukit, terhampar pemandangan daerah Bonjol dan sekitarnya.[3]

DeskripsiSunting

Bukit Tajadi memanjang sekitar 1 kilometer. Topografi tanahnya berundak hingga ketinggian 400 sampai 500 meter. Sisi bukit mempunyai sudut kemiringan yang terjal, bahkan hampir tegak lurus. Jejeran rumpun bambu berduri ditanam rapat-rapat mengelilingi sisi bukit yang dulunya berfungsi sebagai sistem pertahanan yang sulit ditembus oleh musuh, sementara Kaum Padri dapat mengamati gerak musuh tanpa terlihat.[4][3][5]

 
Lukisan Bonjol pada tahun 1839.

Bukit Tajadi berbentuk segi empat panjang yang dipisahkan oleh sebuah sungai dengan aliran yang deras. Dalam buku Kenang-kenangan Sewaktu di Sumatera Barat tahun 1831–1834, seorang perwira Belanda berpangkat Letnan I J.C. Boelhouwer menyebut Benteng Bonjol dibangun dengan teknik pembuatan hampir sama seperti benteng-benteng di Eropa. Tiga sisi Bonjol dikelilingi oleh dinding pertahanan dua lapis setinggi kurang lebih 3 meter. Tembok luar terdiri dari batu-batu besar, yang menurut Boelhouwer, merupakan tembok benteng yang kokoh. Di antara kedua tembok benteng, dibuat parit yang dalam dengan lebar 4 meter. Di atas tembok benteng, ditanami bambu berduri "yang sudah hampir berupa hutan duri yang tidak dapat ditembus". Orang-orang Padri, sebut Boelhouwer merujuk pada Kaum Padri, menempatkan pengintai dan penembak jitu dibalik bambu berduri untuk memantau pergerakan pasukan Belanda.[5]

Di beberapa tempat terlihat meriam-merian kaliber 12 pon dengan pedati beroda kayu tanpa jari-jari untuk mengangkutnya. Di dekat meriam tersebut, terdapat batu bulat sebagai pengganti peluru. Boelhouwer menulis, "Sungguh mengherankan bagaimana mereka dapat membawa meriam sebesar itu ke atas bukit, sedangkan kami (maksudnya Belanda) hanya mampu membawa meriam kaliber tiga pon. Itu pun harus dipereteli."[6] Periwra-perwira Belanda mengakui bahwa benteng dan kubu Padri adalah yang terkuat di antara benteng-benteng bumiputra yang mereka gempur selama di Hindia-Belanda.[7]

Di luar Bonjol, terdapat masjid berbentuk segi empat yang dibangun tanpa paku dan besi dengan atap terdiri dari lima lapis yang makin lama makin kecil dan tertutup sirap, bahan yang sama dengan yang dipakai untuk atap gereja-gereja di Eropa dan dapat menampung kurang lebih 3.000 orang. "Dengan teknologi yang begitu sederhana, [mereka] dapat menciptakan bangunan yang sebegitu besar," tulis Boelhouwer.[8]

Pengepungan BonjolSunting

 
Kejatuhan Bukit Tajadi, diilustrasikan oleh Justus Pieter de Veer.

Pemerintah kolonial menuai sejumlah kegagalan dalam usahanya untuk menaklukan Benteng Bonjol, pusat komando pasukan Padri yang dipimpin oleh Tuanku Imam Bonjol. Gagalnya penyerangan ke Bonjol dimuat dalam laporan Gubernur-Jenderal Hindia Belanda Van den Bosch bertanggal 21 September 1833. Sulitnya menembus Benteng Bonjol adalah salah satu faktor yang memperlambat gerak laju serangan Belanda dalam melumpuhkan Kaum Padri.[9]

Pada 21 April 1835, operasi militer terhadap Bonjol kembali dilancarkan, dipimpin oleh Letnan Kolonel Bauer. Pada tengah malam 16 Juni 1835, pasukan Belanda berhasil mendekati Bonjol "dalam jarak kira-kira hanya 250 langkah".[10] Berapa kubu pertahanan Kaum Padri yang berada di sekitar Bukit Tajadi direbut pada awal September 1835, tetapi pasukan Belanda belum berhasil menguasai Bukit Tajadi. Pasukan Belanda justru kembali menuai kegagalan setelah Kaum Padri ke luar benteng menyerbu pasukan Belanda dan menghancurkan kubu-kubu pertahahan Belanda yang dibuat di sekitar Bukit Tajadi.[11]

Belanda baru dapat menjebol sebagian Benteng Bonjol pada akhir 1836, tetapi Kaum Padri dengan kegigihan dan semangat juang yang tinggi berhasil memukul mundur pasukan Belanda dari benteng. Setelah kegagalan penaklukan Bonjol, Gubernur-Jenderal Hindia Belanda yang baru Dominique Jacques de Eerens menunjuk Mayor Jenderal Cochius, seorang perwira tinggi Belanda yang memiliki keahlian dalam strategi perang Benteng Stelsel, untuk memimpin serangan besar-besaran ke Benteng Bonjol yang kesekian kalinya.[12]

Pada 16 Maret 1837, serangan intensif ke Bonjol oleh pasukan Belanda dimulai. Pada 3 Agustus 1837 dipimpin oleh Letnan Kolonel Michiels, Belanda sedikit demi sedikit menguasai keadaan. Benteng Bonjol jatuh pada 15 Agustus 1837, dan keesokan harinya, Benteng Bonjol dapat ditaklukkan secara keseluruhan. Muhammad Radjab menulis, "bertahun-tahun tentara Belanda menembaki dengan meriam-meriam besarnya, barulah benteng itu jatuh. Tetapi, jatuhnya bukan karena hancur, melainkan karena iman sebagian Padri mulai goyah, semangat perjuangannya mulai kendur, dan kepercayaannya akan mendapat kemenangan sudah hilang."[7]

Saat pengepungan benteng oleh Belanda, Tuanku Imam Bonjol berhasil lolos dan keluar bersama beberapa pengikutnya. Imam Bonjol mencoba mengadakan konsolidasi terhadap pasukannya yang telah bercerai-berai dan lemah, setelah lebih dari tiga tahun bertempur melawan Belanda. Hanya sedikit saja lagi pasukan yang masih siap bertempur. Melihat kenyataan semacam ini, Imam Bonjol menyerukan kepada pasukannya yang telah bercerai-berai agar kembali ke kampung halaman masing-masing.[2][13]

Kondisi saat iniSunting

 
Pemandangan bukit bekas area Benteng Bukit Tajadi saat ini

Menurut penelusuran Kompas pada 2010, area Bukit Tajadi yang menjadi bekas Benteng Bonjol kondisinya sudah tak terawat dan ditumbuhi semak belukar. Jalur mendaki ke atas bukit masih dapat dijumpai berupa jalan setapak, tetapi "semakin mendaki ke atas, jalur itu semakin sulit dilintasi". Beberapa bangunan masih dapat dijumpai bekasnya, seperti kolam, gudang untuk ransum makanan pasukan, rumah pertahanan, kandang kuda, dan lubang persembunyian. Selain itu, terdapat area dengan lubang-lubang kecil di permukaan tanah sebagai sisa tungku, yang diduga merupakan bagian dari dapur yang digunakan pada masa perjuangan Tuanku Imam Bonjol.[4][3][14]

Di kaki salah satu sisi Bukit Tajadi, tepatnya di belakang Pasar Nagari Ganggo Hilir, ditemukan meriam yang tertimbun dalam tanah sedalam 2 meter. Meriam itu kini dikenal dengan sebutan "Sutan Palembang", ditutup keramik dan disekat dalam ruangan berukuran 4 × 4 meter. Hanya moncong atau ujung bagian atas meriam yang masih tampak muncul ke permukaan. Selain meriam, terdapat lesung untuk menumbuk mesiu dan sejumlah pelurunya.[14][15]

Pada 1985, dibangun sebuah tugu peringatan disertai tulisan yang dikutip dari Tuanku Imam Bonjol di atas Bukit Tajadi. Tulisan itu berupa ungkapan kekecewaannya terhadap masyarakat Bonjol yang terpecah dan tidak mau bersatu: "Menghadapi kolonial Belanda bukan persoalan bagiku. Tapi, mempersatukan Bonjol, aku terluka karenanya."[4]

Pada 2007, keberadaan Bukit Tajadi sebagai bekas Benteng Bonjol dimasukkan dalam daftar inventaris cagar budaya oleh Balai Pelestarian Cagar Budaya (BPCB) Sumatra Barat. Selain sebagai objek wisata sejarah, pemanfaatan Bukit Tajadi diarahkan sebagai objek wisata olahraga. Sejak 2015, Pemerintah Kabupaten Pasaman menyiapkan Bukit Tajadi untuk wisata olahraga paralayang.[16]

RujukanSunting

Catatan kaki
  1. ^ Jeffrey Hadler 2010, hlm. xxxiii.
  2. ^ a b Radjab 1964, hlm. 394–395.
  3. ^ a b c BPCB Sumatera Barat 25 Januari 2016.
  4. ^ a b c Kompas 12 Juli 2010.
  5. ^ a b Boelhouwer 1841, hlm. 95.
  6. ^ Boelhouwer 1841, hlm. 96.
  7. ^ a b Radjab 1964, hlm. 419.
  8. ^ Boelhouwer 1841, hlm. 96–97.
  9. ^ Radjab 1964, hlm. 265.
  10. ^ Radjab 1964, hlm. 319–320.
  11. ^ Radjab 1964, hlm. 312–315.
  12. ^ D.J.M. Tate 1971, hlm. 156.
  13. ^ Radjab 1964, hlm. 399–402.
  14. ^ a b Antara 22 April 2012.
  15. ^ Jabarekspres.com 11 November 2015.
  16. ^ Antara 26 Januari 2016.
Daftar pustaka