Usap nasofaring

Usap nasofaring (atau kultur nasofaring) merupakan sebuah metode untuk mengumpulkan sampel uji klinis dari hasil sekresi hidung atau mukus yang berlokasi di belakang hidung dan tenggorokan.[1][2] Selanjutnya, sampel dianalisis untuk mengetahui keberadaan organisme atau tanda klinis lainnya sebagai bukti keberadaan penyakit. Metode diagnosis ini biasanya digunakan dalam kasus dicurigai untuk kasus penyakit batuk rejan, difteri, influenza dan beragam jenis penyakit yang disebabkan oleh famili virus koronavirus, seperti sindrom pernapasan akut berat (SARS), sindrom pernapasan Timur Tengah (MERS), dan penyakit koronavirus 2019 (COVID-19).[3][4][5][6][7][8]

usap nasofaring
Diagnostik
Diagnosis-image1.jpg
Usap nasofaring
MedlinePlus003747
Video pengambil sampel uji usab dari spesimen klinis

ProsedurSunting

Proses pengambilan sampel dilakukan dengan memasukkan sebuah alat usap yang terdiri dari tangkai dengan ujung yang berfungsi untuk pengambilan sampel ke dalam lubang hidung dan secara perlahan dimasukkan hingga mencapai nasofaring. Nasofaring merupakan bagian dari faring yang menyelimuti bagian langit-langit mulut. [9] Alat usap yang digunakan kemudian diputar untuk beberapa saat agar bisa mengambil mukus, lalu dikeluarkan untuk diletakkan kedalam media transpor yang steril yang berfungsi sebagai penyimpanan sementara untuk analisis selanjutnya.[5][6] Penyimpanan tidak boleh dilakukan pada media yang dingin bila uji ini dilakukan untuk penyakit meningitis. Agen penyebab penyakit meningitis, seperti Neisseria meningitidis dan Haemophilus influenzae sangat rentan untuk terbunuh dan mati pada suhu dingin.[3]

Bahan baku alat usapSunting

Alat usap yang digunakan memiliki prinsip yang sama dengan kapas pentul. Bahan baku yang digunakan biasanya merupakan sebuah tangkai pendek yang terbuat dari tongkat kecil berbahan plastik dengan ujung yang berasal dari bahan yang memiliki sifat menyerap, seperti kapas, poliester dan nilon yang telah mengalami proses flocking. (Beberapa tangkai alat usap dibuat dari nikrom atau kawat baja nirkarat).[3][10] Bahan alat usap yang digunakan tergantung dari penerapan diagnosis yang juga beragam tergantung jenis uji yang dilakukan. Beberapa penelitian menunjukkan alat usap yang menggunakan bahan alat usap hasil proses flocking mengumpulkan jumlah sampel yang lebih banyak dibandingkan alat usap serat.[7][11]

Metode berhubunganSunting

Metode yang sedikit berbeda, tetapi berhubungan dengan metode ini ialah aspirasi nasofaring. Dibandingkan menggunakan alat usap fisik untuk mengambil sampel dari nasofaring, metode ini menggunakan kateter yang ditempelkan alat suntik. Sama dengan metode uji usap, kateter dimasukkan kedalam lubang hidung dan secara perlahan dimasukkan sampai nasofaring yang akan menghasilkan satu hingga tiga milimeter larutan garam fisiologi yang diikuti dengan aspirasi larutan tersebut bersamaan dengan sel dan mukus kembali ke alat suntik .[7] Metode aspirasi sering digunakan ketika pasien merupakan seorang lansia dan bayi. Metode ini juga digunakan ketika terindikasi efektif untuk jenis uji pada penyakit yang dilakukan uji.[6][12]

Komplikasi yang timbul setelah ujiSunting

Meskipun, mayoritas uji biasa dilakukan oleh tenaga semi profesional, kemungkinan terjadinya kejadian yang tidak diharapkan tidak menunjukkan kasus yang jarang. [13] Ada beberapa kejadian yang tidak diharapkan terjadi, seperti kasus tertinggalnya alat uji usap di hidung karena pasien yang mengalami uji tidak koperatif dengan sering mengoyangkan kepalanya [14] serta kebocoran zalir serebrospinal setelah melakukan uji usap COVID-19.[15] Ada sebuah kasus komplikasi berupa munculnya bisul pada bagian faring. Kondisi ini muncul karena uji usap berulang yang dilakukan oleh pasien tiap minggu.[16]

DiagramSunting


ReferensiSunting

  1. ^ "Nasopharyngeal culture: MedlinePlus Medical Encyclopedia". medlineplus.gov (dalam bahasa Inggris). Diakses tanggal 19 Maret 2021. 
  2. ^ Stang, Debra (6 Juni 2012). "Nasopharyngeal Culture: Purpose, Procedure, and Treatment". Healthline (dalam bahasa Inggris). Diakses tanggal 19 Maret 2021. 
  3. ^ a b c Junkins, Alan (2010). Mukherjee, Kanai L.; Ghosh, Swarajit, ed. Medical Laboratory Technology Vol 2, 2/E (dalam bahasa Inggris). 2 (edisi ke-2). New Delhi: Tata McGraw-Hill Education. hlm. 515. ISBN 978-0-07-007663-1. 
  4. ^ "Specimen Collection". www.cdc.gov (dalam bahasa Inggris). Diakses tanggal 19 Maret 2021. 
  5. ^ a b Irving, Stephanie A.; Vandermause, Mary F.; Shay, David K.; Belongia, Edward A. (2012). "Comparison of Nasal and Nasopharyngeal Swabs for Influenza Detection in Adults". Clinical Medicine & Research (dalam bahasa Inggris). 10 (4): 215–218. doi:10.3121/cmr.2012.1084. ISSN 1539-4182. PMC 3494547 . PMID 22723469. 
  6. ^ a b c "Influenza Specimen Collection" (PDF). Centers for Disease Control and Prevention. Diakses tanggal 19 Maret 2021. Usap nasofaring merupakan metode pengambilan spesimen pada jalur pernafasan bagian atas yang optimal untuk pengujian penyakit influenza 
  7. ^ a b c Mcpherson, Richard A; Pincus, Matthew R (2016). Henry's clinical diagnosis and management by laboratory methods. Richard A. McPherson, Matthew R. Pincus (edisi ke-1 Asia Selatan). New Delhi: Elsevier. hlm. 1083. ISBN 978-81-312-4677-1. OCLC 1030283847. 
  8. ^ World Health Organization (19 Maret 2020). "Laboratory testing for coronavirus disease (COVID-19) in suspected human cases: Interim guidance". WHO/COVID-19/laboratory/2020.5. Organisasi Kesehatan Dunia. Diakses tanggal 19 Maret 2021. 
  9. ^ Marty, Francisco M.; Chen, Kaiwen; Verrill, Kelly A. (2020). "How to Obtain a Nasopharyngeal Swab Specimen". New England Journal of Medicine (dalam bahasa Inggris). doi:10.1056/nejmvcm2010260. 
  10. ^ Gritzfeld, Jenna F.; Roberts, Paul; Roche, Lorna; El Batrawy, Sherouk; Gordon, Stephen B. (2011). "Comparison between nasopharyngeal swab and nasal wash, using culture and PCR, in the detection of potential respiratory pathogens". BMC Research Notes. 4 (1): 122. doi:10.1186/1756-0500-4-122. ISSN 1756-0500. PMC 3084159 . PMID 21489228. 
  11. ^ Costa, Christina; Sidoti, Francesca; Cavallo, Rosanna (2014). "Clinical and laboratory diagnosis of human respiratory viral infections". Dalam Singh, Sunit K. Human Respiratory Viral Infections (dalam bahasa Inggris). Boca Raton: CRC Press. hlm. 166. ISBN 978-1-4665-8320-7. 
  12. ^ Nunes, Marta C.; Soofie, Nasiha; Downs, Sarah; Tebeila, Naume; Mudau, Azwi; de Gouveia, Linda; Madhi, Shabir A. (2016). "Comparing the Yield of Nasopharyngeal Swabs, Nasal Aspirates, and Induced Sputum for Detection of Bordetella pertussis in Hospitalized Infants". Clinical Infectious Diseases. 63 (suppl_4): S181–S186. doi:10.1093/cid/ciw521. ISSN 1058-4838. PMC 5106614 . PMID 27838671. 
  13. ^ Föh, Bandik; Borsche, Max; Balck, Alexander; Taube, Stefan; Rupp, Jan; Klein, Christine; Katalinic, Alexander (2020-12-10). "Complications of nasal and pharyngeal swabs – a relevant challenge of the COVID-19 pandemic?". European Respiratory Journal (dalam bahasa Inggris): 2004004. doi:10.1183/13993003.04004-2020. ISSN 0903-1936. PMC 7736753 . PMID 33303542 Periksa nilai |pmid= (bantuan). 
  14. ^ Mughal, Z.; Luff, E.; Okonkwo, O.; Hall, C. E. J. (2020/07). "Test, test, test – a complication of testing for coronavirus disease 2019 with nasal swabs". The Journal of Laryngology & Otology (dalam bahasa Inggris). 134 (7): 646–649. doi:10.1017/S0022215120001425. ISSN 0022-2151. 
  15. ^ Sullivan, Christopher Blake; Schwalje, Adam T.; Jensen, Megan; Li, Luyuan; Dlouhy, Brian J.; Greenlee, Jeremy D.; Walsh, Jarrett E. (2020-12-01). "Cerebrospinal Fluid Leak After Nasal Swab Testing for Coronavirus Disease 2019". JAMA Otolaryngology–Head & Neck Surgery (dalam bahasa Inggris). 146 (12): 1179. doi:10.1001/jamaoto.2020.3579. ISSN 2168-6181. 
  16. ^ Lapeyre, Mathilde; Coupez, Elisabeth; Ghelis, Nil; Dupuis, Claire (2021-02-06). "Pharyngeal abscess: a rare complication of repeated nasopharyngeal swabs". Intensive Care Medicine (dalam bahasa Inggris). doi:10.1007/s00134-021-06358-6. ISSN 1432-1238. PMC 7866957 . PMID 33547902 Periksa nilai |pmid= (bantuan).