Buka menu utama

Wikipedia β

Anoa

Untuk kendaraan lapis baja, lihat ANOA.
Kingdom : Animalia Phyllum : Chordata Sub Phyllum : Vertebrata Kelas : Mamalia Ordo : Artiodactyla Famili : Bovidae Genus : Bubalus Spesies : Bubalus depressicornis, Smith dan,Bubalus quarlessi, Ouwens

Anoa (Bubalus sp.) adalah mamalia terbesar dan endemik yang hidup di daratan Pulau Sulawesi dan Pulau Buton[1]. Anoa merupakan hewan yang tergolong fauna peralihan[2]. Anoa merupakan mamalia tergolong dalam famili bovidae yang tersebar hampir di seluruh pulau Sulawesi. Kawasan Wallacea yang terdiri atas pulau Sulawesi, Maluku, Halmahera, Kepulauan Flores, dan pulaupulau kecil di Nusa Tenggara. Wilayah ini unik karena banyak memiliki flora dan fauna yang endemik dan merupakan kawasan peralihan antara benua Asia dan Australia. Salah satu kawasan yang memiliki flora dan fauna endemik Sulawesi antara lain Kawasan Poso. Anoa (Bubalus sp) merupakan salah satu satwa endemik yang dilindungi yang menjadi ciri khas Pulau Sulawesi yang turut mendiami Kawasan Hutan Lindung Desa Sangginora Kabupaten Poso[3]. Anoa tergolong satwa liar yang langka dan dilindungi Undang-Undang di Indonesia sejak tahun 1931 dan dipertegas dengan Undang-Undang No. 5 Tahun 1990 dan Peraturan Pemerintah No. 7 Tahun 1999 [4].

Sejak tahun 1986 hingga 2007, International Union for Conservation of Nature (IUCN) memasukkan anoa sebagai satwa terancam punah (Endangered species).[1] Populasi anoa diperkirakan kurang dari 2.500 individu dewasa dengan perkiraan laju penurunan populasinya di alam selama kurang lebih 14-18 tahun terakhir mencapai 20%. Berdasarkan peta sebaran anoa ditambah dengan fakta populasinya saat ini di alam, distribusi anoa di Sulawesi khususnya bagian utara, cenderung mengalami penurunan populasi dengan laju yang sedikit lebih cepat dibandingkan dengan wilayah lainnya di SulawesiHal ini dibuktikan di beberapa kawasan konservasi di Sulawesi Utara seperti Cagar Alam (CA) Tangkoko Batuangus, CA. Gunung Ambang dan CA. Manembo-nembo, anoa telah dinyatakan punah lokal[5] Hal ini dibuktikan di beberapa kawasan konservasi di Sulawesi Utara seperti Cagar Alam (CA) Tangkoko Batuangus, CA. Gunung Ambang dan CA. Manembo-nembo, anoa telah dinyatakan punah lokal[6]. Dalam lima tahun terakhir populasi anoa menurun secara drastis[7]. Diperkirakan saat ini terdapat kurang dari 5000 ekor yang masih bertahan hidup.[8] Anoa sering diburu untuk diambil kulit, tanduk dan dagingnya.[8]

Ada dua spesies anoa, yaitu: Anoa pegunungan (Bubalus quarlesi) dan Anoa dataran rendah (Bubalus depressicornis).[9] Kedua jenis ini tinggal dalam hutan yang tidak dijamah manusia[10]. Keduanya juga termasuk jenis yang agresif dan sulit dijinakkan untuk dijadikan hewan ternak (domestikasi).[9] Kedua jenis ini dibedakan berdasarkan bentuk tanduk dan ukuran tubuh.[11] Anoa dataran rendah relatif lebih kecil, ekor lebih pendek dan lembut, serta memiliki tanduk melingkar.[11] Sementara anoa pegunungan lebih besar, ekor panjang, berkaki putih, dan memiliki tanduk kasar dengan penampang segitiga.[11] Penampilan mereka mirip dengan kerbau, dengan berat berat tubuh 150-300 kilogram dan tinggi 75 centimeter.[9][10] Saat ini konservasi anoa difokuskan pada perlindungan terhadap kawasan hutan dan penangkaran.[12] Banyak yang menyebut anoa sebagai kerbau kerdil.[13]

Daftar isi

MorfologiSunting

Bentuk tubuh anoa mirip dengan kerbau atau biasa disebut kerbau cebol. Anoa dataran rendah atau Bubalus depressicornis memiliki tinggi pundak antara 80–100 cm, sedangkan anoa dataran tinggi atau Bubalus quarlessi antara 60-75 cm. Deskripsi ini sama dengan yang dinyatakan oleh Groves (1969) yang menyatakan anoa dataran rendah relatif lebih besar dibandingkan dengan anoa yang ditemukan di dataran tinggi. Bentuk kepala menyerupai kepala sapi (Bos), kaki dan kuku menyerupai banteng (Bos sondaicus). Pada kaki bagian depan (metacarpal) berwarna putih atau mirip sapi bali namun mempunyai garis hitam ke bawah. Tanduk mengarah ke belakang menyerupai penampang yang bagian dasarnya tidak bulat seperti tanduk sapi melainkan menyerupai bangun segitiga seperti tanduk kerbau[14].

 
Gambar 1. Anoa

Gambar 1. Anoa (Bubalus sp.)

Distribusi dan Populasi AnoaSunting

Perkembangan distribusi anoa berada di wilayah daratan Sulawesi dan Pulau Buton[14]. Saat ini anoa, baik anoa dataran rendah maupun anoa dataran tinggi sudah tidak memiliki habitat yang khas lagi[15]. Kadangkala anoa dataran rendah dapat ditemukan juga di dataran tinggi dan sebaliknya anoa dataran tinggi juga sering dijumpai di daerah-daerah dataran rendah.Populasi anoa di alam diperkirakan semakin lama semakin menurun[15]. Diperkirakan populasi anoa kurang dari 2.500 ekor individu dewasa[16]. Penyebab utama penurunan populasi anoa diduga karena kerusakan pada habitatnya yang disebabkan oleh pengalihan fungsi hutan dan perburuan liar yang cenderung meningkat sehingga satwa ini semakin sulit untuk dijumpai[17]. Pengelolaan habitat menjadi sangat penting untuk mendukung populasi yang sehat dan berkembang biak secara normal. Untuk itu, guna menjamin kelestarian anoa maka perlu dilakukan kajian terhadap habitat anoa[18].

Berdasarkan hasil pemantauan di Sulawesi Utara pada akhir abad ke-19 menunjukkan bahwa Bubalus depressicornis masih mempunyai daerah penyebaran yang luas dari ujung Utara Sulawesi. Bahkan setengah abad yang lalu Bubalus depressicornis masih dijumpai di dalam hutan Bolaang Mongondow dan Gorontalo. Kemudian semenjak itu terjadi penurunan yang sangat drastis, selain karena kerusakan habitat juga akibat[19]. Hasil kesimpulan dari beberapa penelitian yang telah dilakukan menunjukkan populasi anoa semakin hari semakin mengalami penurunan[19].

HabitatSunting

Anoa mempunyai habitat yang spesifik dengan komponen dan sebaran lokasi yang dapat menunjang kebutuhan pakan dan perilakunya dan pada lokasi yang terbuka seperti padang rumput, jarang dihuni[20].Habitat anoa berada di hutan tropika dataran, sabana (savanna), terkadang juga dijumpai di rawa-rawa.[21] Mereka merupakan penghuni hutan yang hidupnya berpindah-pindah tempat.[21] Apabila menjumpai musuhnya, anoa akan mempertahankan diri dengan mencebur ke rawa-rawa dan jika terpaksa melawan, mereka akan menggunakan tanduknya.[21] Berbeda dengan sapi yang lebih suka hidup berkelompok, anoa hidup semi soliter, yaitu hidup sendiri atau berpasangan dan hanya akan bertemu dengan kawanannya jika si betina akan melahirkan.[22] Mereka paling aktif pada saat pagi dan sore hari, ketika udara masih dingin.[22] Karena anoa memiliki kebiasaan mendinginkan tubuh mereka, karena itulah terkadang mereka suka berendam di lumpur atau air.[22] Anoa memiliki penyebaran yang sangat terbatas,sedangkan populasi dan habitatnya semakin lama semakin menurun baik kuantitas maupun kualitasnya[23]. Penurunan populasi terjadi akibat kehilangan habiat karena perusakan habitat, maupun perburuan yang berlebihan. Dalam keadaan-keadaan demikian spesies dapat berkurang dengan cepat dan menuju kepunahan, untuk itu perlu adanya upaya pelestarian yang bertujuan khusus untuk melindungi spesies yang terancam punah[23]. Selain itu habitat mengalami kerusakan akibat perambahan, perladangan berpindah dan rendahnya sikap masyarakat terhadap satwa tersebut. Untuk itu perlu adanya upaya konservasi terhadap anoa sehingga keberadaanya di alam dapat dipertahankan. Hal ini sangat penting terutama untuk menjaga keseimbangan ekosistem seperti[24].

MakananSunting

Anoa termasuk hewan herbivora.[22] Di alam bebas, anoa memakan makanan yang berair (aquatic feed), seperti pakis, rumput, tunas pohon, buah-buahan yang jatuh, dan jenis umbi-umbian.[22] Anoa yang berada di dataran rendah (Bubalus depressicornis) terdiri dari beberapa jenis rumput dan semak serta bagian-bagian lain dari tumbuhan seperti daun (pucuk), buah, umbi, atau umbut yang umumnya mengandung air. Seperti halnya binatang memamah biak lainya. Anoa juga memerlukan garam yang diperoleh dengan cara menjilat batu yang mengandung garam dan mineral di alam[25]. Di dataran tinggi, anoa juga menjilat garam alami untuk memenuhi kebutuhan mineralnya.[21] Beberapa jenis tumbuhan yang sangat disukai anoa seperti Alpinia sp., Pinanga caesia, Castanopsis acuminatissima, Dysoxyllum posasiticum, Litsea densiflora dan Litsea formanii, Areca vestiaria, Calamus sp., Didymochlaena truncatula, Lithocarpus celebicus dan Litsea densiflora ditemukan di Cagar Alam Pangi Binanga Sulawesi Tengah. Sedangkan di TN. Lore Lindu ditemukan sebanyak 11 jenis tumbuhan yang disukai oleh anoa yaitu Areca sp., Zingiber sp., Rubus sp., Begonia sp., Elatostema sp., Nephrolepis sp., Cyrtandra sp., Sachharum sp., Kaloma (Palmaceae) dan Padalebo (Urticacea). Jenis Lithocarpus sp. (Fagaceae), Pinanga sp. (Arecaceae) adalah jenis pakan anoa yang terdapat di Cagar Alam Morowali. Jenis Castanopsis accuminatissima, Syzigium accumutissimum, Calamus sp. (Arecaceae) dan Pandanus sp. (Palmae). Jenis-jenis tumbuhan di atas juga dijumpai di Hutan Lindung Desa Sangginora[26]. Sedangkan jenis pakan lainnya tidak terdapat pada beberapa lokasi di atas. Hal ini diduga karena anoa beradaptasi dengan vegetasi yang berada di habitatnya. Anoa mempunyai kemampuan adaptasi yang tinggi untuk mengkonsumsi pakan alternatif[27].

Pada anoa dalam kondisi penangkaran jenis tanaman yang biasa dimakan oleh Anoa adalah kangkung, bayam, ubi jalar, daun ketelah pohon, daun kumis kucing, kulit pisang, kedondong, buah mangga (masih muda), daun nangka, rerumputan dan daun cabe[28]. Anoa sebagai hewan herbivora lebih bersifat sebagai pemakan semak atau daun (browser) dari pada sebagai pemakan rumput (grazer). Perilaku ini dibuktikan dengan pengamatannya terhadap perilaku makan Anoa di Kebun Binatang Ragunan yang lebih menyukai mengkonsumsi makanan campuran dari pada makanan tunggal[29].

Perilaku dan ReproduksiSunting

Anoa memiliki perilaku hidup secara soliter, namun tidak jarang juga dijumpai dalam kawanan tiga sampai lima ekor. Anoa umumnya hidup di hutan-hutan yang lebat, di dekat aliran air / sungai, danau, rawarawa, sumber air panas yang mengandung mineral dan di sepanjang pantai[30]. Setiap tahunnya, induk anoa rata-rata hanya melahirkan satu bayi anoa.[22] Anoa bisa bertahan hidup sekitar 20 tahun hingga 25 tahun, dan sudah mampu kawin serta berkembang biak pada umur 2 tahun sampai 3 tahun.[22]Anoa yang sedang terluka, birahi, induk yang baru melahirkan atau yang sedang menyapih anaknya akan cenderung bersifat agresif dalam setiap kelahiran[14]. Anoa mencapai dewasa seksual pada umur 3-4 tahun dengan siklus estrus 15-23 hari dengan periode estrus 2-4 hari dimana puncak estrus[28]. Dalam satu musim melahirkan (Agustus- Oktober) hanya melahirkan satu anak. Induk anoa betina menjaga anaknya tetapi induk jantan tidak. Masa sapih biasanya berlangsung antara enam hingga sembilan bulan[31]. Reproduksi anoa terjadi pada hari ketiga Masa kehamilan sekitar 275 sampai 315 hari, hanya 1 anak[21] Periode kehamilan terjadi selama 276 hari sampai 315 hari.[22] Bayi anoa yang dilahirkan induknya hanya satu ekor, dan sangat jarang sekali mereka sampai melahirkan hingga dua ekor bayi anoa.[22] Saat dilahirkan, bayi anoa memiliki bulu berwarna cokelat keemasan atau kekuningan dan sangat tebal.[21] Warnanya perlahan akan berubah menjadi lebih gelap seiring dengan pertumbuhannya.[21]

ReferensiSunting

  1. ^ a b Arini, D. I. D., dan Wahyuni, N. I. 2016. Kelimpahan Tumbuhan Pakan Anoa (Bubalus sp.) di Taman Nasional Bogani Nani Wartabone. Jurnal Penelitian Wallacea 5(1): 91-102.
  2. ^ Fiktor Ferdinand P., Moekti Ariwibowo. Praktis Belajar Biologi. PT Grafindo Media Pratama. ISBN 978-979-9177-65-0.  Halaman 76.
  3. ^ Mustari, A.H. 2003. Kebutuhan Pakan Anoa Dataran Rendah (Bubalus depressicornis, Smith) di Suaka Margasatwa Tanjung Peropa, Sulawesi Tenggara. Media Konservasi, Jurnal Ilmiah Bidang Konservasi Sumberdaya Alam Hayati dan Lingkungan 3(3).
  4. ^ CITES (Convention on the International Trade in Endangered Species of Wild Flora and Fauna). 2010. Appendices I, II, and III, Valid from 14 October 2010. http://www.cites.org, diakses pada tanggal 24 Juli 2013.
  5. ^ IUCN. 2011. Low Land Anoa (Bubalus depresicornis Smith) dan Mountain anoa (Bubalus quarlesi Ouwens). www.iucnredlist.org. Diakses Pada 31 Oktober 2014
  6. ^ Lee, R. J., Riley, J., Merrill, R., dan Manoppo, R.P. 2001. Keanekaragaman Hayati dan Konservasi di Sulawesi Utara. WCS-IP dan NRM., Jakarta.
  7. ^ www.nationalgeographic.co.id: Anoa di Sulawesi Tenggara Terancam Punah. Diakses 10 Mei 2014
  8. ^ a b www.tourismnews.co.id: Sulawesi, Pulau di Indonesia dengan Fauna Terunik. Diakses 10 Mei 2014
  9. ^ a b c Jatna Supriatna (2008). Melestarikan Alam Indonesia. Yayasan Obor Indonesia. ISBN 978-979-461-696-3.  Halaman 30-31.
  10. ^ a b Oman Karmana. Cerdas Belajar Biologi. PT Grafindo Media Pratama. ISBN 978-979-758-442-9.  Halaman 153-154.
  11. ^ a b c www.kawandnews.com: Penjelasan secara Terperinci tentang Binatang Langka Anoa Sulawesi. Diakses 10 Mei 2014
  12. ^ Mochamad Indrawan, Richard B. Primack (1998). Biologi Konservasi. Yayasan Obor Indonesia. ISBN 978-979-461-288-0.  Halaman 227-228.
  13. ^ Rachmat Hermawan, dkk. (2007). Mengenal Ekosistem Hutan dan Ekosistem Agro. Grasindo. ISBN 978-979-759-839-6.  Halaman 15.
  14. ^ a b c Arini, D. I. D. 2013. Anoa dan Habitatnya di Sulawesi Utara. Balai Penelitian Kehutanan Manado, Manado.
  15. ^ a b Groves, C.P. 1969. Systematic of Anoa (Mammalia, Bovidae) Beaufortia 17 :1-12.
  16. ^ Semiadi, G., B. Mannullang, J. Burton, A. Schreiber, A. H. Mustari, dan the IUCN SSC Asian Wild Cattle Specialist Group. 2008. Bubalus depressicornis. In: IUCN 2011. IUCN Red List of Threatened Species. Version 2011.2. http://www.iucnredlist.org
  17. ^ Tandilolo, S., Wulandari, R., dan Rukmi. 2013. Komposisi Jenis Vegetasi Habitat Anoa (Bubalus sp.) di Cagar Alam Pangi Binangga Kabupaten Parigi Moutong. Warta Rimba 1(1):1-8.
  18. ^ Alikodra, H. S. 2012. Konservasi Sumber Daya Alam dan Lingkungan. Gadjah Mada University Press. Yogyakarta.
  19. ^ a b Whitten, A.J, F. Mustafa, and G.S Hendersen. 1987. Ekologi Sulawesi. Gadjah Mada Press. Yogyakarta.
  20. ^ Bismark, M., dan Gunawan, H. 1996. Pola Habitat dan Struktur Sosial Anoa Dataran Rendah di Taman Nasional Rawa Aopa Watumohai Sulawesi Tengah. Jurnal Penelitian Kehutanan 10(1): 6-16.
  21. ^ a b c d e f g www.ksdasulsel.org: ANOA: Satwa Endemik Sulawesi. Diakses 10 Mei 2014
  22. ^ a b c d e f g h i www.ensiklopediaindonesia.com: Anoa, Satwa Endemik Khas Sulawesi. Diakses 10 Mei 2014
  23. ^ a b Jahidin. 2003. Populasi dan Perilaku Anoa Pegunungan (Bubalus (Anoa) quarlesi Ouwens) di Taman Nasional Lore Lindu. Tesis. Institut Pertanian Bogor, Bogor.
  24. ^ Lapuno, D. O., Labiro, E., dan Wahid, A. 2015. Analisis Vegetasi Habitat Anoa (Bubalus sp.) di Kawasan Hutan Lindung Desa Padayora Kecamatan Pamona Selatan Kabupatan Poso. Warta Rimba 3(2):132-139.
  25. ^ Pujaningsih, R. I., A. Malik, and S. Pudyatmoko. 2007. Comparation study progress on Anoa’s Behaviour Prior to Conservation Program. Presented on 7th Mini Workshop by International Alumni Network Southeast Asia Germany, SEAG – Indonesia. 3-5th ofMay 2007, Manado.
  26. ^ Wardah, E. Labiro., S. dg, Massiri., Sustri, dan Mursidin. 2012. Vegetasi Kunci Habitat Anoa di Cagar Alam Pangi Binangga Sulawesi Tengah. Jurnal Penelitian Kehutanan Wallacea 1(1): 1-12.
  27. ^ Pujaningsih, R. I., B. Sukamto, dan E. Labiro. 2004. Identifikasi dan Teknologi Pengolahan Pakan Hijauan dalam Upaya Penangkaran Anoa. Laporan Penelitian Dasar. Direktorat Jenderal Pendidikan Tinggi. Departemen Pendidikan Nasional.
  28. ^ a b Kasim, K. 2002. Potensi Anoa (Bubalus depressicornis dan Bubalus quarlesi) sebagai Alternatif Satwa Budidaya dalam Mengatasi Kepunahannya. Disertasi pada Program Pascasarjana Institut Pertanian Bogor. Institut Pertanian Bogor, Bogor.
  29. ^ Mustari, A.H. 1997. Kebutuhan Nutrisi Anoa (Bubalus sp.) di Kebun Binatang Ragunan Jakarta. Laporan Penelitian Institut Pertanian Bogor. Institut Pertanian Bogor, Bogor.
  30. ^ Kasim, K. 2002. Potensi Anoa (Bubalus depressicornis dan Bubalus quarlesi) sebagai Alternatif Satwa Budidaya dalam Mengatasi Kepunahannya. Tesis. Program Pascasarjana, IPB. Bogor . Tidak Diterbitkan.
  31. ^ Mahmud, W. 2009. Kelimpahan Anoa Dataran Rendah (Bubalus depressicornis) dan Faktor yang Mempengaruhinya di Hutan Lambusango Pulau Buton Sulawesi Tenggara. Naskah Skripsi Strata I, Jurusan Konservasi Sumberdaya Alam. Fakultas Kehutanan, UGM, Yogyakarta. (Tidak Diterbitkan).

Pranala luarSunting