Adi Utarini

Adi Utarini (lahir di Yogyakarta, 4 Juni 1965; umur 55 tahun) adalah seorang pengajar dan peneliti berkebangsaan Indonesia. Ia merupakan peneliti dari Fakultas Kedokteran, Kesehatan Masyarakat dan Keperawatan (FK-KMK) Universitas Gadjah Mada. Pada Desember 2020, Adi Utarini dianugerahi penghargaan 10 peneliti paling berpengaruh di dunia oleh jurnal ilmiah Nature atas penelitiannya tentang pengurangan demam berdarah dengue melalui intervensi nyamuk ber-Wolbachia di Yogyakarta.[1][2]

Adi Utarini
Adi Utarini VOA.jpg
Adi Utarini, Agustus 2020
AlmamaterUniversitas Umeå
UCL Great Ormond Street Institute of Child Health
Universitas Gadjah Mada
Dikenal atasuji terkontrol secara acak terhadap teknologi Wolbachia dalam pemberantasan demam berdarah dengue
PenghargaanNature's 10 (2020)
Karier ilmiah
InstitusiUniversitas Gadjah Mada
TesisEvaluation of the user-provider interface in malaria control programme : the case of Jepara district, Central Java province, Indonesia (2002)

Riwayat awalSunting

Adi Utarini awalnya mendapatkan pendidikan kedokteran di Universitas Gadjah Mada, Yogyakarta.[3] Setelah lulus pada tahun 1989,[3] ia kemudian mendapat dua gelar S2, dari UCL Great Ormond Street Institute of Child Health, Inggris (1994) serta Universitas Umeå, Swedia (1997). [4]Ia melanjutkan pendidikannya di Umeå untuk gelar doktor (S3). Penelitian doktoralnya di Umeå bertopik program pengendalian malaria di Kabupaten Jepara, Jawa Tengah.[5] Ia mendapat gelar doktor pada 2002.[6]

Karier dan penelitianSunting

Utarini adalah seorang pengajar dan peneliti di Universitas Gadjah Mada dengan spesialisasi pengendalian penyakit dan kualitas pelayanan kesehatan.[4] Ia juga menjabat sebagai kepala Eliminate Dengue Project (Proyek Pemberantasan Dengue]] di Yogyakarta,[3][7] sebuah kota berpenduduk 400.000 orang yang memiliki tingkat penularan dengue yang tinggi.[8] Pada 2018, ia mengisi sebuah seminar TEDx tentang upaya-upaya pengurangan dengue di kota tersebut.[9]

Utarini menjadi salah satu pimpinan uji terkontrol secara acak untuk meneliti teknik penggunaan nyamuk ber-Wolbachia untuk pengurangi penyebaran penyakit yang dibawa oleh nyamuk, termasuk demam berdarah dengue, yang dilakukan sejak 2016 di Yogyakarta.[8][10] Pada Agustus 2020 ia mengumumkan bahwa metode ini berhasil mengurangi kasus dengue sebesar 77% selama periode penelitian.[8][11] Wolbachia adalah sebuah bakteri yang jika diberikan pada nyamuk dapat mencegah penyebaran virus dari nyamuk tersebut kepada manusia.[8] Metode ini telah dikembangkan sejak tahun 1990an di Universitas Monash, tetapi sebelum penelitian Utarini belum ada penelitian acak terkontrol yang dilakukan untuk membuktikannya, sehingga jurnal ilmiah Nature menyebut penelitian ini sebagai "bukti terkuat" untuk membuktikan metode Wolbachia.[12]

Dalam penelitian ini, kota Yogyakarta dibagi menjadi 24 area, 12 di antaranya dipilih secara acak untuk dilakukan penyebaran nyamuk yang telah diberi Wolbachia dan 12 sisanya dibiarkan sebagai pembanding (kontrol). Tabir penelitian ini dibuka pada Juni 2020 untuk dilakukan analisis oleh para peneliti. Hingga Desember 2020, data penelitian ini belum diterbitkan sepenuhnya, tetapi hasil sementara yang dirilis pada Agustus 2020 menunjukkan adanya pengurangan 77% kasus dengue di area yang menerima nyamuk ber-Wolbachia dibandingkan dengan daerah kontrol.[8] Para ahli epidemiologi dunia menyebut hasil ini sebagai "benar-benar mengejutkan", dan menyebutnya sebagai langkah penting dalam upaya memberantas dengue, yang diperkirakan menyebabkan 400 juta infeksi dan 25.000 kematian setiap tahunnya di seluruh dunia.[12][8]

Utarini direkrut dalam upaya ini pada 2013 dan menjadi kepala ilmuwan Indonesia di dalamnya. Selain memimpin dan mengoordinasi penelitian, ia juga menjalankan peran penting dalam mendapatkan izin berbagai kementrian terhadap percobaan ini.[12] Selama periode uji ini, Utarini menggalang dukungan masyarakat dengan membuat berbagai mural, film dan video singkat, serta bertatap muka. Antusiasme masyarakat untuk berpartisipasi dianggap sebagai salah satu aspek sukses dari penelitian ini.[8]

Pada 2020, Utarini terpilih sebagai salah satu dari Nature's 10, yaitu daftar sepuluh ilmuwan paling berpengaruh sepanjang tahun tersebut, berkat upayanya merintis uji nyamuk ber-Wolbachia di Indonesia.[12] Kepada surat khabar Kompas, ia berkisah bahwa sempat terkejut namanya masuk. Untuk memastikan, ia menghubungi Direktur WMP di Vietnam Scott O'Neill. Semula ia menduga namanya dimasukkan orang lain, rupanyalah Nature punya cara sendiri untuk memilih. Sebelum itu, kata Utarini, ia telah diwawancarai dan difoto khusus 2 pekan sebelum namanya masuk laporan jurnal itu.[13]

Kehidupan pribadiSunting

Utarini juga dikenal sebagai "Prof Uut" dan disebut "pendiam tetapi persuasif" oleh rekan-rekannya. Di antara hobinya adalah bersepeda dan bermain piano. Suami Utarini, Iwan Dripahasto, juga adalah pengajar di UGM. Iwan meninggal akibat Pandemi COVID-19 di Indonesia pada Maret 2020.[8][14]

PublikasiSunting

Di samping publikasi ilmiah, Utarini juga menulis untuk situs web The Conversation.[15]

ReferensiSunting

  1. ^ Media, Kompas Cyber. "Peneliti UGM Masuk 10 Besar Ilmuwan Berpengaruh Dunia Versi Jurnal Nature Halaman all". KOMPAS.com. Diakses tanggal 2020-12-19. 
  2. ^ "Nature's 10: ten people who helped shape science in 2020". www.nature.com (dalam bahasa Inggris). Diakses tanggal 2020-12-19. 
  3. ^ a b c "Prof. dr. Adi Utarini, M.Sc, MPH, Ph.D – Health Policy and Management UGM" (dalam bahasa Inggris). Diakses tanggal 2020-12-19. 
  4. ^ a b "Dr Adi Utarini". Australia-Indonesia Centre (dalam bahasa Inggris). Diakses tanggal 2020-12-19. 
  5. ^ Utarini, Adi (2002) (dalam bahasa English). Evaluation of the user-provider interface in malaria control programme: the case of Jepara district, Central Java province, Indonesia (Thesis). Umeå: Univ.. https://www.worldcat.org/title/evaluation-of-the-user-provider-interface-in-malaria-control-programme-the-case-of-jepara-district-central-java-province-indonesia/oclc/186249426. 
  6. ^ Adi Utarini (dalam bahasa English). OCLC 4780019278. 
  7. ^ Foundation, Thomson Reuters. "Adi Utarini, Indonesia's project leader at the Eliminate Dengue Program, poses behind netting inside a room where mosquitoes carrying Wolbachia bacteria are stored and fed in Yogyakarta". news.news.trust.org. Diakses tanggal 2020-12-19. [pranala nonaktif permanen]
  8. ^ a b c d e f g h Callaway, Ewen (2020-08-27). "The mosquito strategy that could eliminate dengue". Nature (dalam bahasa Inggris). doi:10.1038/d41586-020-02492-1. 
  9. ^ Utarini, Adi, Sacred Bucket (dalam bahasa Inggris), diakses tanggal 2020-12-19 
  10. ^ Anders, Katherine L.; Indriani, Citra; Ahmad, Riris Andono; Tantowijoyo, Warsito; Arguni, Eggi; Andari, Bekti; Jewell, Nicholas P.; Dufault, Suzanne M.; Ryan, Peter A.; Tanamas, Stephanie K.; Rancès, Edwige (2020-05-25). "Update to the AWED (Applying Wolbachia to Eliminate Dengue) trial study protocol: a cluster randomised controlled trial in Yogyakarta, Indonesia". Trials. 21. doi:10.1186/s13063-020-04367-2. ISSN 1745-6215. PMC 7249400 . PMID 32450914. 
  11. ^ "World Mosquito Program's Wolbachia method dramatically reduces dengue incidence in Indonesia". LSHTM (dalam bahasa Inggris). Diakses tanggal 2020-12-19. 
  12. ^ a b c d "Nature's 10: ten people who helped shape science in 2020". www.nature.com (dalam bahasa Inggris). Diakses tanggal 2020-12-19. 
  13. ^ Napitupulu, Ester Lince (21 Desember 2020). "Adi Utarini: Sumbangan pada Dunia". Kompas. Hlm. 16.
  14. ^ "Nakes Gugur: Terus Bertambah, Bukan Sekadar Angka". VOA News. 6 September 2020. 
  15. ^ "Adi Utarini". The Conversation (dalam bahasa Inggris). Diakses tanggal 2020-12-19.