Teungku Chik Kuta Karang

ahli falak dan ulama Aceh

Teungku Chik Kuta Karang adalah nama panggilan dari Syeikh Abbas bin Muhammad al-Asyi atau Syeikh Abbas Kuta Karang adalah seorang ahli ilmu astrologi, pejuang, dan ahli pengobatan pada pertengahan abad ke-19. Sebagian besar karyanya tersimpan di Malaysia sehingga nama beliau lebih terkenal di sana.[butuh rujukan]

Syeikh Abbas bin Muhammad al-Asyi
Bismillahirahmanirahim
Syeikh Abbas bin Muhammad al-Asyi
Nama dan Gelar
Nama
NamaSyeikh Abbas bin Muhammad al-Asyi
Kelahirannya
Nama lahir
Abbas
Tempat lahir
Kuta Karang, Aceh
Agama Islam
Bantuan kotak info


Makam Teungku Chik Kuta Karang

Kelahiran dan kehidupan awalSunting

Teungku Chik Kuta Karang lahir di Kuta Karang, Aceh. Walaupun tidak ada catatan tertulis mengenai waktu kelahirannya, tetapi dapat dipastikan bahwa dia hidup pada pertengahan abad abad ke-19. Kesimpulan ini diambil dari kitab-kitab beliau yang selesai ditulis pada sekitar masa itu. Di antara kitab-kitab tersebut antara lain adalah kitab Qunu’ yang selesai ditulis pada tahun 1259 H bertepatan dengan tahun 1843 M serta kitab Sirajuz Zhalam yang selesai ditulis pada tahun 1266 H (1849 M).

Masa mudanya dihabiskan di Mekkah untuk menuntut ilmu, tidak hanya ilmu-ilmu agama tetapi juga tentang ilmu falak (perbintangan/astronomi), hisab (hitungan-hitungan), ilmu kedokteran, sastra, dan juga politik yang pada masa itu Islam dan negeri-negeri Islam adalah merupakan kiblat/sumber dari berbagai macam disiplin keilmuan tersebut. Selain itu, ia juga belajar tarekat Khalwatiyah dan juga fikih mazhab Syafii.[1]

Kitab-kitab karangannyaSunting

Sirajul Zalam fi Ma’rifati Sa’adi Wal NahasSunting

Kitab ini membahas tentang astrologi atau ilmu falak dan merupakan salah satu rujukan utama dalam bidang ilmu falak, hisab, dan astrologi/astronomi sejak dahulu hingga saat ini. Hal ini terjadi karena pada masanya tidak banyak ulama yang tertarik untuk mendalami bidang astrologi/astronomi ini sehingga dapat dikatakan bahwa kitab ini merupakan satu-satunya kitab yang membahas bidang tersebut serta menjadi rujukan pada masanya. Selain itu isi dan pembahasan di dalam kitab ini masih relevan hingga sekarang sebagai dasar atau pintu masuk serta bahan perbandingan bagi sains modern.

Kitabur RahmahSunting

Kitab ini membahas mengenai obat-obatan dan tata cara pengobatan yang dialihbahasakan dari bahasa Arab ke bahasa Melayu. Hingga kini, beberapa tabib di Aceh masih menggunakan kitab ini sebagai rujukan mereka.[2]

Tazkiratul Rakidin (1886) dan Mau’izhatul Ikhwan (1889)Sunting

Dua kitab ini berisikan nasihat-nasihat yang berkaitan dengan Perang Sabil yang sedang dihadapi oleh Kesultanan Aceh pada masa itu.[2]

Taj al-MulukSunting

Kitab ini berkaitan dengan ilmu hisab dan falak. Pada beberapa dayah di Aceh, kitab ini masih dijadikan bahan bacaan hingga sekarang. Metode hisab yang digunakan berbeda dengan metode hisab bernuansa urfi yang selama ini digunakan karena konsep yang digunakan di dalam kitab ini adalah konsep Urfi sistem aboge. Hal ini menjadi temuan menarik karena sistem aboge hanya dikenal di daerah Jawa, tetapi ternyata kitab ini juga memuat sistem perhitungan yang hampir sama. Perbedaannya adalah sistem aboge di Jawa menggunakan hari pasaran sedangkan kitab Taj al-Muluk tidak mengenal hari pasaran. Sistem aboge ini adalah sistem perhitungan Tahun Lunar dengan menggunakan perhitungan delapan tahunan. Teungku Chik Kuta Karang menggunakan ilmu falak tidak hanya untuk keperluan ibadah seperti penentuan puasa, arah kiblat, dan waktu salat, tetapi juga untuk menentukan hari baik dan hari buruk, untuk pertanian, dan menghitung musim.[3]

Peranan dalam bidang sosial kemasyarakatanSunting

Selain sebagai seorang ulama, Teungku Chik Kuta Karang juga berperan di dalam bidang pemerintahan sebagai Qadi Malikul Adil pada masa Sultan Alaidin Ibrahim Mansyur Syah (1857–1870). Ia pernah memfatwakan, “Barang siapa yang memerangi kafir hendaklah dengan mempergunakan alat-alat senjata yang sama dengan yang dipakai oleh musuh”. Oleh sebab itu, para pejuang Aceh berusaha merampas dan membawa lari senjata-senjata Belanda.[2]

ReferensiSunting

  1. ^ Nasution, Miftah (18 Januari 2017). "Teungku Chik Kuta Karang". Balai Pelestarian Nilai Budaya Aceh. Kemdikbud. Diakses tanggal 17 September 2018. 
  2. ^ a b c "Teuku Chik Kutakarang, Ahli Sufi dan Intelektual Reformis – PORTALSATU.com". Diakses tanggal 2018-09-17. 
  3. ^ Putri, Hasna Tuddar (2013). Pemikiran Syekh Abbas Kutakarang Tentang Hisab Penentuan Awal Bulan Hijriah (Sinopsis Tesis) (PDF). Semarang: Program Pasca Sarjana IAIN Walisongo.