Aethiopia

istilah geografi dalam sastra Yunani klasik untuk kawasan hulu Sungai Nil dan daerah-daerah yang terletak di sebelah selatan Sahara
Dunia Berpenghuni menurut Herodotos. Wilayah Libya (Afrika) dibayangkan tidak lebih luas daripada kawasan Tanduk Afrika, dan berakhir di pinggiran padang gurun tak berpenghuni. Semua bangsa yang mendiami kawasan paling selatan dari Dunia Berpenghuni disebut orang Etiopia (disebut demikian karena warna kulitnya yang gelap). Ujung tenggara benua itu didiami orang Makrobi (disebut demikian karena berumur panjang).

Kata Aethiopia atau Ethiopia adalah bentuk Latin dari kata Yunani Αἰθιοπία (Aitiopia). Kata Aitiopia mula-mula digunakan sebagai istilah geografi dalam dokumen-dokumen Zaman Klasik untuk menyebut kawasan hulu Sungai Nil maupun daerah-daerah tertentu yang terletak di sebelah selatan Padang Gurun Sahara. Kata ini pertama kali muncul dalam karya-karya tulis Homeros, yakni dua kali dalam Ilias,[1] dan tiga kali dalam Odisea.[2] Sejarawan Yunani Herodotos menggunakan kata ini sebagai sebutan khusus bagi kawasan paling selatan dari Dunia Berpenghuni yang diketahui orang ketika itu.[3]

Pada Zaman Klasik, Africa (Libya Kuno) adalah sebutan bangsa Romawi bagi kawasan yang kini disebut Negeri Magribi, kawasan yang terletak di sebelah selatan Padang Gurun Libya, dan kawasan Sahara Barat, termasuk semua padang gurun yang terletak di sebelah barat dari kawasan selatan Sungai Nil. Pengetahuan tentang geografi benua Afrika lambat laun berkembang, sebagaimana tampak dalam buku panduan pelayaran Yunani, Periplus Laut Eritrea (abad pertama Masehi), yang menjabarkan daerah-daerah di sepanjang pesisir Laut Merah (Laut Eritrea).

RujukanSunting

  1. ^ Ilias karangan Hemeros I.423; XXIII.206.
  2. ^ Odisea karangan Homeros I.22-23; IV.84; V.282-7.
  3. ^ Untuk semua rujukan mengenai Etiopia dalam karya tulis Herodotus, baca: daftar ini di Perseus project.