Teman imajinasi

Teman imajinasi adalah fenomena psikologis dan sosial ketika pertemanan atau hubungan interpersonal lainnya berlangsung dalam ranah imajinasi dan tidak di dunia nyata. Meskipun teman imajinasi seolah-olah sangat nyata, anak-anak biasanya tahu bahwa teman imajinasi mereka tidak sungguh ada.[1] Penelitian pertama yang berfokus pada teman imajinasi dilakukan pada tahun 1890-an.[2] Tidak banyak informasi mengenai perkembangan dan kemunculan teman imajinasi di pikiran anak-anak. Dalam sejarah, orang dewasa memiliki dewa pelindung di rumah atau malaikat penjaga.[2] Pada akhirnya, fenomena teman imajinasi diturunkan ke anak-anak. Belum diketahui kapan anak-anak pertama kali memiliki teman imajinasi, tetapi kemungkinan fenomena ini muncul pada abad ke-20 ketika masa kanak-kanak dianggap sebagai masa untuk bermain dan berimajinasi.[2]

Caliban sedang berbincang dengan teman imajinasinya. Drama The Tempest karya Shakespeare ini dipentaskan oleh di Teater Folger.

Catatan kakiSunting

  1. ^ Taylor, M. (1999) Imaginary Companions and the Children Who Create Them. New York: Oxford University Press.
  2. ^ a b c Klausen, E.; Passman, R. H. (2007). "Pretend companions (imaginary playmates): The emergence of a field". The Journal of Genetic Psychology. 167 (4): 349–364. doi:10.3200/gntp.167.4.349-364. 

Bacaan lanjutSunting

  • Dierker, L. C.; Davis, K. F.; Sanders, B. (1995). "'The imaginary companion phenomenon: An analysis of personality correlates and developmental antecedents.'". Dissociation: The Official Journal of the International Society for the Study of Multiple Personality and Dissociation. 8: 220–228. 
  • Gleason, T (2002). "'Social provisions of real and imaginary relationships in early childhood.'". Developmental Psychology. 38: 979–992. doi:10.1037/0012-1649.38.6.979. 
  • Gleason, T. (2009). 'Imaginary companions.' In Harry T. Reis & Susan Sprecher (Eds.), Encyclopedia of Human Relationships (pp. 833–834). Thousand Oaks, CA: Sage.
  • Hall, E. (1982). 'The fearful child's hidden talents [Interview with Jerome Kagan].' Psychology Today, 16 (July), 50–59.
  • Hurlock, E.; Burstein, M. (1932). "'The imaginary playmate: A questionnaire study.'". Journal of Genetic Psychology. 41: 380–392. doi:10.1080/08856559.1932.10533102. 
  • Manosevitz, M.; Fling, S.; Prentice, N. (1977). "'Imaginary companions in young children: Relationships with intelligence, creativity and waiting ability.'". Journal of Child Psychology and Psychiatry. 18: 73–78. doi:10.1111/j.1469-7610.1977.tb00418.x. 
  • Manosevitz, M.; Prentice, N.; Wilson, F. (1973). "'Individual and family correlates of imaginary companions in preschool children.'". Developmental Psychology. 8: 72–79. doi:10.1037/h0033834. 
  • Mauro, J (1991). "'The friend that only I can see: A longitudinal investigation of children's imaginary companions' (Doctoral dissertation, University of Oregon, Eugene, 1991)". Dissertation Abstracts International. 52: 4995. 
  • Meyer, J.; Tuber, S. (1989). "'Intrapsychic and behavioral correlates of the phenomenon of imaginary companions in young children.'". Psychoanalytic Psychology. 6 (2): 151–168. doi:10.1037/0736-9735.6.2.151. 
  • Nagera, H (1969). "'The imaginary companion: Its significance for ego development and conflict solution.'". Psychoanalytic Study of the Child. 24: 165–195. 
  • Partington, J., & Grant, C. (1984). 'Imaginary playmates and other useful fantasies.' In P. Smith (Ed.), Play in animals and humans (pp. 217–240). New York: Basil Blackwell.
  • Imaginary Friends with Dr Evan Kidd podcast interview with Dr Evan Kidd of La Trobe University