Buka menu utama

Batik Plumpungan merupakan salah satu produk batik yang berasal dari Kota Salatiga. Motif khas dari batik Plumpungan sebagai batik khas dari Kota Salatiga terinspirasi dari Prasasti Plumpungan.[1][2] Prasasti berangka tahun 672 Saka atau 750 Masehi dan ditulis dengan huruf Jawa Kuno serta menggunakan bahasa Sansekerta tersebut juga dianggap sebagai cikal bakal berdirinya Kota Salatiga.[3] Berdasarkan prasasti ini, hari jadi Kota Salatiga ditetapkan pada tanggal 24 Juli 750, yang dibakukan dengan Peraturan Daerah Tingkat II Kota Salatiga Nomer 15 tanggal 20 Juli 1995 tentang Hari Jadi Kota Salatiga.[4] Adapun motif dasar batik Plumpungan adalah dua buah batu besar dan batu kecil dari bentuk Prasasti Plumpungan.

Daftar isi

PenciptaSunting

Sebagai salah satu warisan budaya takbenda Indonesia dan karya seni kontemporer, motif batik ini diciptakan pada tanggal 23 Juli 2004[5][6] oleh seorang PNS (Pegawai Negeri Sipil) Kota Salatiga bernama Bambang Pamulardi dan dipublikasikan pada tahun 2005 di harian Jawa Pos.[7] Bambang merupakan warga Dukuh Klasemen, Kelurahan Mangunsari, Salatiga, yang juga mendirikan Pusat Kerajinan Tangan Batik Plumpungan.[8]

Batik Plumpungan ciptaan Bambang Pamulardi tersebut pada saat ini telah digunakan oleh beberapa instansi yang berada di lingkup pemerintahan Kota Salatiga. PNS di Kota Salatiga sendiri menggunakan batik Plumpungan setiap hari Kamis.[7] Batik Plumpungan sampai saat ini terus diusulkan agar menjadi salah satu muatan lokal dalam kurikulum pembelajaran mulai SD (Sekolah Dasar), SMP (Sekolah Menengah Pertama), hingga SMA (Sekolah Menengah Atas) di Kota Salatiga. Hal ini dilakukan sebagai salah satu upaya pelestarian batik sebagai warisan budaya takbenda Indonesia.[9][10]

MotifSunting

Batik tidak selamanya bermotif tradisional dan berwarna tua.[a] Batik Plumpungan sendiri bergaya kontemporer, memiliki motif unik, dan berwarna cerah. Ciri khas batik Plumpungan adalah motifnya yang selalu memiliki bentuk dasar seperti Prasasti Plumpungan, yang terdiri dari satu batu besar dan satu batu kecil berbentuk agak melonjong dalam satu kesatuan pakem.[6] Motif batik ini semula masih terbatas hanya lima macam, yaitu Selo Giri, Kupu-Kupu, Kencono Sekar Plumpungan, Sekar Seling Pereng, dan Selo Temata.[7][11] Seiring dengan meningkatnya kreativitas para pengrajin batik, motif batik Plumpungan semakin beragam tanpa meninggalkan pola dasar berupa bulatan kecil dan bulatan besar. Melalui pakem motif itu, muncullah berbagai ragam motif batik unik yang dibentuk menyerupai kupu-kupu, ikan, kura-kura, dan lain sebagainya. Kita bisa membedakan batik Plumpungan dengan batik yang lain dengan melihat motif dasar dua batu tersebut.[12]

Pola dasar batik Plumpungan sangat fleksibel untuk digunakan dalam pembuatan motif batik. Ada pengrajin batik yang menggunakan pola dasar batik Plumpungan sebagai klowongan (pola),[b] dimana pola dasar batik Plumpungan ini menjadi motif utama dalam membentuk desain batik Plumpungan, seperti pada batik Plumpungan motif Semarak. Selain itu, ada juga pengrajin batik yang menggunakan pola dasar batik Plumpungan sebagai isen-isen (isi) dari berbagai motif yang dibuat, seperti pada batik Plumpungan motif Merak Plumpungan dan Parang Plumpungan.[5]

Di pusat kerajinan batik Plumpungan yang didirikan oleh Bambang Pamulardi, semua batik Plumpungan merupakan batik buatan tangan. Warna-warna cerah, seperti kuning, biru, merah muda, dan hijau mendominasi kain-kain batik ini. Bahannya juga beragam, dari katun hingga sutra.[12] Bambang mengkombinasikan motif batik Plumpungan dengan motif-motif batik tradisional yang sudah ada, seperti kawung. Kreasi tersebut mendapatkan sambutannya yang cukup baik di masyarakat, tetapi kendala justru dihadapi dalam hal pemasaran. Dulunya, sangat sedikit sekali masyarakat yang paham akan sejarah budaya yang ada di lingkungannya (tepatnya mengenai keberadaan Prasasti Plumpungan), tetapi masyarakat semakin tahu dan mengenal Prasasti Plumpungan sebagai peninggalan sejarah yang patut dirawat eksistensinya semenjak batik ini hadir.[8]

Lihat pulaSunting

CatatanSunting

  1. ^ Pada umumnya, batik memang bermotif tua dan tradisional dikarenakan motif tersebut yang selalu diincar oleh para pembeli.
  2. ^ Klowongan adalah proses membatik kerangka pola. Pada proses ini digunakan canting yang juga dinamakan dengan canting klowongan, yang memiliki diameter lingkaran sedang.

RujukanSunting

  1. ^ Pradana, Edmunda Easta Sandra (14 Agustus 2018). "Sejarah Batik Plumpungan". Perpustakaan Digital Budaya Indonesia. Diakses tanggal 20 Februari 2019. 
  2. ^ Radar Semarang (11 Mei 2017). "Prasasti Plumpungan Bisa Jadi Motif Batik". Radar Semarang. Diakses tanggal 30 Maret 2019. 
  3. ^ Kartoatmadja, dkk (1995), hlm. 48: "Hasil koreksi tersebut menunjuk hari Jumat (Suk) rawara tanggal 31 Asadha atau tanggal 24 Juli 750 M. Prasasti Plumpungan merupakan peresmian Desa Hampra menjadi daerah perdikan....."
  4. ^ Prakosa (2017), hlm. 9-10: "Asal-usul Salatiga dapat dirunut dari sebuah desa bernama Hampra. Desa ini pada Jumat, 24 Juli tahun 750 Masehi mendapatkan anugerah dari Raja Bhanu dan ditetapkan sebagai perdikan atau swatantra....."
  5. ^ a b FEDEP Kota Salatiga (tanpa tanggal). "Mengenal Lebih Lanjut Batik Plumpungan". FEDEP (Forum for Economic Development and Employment Promotion) Kota Salatiga. Diakses tanggal 21 Februari 2019. 
  6. ^ a b Supangkat, dkk (1995), hlm. 13: "Motif dasarnya ditemukan pada tanggal 23 Juli 2004 yang didesain dari bentuk Prasasti Plumpungan. Di setiap motif batik Plumpungan terdapat ciri gambar dua bulatan berukuran besar dan kecil sedikit lonjong dalam satu kesatuan. Bentuk ini apabila dilihat dari sudut pandang atas menyerupai Prasasti Plumpungan yang berangka tahun 750 Masehi....."
  7. ^ a b c Utami, Widi (tanpa tanggal). "Mengenal Batik Plumpungan, Motif Batik Khas Salatiga". Nusagates.com. Diakses tanggal 20 Februari 2019. 
  8. ^ a b Pemerintah Kota Salatiga (16 Oktober 2014). "Batik Plumpungan Angkat Nama Salatiga". Pemerintah Kota Salatiga. Diakses tanggal 21 Februari 2019. 
  9. ^ Rosa, Angga (7 Mei 2018). "Wali Kota Salatiga Usulkan Membatik Masuk Kurikulum Sekolah". SindoNews.com. Diakses tanggal 30 Maret 2019. 
  10. ^ Dinas Komunikasi dan Informasi Jawa Tengah (10 Mei 2017). "Plumpungan Diharapkan Masuk Kurikulum Muatan Lokal". Portal Berita Pemerintah Provinsi Jawa Tengah. Diakses tanggal 30 Maret 2019. 
  11. ^ Redaksi Kompas (26 Mei 2008). "Salatiga Kembangkan Batik Plumpungan". Kompas.com. Diakses tanggal 30 Maret 2019. 
  12. ^ a b Widyatwati (2015), hlm. 30: "Bentuk dasarnya selalu menyerupai bentuk batu Prasasti Plumpungan, namun pada perkembangannya juga bisa dibentuk menyerupai kupu-kupu, ikan, kura-kura, dan lain-lain. Di pusat kerajinan batik Plumpungan, semua batik Plumpungan merupakan batik buatan tangan. Warna-warna cerah seperti kuning, biru, merah muda, dan hijau mendominasi kain-kain batik ini. Bahannya juga beragam dari katun hingga sutra.....

Daftar pustakaSunting

BukuSunting

  • Eddy Supangkat, dkk (1995). Ensiklopedia Salatiga. Salatiga: Kantor Perpustakaan dan Arsip Daerah Kota Salatiga. 
  • Prakosa, Abel Jatayu (2017). Diskriminasi Rasial di Kota Kolonial: Salatiga 1917-1942. Semarang: Sinar Hidoep. ISBN 978-602-6196-60-6. 
  • Soekarto Kartoatmadja, dkk (1995). Hari Jadi Kota Salatiga 24 Juli 750. Salatiga: Pemerintah Daerah Kotamadya Daerah Tingkat II Salatiga. 

Jurnal ilmiahSunting

MajalahSunting

Pranala luarSunting