Balthasar Coyett

Balthasar Coyett (6 Oktober 1652 – 19 September 1725[1]) adalah seorang pegawai Perusahaan Hindia Timur Belanda (VOC) berkewarganegaraan Belanda-Swedia. Posisi terakhirnya adalah sebagai Gubernur Ambon (Landvoogden van Ambon) sejak tanggal 11 Juni 1701 hingga Mei 1706.[2]

KarierSunting

Lahir dan dibesarkan di keluarga VOC yang menetap di Batavia, pada tahun 1680 Balthasar sempat menjadi Sekretaris di College van Heemraden, sebuah badan yang mengatur batas tanah, jalan, dan jembatan di kota tersebut. Ia sempat dipulangkan ke Belanda pada tahun 1684, sebelum kembali ke Batavia pada tahun 1688.[1][3]

Pada tanggal 1 September 1694, ia ditunjuk sebagai Gubernur Sementara (Provisioneel Gezaghebber) di Banda. Posisinya berubah menjadi Presiden Banda (Voorzitter) pada tanggal 13 April 1696. Ia akhirnya menjadi Gubernur Banda (Landvoogd) pada tanggal 25 Mei 1697 hingga 17 April 1701.[1][4]

Hanya pada masa kepemimpinan Balthasar, buruh perkebunan di Banda didata secara mendetail. Di era Gubernur sebelum dan setelahnya, hanya dilakukan perhitungan jumlah buruh, tetapi dengan data yang terbatas. Dalam laporannya, Balthasar mencatat mulai dari nama, jenis kelamin, usia, hingga etnis mereka.[4]

Balthasar kemudian ditunjuk sebagai Gubernur Ambon pada tahun 1701.[4] Di sana, ia harus menyelesaikan konflik perebutan lahan perkebunan antara penduduk Hunut dan desa-desa sekitarnya, seperti Halong, Soya, dan Mardika. Sempat mendapat angin segar saat kepemimpinan Gubernur Dirk De Haas, penduduk Hunut yang diwakili oleh Timolohalat mendapat keputusan pengadilan yang tidak menguntungkan saat kepemimpinan Balthasar. Penduduk Halong bahkan menerima dokumen kepemilikan lahan yang tercatat di sekretariat VOC. Pada bulan Desember 1705, keturunan kedua pihak kembali bertemu di pengadilan, dan Balthasar menyarankan agar permintaa penduduk Hunut ditolak karena Timolohalat dan keturunannya dianggap orang yang gemar bertengkar.[5]

Kehidupan pribadiSunting

Balthasar adalah anak dari Frederick Coyett, Gubernur terakhir di Formosa (saat ini merupakan wilayah Taiwan), dan Susanna Boudaens. Ia menikah dengan Constantia Pierraerd, dan dikaruniai lima orang anak. Salah satu anak laki-lakinya, Frederik Julius Coyett (1680–1736), juga menjadi pegawai VOC.[1]

ReferensiSunting

  1. ^ a b c d "Balthasar Coyett". DeVOCSite. 
  2. ^ "Indonesia". WorldStatesmen.org. 
  3. ^ "Balthasar Coyett". De Digitale Bibliotheek voor de Nederlandse Letteren (DBNL). 
  4. ^ a b c "Slavery and the perkeniersstelsel on the Banda Islands in the 1690's" (PDF). Leiden University. 
  5. ^ "Keluhan yang disampaikan oleh Penduduk Hunut di Pulau Ambon, 14 Juli 1695". Arsip Nasional Republik Indonesia.