Buka menu utama

Wisma Nusantara adalah sebuah gedung perkantoran yang terletak di Jalan MH Thamrin, Jakarta, Indonesia. Dibangun pada tahun 1964, Wisma Nusantara merupakan gedung pencakar langit pertama di Indonesia dan Asia Tenggara[2] yang mencapai ketinggian 100 meter. Bangunan tersebut berada di satu kompleks dengan Hotel Pullman.

Wisma Nusantara
Monumen Selamat Datang ^ Wisma Nusantara - panoramio.jpg
Wisma Nusantara bersebelahan dengan Hotel Pullman.
Informasi umum
StatusSelesai
JenisGedung perkantoan
Gaya arsitekturInternational style
LokasiJakarta, Indonesia
AlamatJl. M.H. Thamrin No. 59, Jakarta 10350
Koordinat6°11′38″S 106°49′25″E / 6.193962°S 106.823673°E / -6.193962; 106.823673
Mulai dibangun1964
Diresmikan2 Desember 1972
PemilikPT. Wisma Nusantara International
Tinggi117 m (384 ft)
Informasi teknis
Jumlah lantai30[1]
Luas lantai25386 m2 (273250 sq ft)[1]
Lift4 unit pada lantai ke-13 sampai ke-28, 3 unit pada lantai dasar sampai ke-13 floor[1]
Desain dan konstruksi
Kontraktor utamaMitsui Construction Co.

SejarahSunting

Pembangunan Wisma Nusantara diawali dari gagasan Presiden Soekarno untuk membangun pencakar langit pertama di Jakarta. Kontrak pertama dibuat pada tahun 1964 sebesar $5,7 juta[3] menggunakan biaya perbaikan Jepang setelah perang dan mulai dibangun pada tahun yang sama. Namun, penurunan nilai rupiah serta usaha kudeta menunda pembangunan Wisma Nusantara. Akibat dari kehabisan dana, gedung tersebut tidak terselesaikan dan hanya menyisakan kerangka baja selama kurang lebih lima tahun.[3][4]

Pembangunan dilanjutkan oleh Mitsui Construction Co. pada tahun 1972 setelah pembaharuan kontrak. Wiratman Wangsadinata, pendiri dari PT. Wiratman & Associates, dipilih sebagai pengawas proyek pada tahun 1970. Gedung tersebut pada akhirnya selesai dibangun pada tahun 1972 dan diresmikan oleh Presiden Suharto pada tanggal 2 Desember pada tahun yang sama, bersama dengan President Hotel (sekarang Pullman Hotel).[2] Sebagai bagian dari persetujuan, saham dipegang oleh Mitsui sebesar 55% sementara pemerintah Indonesia memegang saham sebesar 45%.[2] Dikarenakan biaya menyewa ruang perkantoran yang tinggi, gedung ini dahulu hanya digunakan oleh perusahaan-perusahaan Jepang selama beberapa tahun. Akibatnya, gedung ini memicu antipati masyarakat Indonesia.[3] Pada suatu waktu papan Suzuki besar terpasang di puncak gedung. Sebuah film Indonesia yang disutradarai oleh Sjumandjaja, Budak Nafsu (1984), menampilkan adegan wanita muda yang diperkosa dan dijadikan selir bagi Jepang pada masa perang serta kehilangan gairah hidup, berjalan di Jakarta serta dikelilingi oleh papan-papan neon perusahaan-perusahaan Jepang di Jalan MH Thamrin, yang dengan jelas menunjukkan sikap sentimen terhadap Jepang di Indonesia pada saat itu.[3]

Renovasi besar pertama dilakukan pada tahun 1990 oleh JICA. Jembatan penghubung antara gedung perkantoran Wisma Nusantara dengan hotel (saat itu bernama Nikko Hotel) dibangun pada tahun 2002. Pada tahun 2003, Nikko Hotel diperluas dengan penambahan berupa menara berlantai sebelas yang menyediakan kamar-kamar mewah di sebelah utara kompleks Wisma Nusantara. Menara hotel ini dibangun oleh Kenzo Tange International. Pada tahun 2005, Gedung Annex selesai dibangun untuk mengakomodasi parkir.

RancanganSunting

Wisma Nusantara dianggap sebagai gedung pencakar langit pertama di Indonesia dan Asia Tenggara yang mencapai ketinggian di atas seratus meter. Gedung ini juga merupakan prototipe gedung tahan-gempa generasi kedua bagi pencakar langit di Jepang. Baja berkualitas tinggi yang diimpor dari Jepang digunakan sebagai penyangga utama dari gedung. Wisma Nusantara menggunakan fondasi sumuran untuk menjaga gedung tetap stabil saat terjadinya gempa bumi.[2]

ReferensiSunting

  1. ^ a b c "Wisma Nusantara - Building Information - Facilities". Wisma Nusantara. PT. Wisma Nusantara International. 2014. Diarsipkan dari versi asli tanggal 16 Juni, 2016. Diakses tanggal 18 Januari, 2017. 
  2. ^ a b c d "Wisma Nusantara - history". Wisma Nusantara. PR. Wisma Nusantara International. 2014. Diakses tanggal 18 Januari, 2017. 
  3. ^ a b c d Miyake 2006, hlm. 6.
  4. ^ Merrillees 2015, hlm. 105.

Daftar pustakaSunting

Pranala luarSunting