Abu al-Hasan al-Asy'ari

Ilmuwan muslim dibidang filsafat, teologi, logika, ilmu kalam, yurisprudensi Islam, dan tafsir

Abū al-Ḥasan al-Asyʿarī (الأشعري; nama lengkap: Abū al-Ḥasan ʿAlī ibn Ismāʿīl ibn Isḥāq al-Ashʿarī; c. 874–936 M/260–324 H)[1][2] adalah seorang sarjana Muslim Arab dari yurisprudensi Syafi'i, penafsir kitab suci, pembaharu (mujaddid), dan teolog skolastik (mutakallim), yang terkenal sebagai pendiri dari teologi Islam Sunni Asy'ariyah.[3][4][5]

Infobox orangAbu al-Hasan al-Asy'ari
Nama dalam bahasa asli(ar) أبو الحسن الأشعري
Biografi
Kelahirank. 873
Basra
Kematiank. 935 (61/62 tahun)
Bagdad
Data pribadi
AgamaIslam
Kegiatan
SpesialisasiMazhab-Mazhab Teologi Islam dan Ilmu Kalam
PekerjaanTeolog, mutakallim (en), filsuf, mufasir dan Faqih
Murid dariAl-Jubba'i (en), al-Marwazī (en) dan Ibn Surayj (en)
MuridQ29514435, Q29514441 dan Q87651987
Karya kreatif
Keluarga
KerabatAl-Jubba'i (en) (ayah tiri)

Al-Asyʿari terkenal karena mengambil posisi di antara dua madzhab teologi yang sudah ada, yakni Atsariyah dan Mu'tazilah.[1][2] Dia membangun jalan tengah di antara paham tradisionalis Atsariyah yang menolak rasionalitas dan paham progresif Mu'tazilah yang mengedepankan rasionalitas.[6] Pada satu sisi paham tradisionalis menekankan arti literal dari naskh al-Qur'an dan Hadis serta menolak ilmu kalam (teologi dialektis), di sisi lain paham progresif yang melulu mengandalkan rasionalitas dalam perkara teologis dan menganggap al-Quran sebagai makhluk.[1][7][8]

Ajaran Abu al-Hasan al-Asyʿari akhirnya menjadi madzhab teologi paling dominan di dunia Sunni, namun pemikirannya tidak diterima di dunia Syiah.[2][9]

Biografi sunting

Abū Ḥasan al-Asyʿarī lahir di Basra pada sekitar tahun 874 Masehi dan meninggal di Baghdad pada tahun 936 Masehi. Di masa mudanya dia belajar kepada ayah tiri sekaligus gurunya, Ali al-Juba’i, seorang tokoh Mu'tazilah di masanya.[6] Tidak heran bila pada masa mudanya, al-Asyʿari meyakini doktrin Mu'tazilah. Namun, sebagaimana menurut sumber-sumber klasik, saat berusia 40 tahun diberitakan dia bermimpi bertemu dengan Nabi Islam Muhammad sebanyak tiga kali pada suatu bulan Ramadhan.[10][11]

Dalam sumber-sumber klasik itu diceritakan saat pertama kali mimpi bertemu Nabi Islam Muhammad, Muhammad memintanya untuk tidak pernah meninggalkan tradisi (sunnah) yang datang dari dirinya.[11][12][13] Saat terbangun, dirinya pun menjadi khawatir karena beberapa pandangannya bertentangan dengan ucapan Muhammad (hadis). Selang 10 hari, dirinya bermimpi, dan Muhammad kembali memintanya untuk tidak pernah meninggalkan sunnah-sunnahnya. Kejadian kedua itu membuatnya meninggalkan ilmu kalam dan hanya mempercayai hadis. Namun, pada malam 27 Ramadan dirinya kembali bermimpi bertemu Muhammad, dan kali ini Muhammad mengatakan kepadanya bahwa ia tidak memintannya untuk meninggalkan ilmu kalam tetapi hanya memintanya untuk mendukung sunnah-sunnah yang datang dari dirinya. Dalam kitab Tabyin Kidzb Al-Muftari karangan Ibnu As-Sakir terdapat kisah mimpi perjumpaan al-Asy'ari dengan Muhammad:

"Tebersit dalam hatiku beberapa permasalahan dalam persoalan akidah. Aku pun berdiri untuk melaksanakan sholat dua rakaat. Aku lalu memohon kepada Allah agar Dia Ta'ala memberikan petunjuk jalan yang lurus kepadaku. Lantas aku pun mengantuk dan tertidur. Tak lama kemudian, aku mimpi bertemu Rasulullah ﷺ. Maka aku adukan beberapa masalah kepada beliau, dan Rasulullah ﷺ pun berwasiat, 'Tetapilah sunnah-ku!' Aku pun terjaga dan segera membandingkan beberapa permasalahan ilmu akidah dengan dalil-dalil yang kutemukan dalam al-Quran maupun al-Hadits. Aku menetapi [ilmu kalam] yang sejalan dengannya (al-Quran maupun al-Hadits) dan meninggalkan yang berselisih di belakangku."[13][14]

Kejadian ini membuatnya meninggalkan paham Mu'tazilah dan menyusun kerangka baru pemikiran ilmu kalam (teologi Islam). Hingga akhir hidupnya al-Asy'ari berhasil menyusun 90 karyanya dan beberapa di antaranya bertahan hingga hari ini.[1]

Pandangan sunting

Setelah keluar dari mazhab Muʿtazilah, dan bergabung dengan pihak teolog tradisionalis,[15] al-Asy'ari merumuskan teologi Islam Sunni melalui ilmu kalam, mengikuti jejak Ibnu Kullab satu abad sebelumnya.[16] Dalam hal ini, ia diikuti oleh sejumlah besar ulama Islam Sunni terkemuka, banyak di antaranya berasal dari mazhab hukum Syafi'i.[17] Yang paling terkenal di antaranya adalah Abul-Hassan Al-Bahili, Abu Bakar al-Baqillani, al-Juwaini, ar-Razi dan al-Ghazali. Dengan demikian mazhab al-Asy'ari, bersama dengan Maturidi, menjadi mazhab utama yang mencerminkan keyakinan Sunnah.[17] Ia juga diketahui pernah menjadi guru dari ulama sufi, Ibnu Khafif.

Sejalan dengan tradisi Sunni, al-Asy'ari berpandangan bahwa seorang Muslim tidak boleh dianggap kafir, selagi ia tidak berbuat Syirik, meskipun jika ia melakukan dosa besar seperti minum anggur atau mencuri. Hal ini bertentangan dengan keyakinan kaum Khawarij.[18] Al-Asy'ari juga percaya bahwa tidak diperbolehkan menentang seorang pemimpin dengan kekerasan meskipun dia secara terbuka tidak mematuhi perintah hukum suci.[18]

Al-Asy'ari menghabiskan sebagian besar karyanya menentang pandangan mazhab Muʿtazilah. Secara khusus, beliau membantah mereka karena percaya bahwa Al-Qur'an diciptakan dan perbuatan dilakukan oleh manusia atas kemauannya sendiri.[17] Ia juga membantah mazhab Muʿtazilah yang mengingkari bahwa Allah dapat mendengar, melihat, dan berbicara. Al-Asy'ari membenarkan semua sifat tersebut dengan menyatakan bahwa sifat-sifat tersebut berbeda dengan pendengaran, penglihatan dan ucapan makhluk, termasuk manusia.[17] Al-Asy'ari juga terkenal karena mengajarkan atomisme.[19]

Karya sunting


Lihat pula sunting

Referensi sunting

  1. ^ a b c d Nasr, Seyyed Hossein (2006). "Part 3: Islamic Philosophy in History – Dimensions of the Islamic Intellectual Tradition: Kalām, Philosophy, and Spirituality". Islamic Philosophy from Its Origin to the Present: Philosophy in the Land of Prophecy. Albany, New York: SUNY Press. hlm. 124–126. ISBN 9780791468005. LCCN 2005023943. 
  2. ^ a b c Frank, Richard M. (2020) [2007]. "Al-Ashʿarī's conception of the nature and role of speculative reasoning in theology". Dalam Frank, Richard M.; Gutas, Dimitri. Early Islamic Theology: The Muʿtazilites and al-Ashʿarī – Texts and Studies on the Development and History of Kalām, Vol. II (edisi ke-1st). London and New York: Routledge. hlm. 136–154. doi:10.4324/9781003110385_8. ISBN 9780860789789. LCCN 2006935669. 
  3. ^ Javad Anvari, Mohammad (2015). "al-Ashʿarī". Dalam Madelung, Wilferd; Daftary, Farhad. Encyclopaedia Islamica. Diterjemahkan oleh Melvin-Koushki, Matthew. Leiden and Boston: Brill Publishers. doi:10.1163/1875-9831_isla_COM_0300. ISSN 1875-9823. 
  4. ^ Thiele, Jan (2016) [2014]. "Part I: Islamic Theologies during the Formative and the Early Middle period – Between Cordoba and Nīsābūr: The Emergence and Consolidation of Ashʿarism (Fourth–Fifth/Tenth–Eleventh Century)". Dalam Schmidtke, Sabine. The Oxford Handbook of Islamic Theology. Oxford and New York: Oxford University Press. hlm. 225–241. doi:10.1093/oxfordhb/9780199696703.013.45. ISBN 9780199696703. LCCN 2016935488. 
  5. ^ Hoover, John (2020). "Early Mamlūk Ashʿarism against Ibn Taymiyya on the Nonliteral Reinterpretation (taʾwīl) of God's Attributes". Dalam Shihadeh, Ayman; Thiele, Jan. Philosophical Theology in Islam: Later Ashʿarism East and West. Islamicate Intellectual History. 5. Leiden and Boston: Brill Publishers. hlm. 195–230. doi:10.1163/9789004426610_009. ISBN 978-90-04-42661-0. ISSN 2212-8662. LCCN 2020008682. 
  6. ^ a b Al-Fayyadl, Muhammad Tholhah (2020-06-19). "Biografi Imam Abu al-Hasan al-Asy'ari: Sang Penyelamat Umat". NU Online. Diakses tanggal 2022-11-30. 
  7. ^ Halverson, Jeffry R. (2010). "The Doctrines of Sunni Theology". Theology and Creed in Sunni Islam: The Muslim Brotherhood, Ash'arism, and Political Sunnism. New York: Palgrave Macmillan. hlm. 12–31. doi:10.1057/9780230106581_2. ISBN 978-0-230-10658-1. Diakses tanggal 21 January 2022. 
  8. ^ "Ketika Imam Al Asyari Membuat Kaum Rasionalis Terdiam". Republika. 2020-03-01. Diakses tanggal 2022-11-30. 
  9. ^ Javad Anvari, Mohammad (2015). "al-Ashʿarī". Dalam Madelung, Wilferd; Daftary, Farhad. Encyclopaedia Islamica. Diterjemahkan oleh Melvin-Koushki, Matthew. Leiden and Boston: Brill Publishers. doi:10.1163/1875-9831_isla_COM_0300. ISSN 1875-9823. 
  10. ^ Syadiri, Saifuddin (2020-12-20). "7 Kisah Ulama Panutan Aswaja yang Bermimpi Bertemu Rasulullah saw". saifuddinsyadiri.com. Diakses tanggal 2022-11-30. 
  11. ^ a b William Montgomery Watt, Islamic Philosophy and Theology, p 84. ISBN 0202362728
  12. ^ Shaykh Rami Al Rifai (11 September 2015). "Significance of the Ash'ari Aqeedah". 
  13. ^ a b Ibn ‘Asakir. Tabyin Kadhib al-Muftari fima Nusiba ila al-Imam Abu'l Hasan al- Ash'ari. hlm. 51–52. 
  14. ^ Rizqa, Hasanul (2021-07-05). "Mimpi Bertemu Rasulullah ﷺ Titik Balik Imam Al Asyari". Republika. Diakses tanggal 2022-11-30. 
  15. ^ Anjum, Ovamir (2012). Politics, Law, and Community in Islamic Thought. Cambrdige University Press. hlm. 108. ISBN 9781107014060. Diakses tanggal 14 July 2016. 
  16. ^ John L. Esposito, The Oxford History of Islam, p 280. ISBN 0199880417
  17. ^ a b c d "Scholar of renown: Abul-Hassan Al-Ash'ari". 21 May 2001. 
  18. ^ a b Jeffry R. Halverson, Theology and Creed in Sunni Islam: The Muslim Brotherhood, Ash'arism, and Political Sunnism, p 77. ISBN 0230106587
  19. ^ Ash'ari - A History of Muslim Philosophy