Tata boga

Tata boga merupakan salah satu disiplin ilmu pengelolaan masakan yang mempelajari teknik penyajian makanan dan minuman dengan memperhatikan estetika, kualitas rasa dan keutuhan nutrisi. Bidang ini mencakup bagaimana makanan dan minuman disiapkan menjadi sebuah hidangan regional dan nasional. Prinsip-prinsip ilmiah yang berkaitan dengan kesehatan, gizi dan cita rasa. Di Indonesia, disiplin ilmu ini dapat dipelajari di Sekolah Menengah Kejuruan (SMK) atau di tingkat Perguruan tinggi terkait Industri pariwisata dan industri perhotelan.

Ciri khas tata boga, yaitu memberikan pengetahuan tentang seni mengolah hidangan dari persiapan pengolahan sampai dengan menghidangkan makanan dan minuman itu sendiri. Berbagai prinsip prinsip dasar utama dan tata cara memasak yang umum dilaksanakan. Dengan demikian,pengelolaan tata boga lebih kompleks lagi termasuk didalamnya pemanfaatan untuk tujuan ekonomis dan perindustrian.

Asal mulaSunting

Sebagai suatu disiplin ilmu terkait dengan seni dalam memilih bahan makanan, menyiapkan, memasak hingga menghidangkan makanan, tata boga bermula dari kebiasaan yang muncul di masyarakat pada akhir zaman Renaisans.[1] Kala itu muncul istilah juru masak untuk orang-orang yang terampil menyediakan makanan dan menghidangkannya dengan cita rasa yang khas. Para juru masak ini bekerja di puri untuk keluarga kerajaan dan pekerja di sana.[2] Para juru masak selanjutnya mulai bekerja di penginapan dan hotel, hingga kemudian dikembangkan menjadi disiplin ilmu.[3]

Seseorang yang memiliki keahlian dalam tata boga dinamakan sebagai koki, juru masak atau chef, dimana orang ini diharuskan untuk memiliki pengetahuan dalam ilmu pangan, nutrisi, dan diet[4] serta memiliki kreativitas dalam menyiapkan hidangan makanan yang menarik untuk dilihat. Ilmu tata boga sangat terkait dengan industri pariwisata dan perhotelan dimana kebanyakan para juru masak bekerja di rumah makan, hotel, atau taman hiburan.[5]

Di dalam perkembangannya, tata boga digolongkan ke dalam studi Seni Kuliner dan Layanan Industri Makanan yang menjanjikkan dasar yang kuat untuk membangun karir yang sukses di industri layanan makanan.[6] Berbagai teori inti dan aplikasi praktis tata boga dikembangkan termasuk namun tidak terbatas pada: teknik memasak dan memasak makanan klasik dan modern, manajemen makanan dan minuman, layanan perhotelan, ilmu makanan, perencanaan menu dan nutrisi, internasional. Hidangan dan budaya, serta teknik membuat kue basah dan kue kering.[7]

Perkembangan di IndonesiaSunting

Tata boga mulai berkembang sebagai disiplin ilmu pada era Hindia Belanda. Di abad ke-19 Masehi, para juru masak bertugas untuk menyiapkan makanan untuk para pejabat belanda dan pembesar lokal, dimana hidangan yang disajikan dinamakan boga hindia (Indische Keuken).[8] Setelah kemerdekaan, tata boga menjadi salah-satu disiplin ilmu yang banyak ditawarkan oleh berbagai SMK dan sekolah pariwisata[9], dimana lulusan dari sekolah tersebut diarahkan untuk bekerja di industri pariwisata dan perhotelan.[10][11] Tata boga juga sudah mulai diajarkan sebagai keterampilan non-kurikuler di beberapa Sekolah menengah atas di Indonesia.[12][13]

Di tingkat SMK, tujuan pembelajaran tata Boga difokuskan pada kemampuan untuk menjadi tenaga menengah yang terampil dan siap kerja di industri pariwisata seperti hotel, restoran, industri jasa boga dan berwirausaha dalam bidang boga, sehingga materi pembelajaran terdiri dari materi teori dan praktek.[14]

Lulusannya  diarahkan  sebagai tamatan siap kerja, cerdas, memiliki keunggulan kompetitif dan komparatif serta berkarakter kuat sebagai pekerja profesional.[15] Oleh karena itu, keterampilan memasak harus terkuasai manakala ingin menjadikan lulusan tata boga yang unggul dalam menghadapai persaingan kerja.[16]

Orang-orang yang memiliki keahlian di bidang tata boga kemudian mendirikan Ikatan Ahli Boga Indonesia (IKABOGA Indonesia) berdiri pada tanggal 3 Desember 1987 yang merupakan wadah satu-satunya Ahli Boga seluruh Indonesia.[17] Ikatan ini didirikan sebagai perwujudan dari gagasan Subkonsorsium Memasak dan Jasa Boga pada Direktorat Pendidikan Masyarakat Ditjen Diklusepora Departemen Pendidikan Nasional, yang pada waktu itu dijabat oleh Bapak Prof. Dr. W. P. Napitupulu.[18]

Preferensi profesiSunting

Ada tiga pilihan profesi utama bagi orang-orang yang menekuni bidang tata boga[19]:

  • Koki. Profesi koki merupakan preferensi yang lumrah di kalangan lulusan Tata Boga.[20] Koki di sini mencakup koki restoran, kafe, katering, hotel bintang lima hingga di kapal pesiar. Bahkan, koki juga dibutuhkan di penyediaan makanan rumah sakit.[21]
  • Pembuat kue. Profesi pembuat kue menjadi preferensi yang lumrah kedua di kalangan lulusan Tata Boga.[21] Tidak jauh berbeda dengan koki, pembuat kue dapat bekerja di berbagai bidang mulai dari kapal pesiar, katering, hotel, kafe, hingga pembuat kue privat.[22]
  • Barista. Profesi barista menjadi preferensi yang lumrah ketiga di jurusan Tata Boga yang berfokus di bidang menghidangkan dan mengelola minuman.[21] Barista di sini mencakup barista di kedai kopi, hotel dan tempat-tempat lain.[23]

Dari ketiga pilihan profesi utama tersebut terlihat jelas bahwa berkarir di bidang kuliner membutuhkan kerja keras dan kreativitas, baik di industri perhotelan, kafe, lab makanan, atau di tempat lain.[24] Perlu waktu lebih untuk mengembangkan kreativitas dan mengembangkan diri sehingga profesi ini menyajikan sebuah cita rasa baru.[25]

Pengaruh dalam industri kulinerSunting

Industri kuliner adalah kegiatan mengolah makanan menggunakan berbagai keahlian dan peralatan untuk mendapat manfaat ekonomi dibaliknya. Industri kuliner sendiri merupakan bagian dari industri kreatif yang digerakkan oleh karya-karya kreatif atau warisan tradisional masyarakat.[26] Pengaruh tata boga dalam industri kuliner terlihat dalam kemunculan jasa boga. Jasa boga adalah suatu perusahaan atau perorangan yang bergerak di bidang pengelolaan makanan dan minuman. Studi menemukan bahwa persaingan dalam industri jasa boga saat ini semakin ketat, sehingga para pelaku usaha bidang jasa boga harus melakukan inovasi produk sesuai dengan perkembangan dunia kuliner saat ini. Secara umum usaha jasa boga di bagi menjadi dua sektor, yaitu sektor komersial yang melayani pasar umum dan sektor komersial yang melayani pasar umum terbatas.[27]

Industri kuliner dan tata boga adalah referensi unik yang menggabungkan prinsip-prinsip ilmu makanan dan minuman dengan aplikasi praktis dalam persiapan makanan dan pengembangan produk.[28] Hal ini mengeksplorasi elemen setiap masakan dan bagaimana hidangan itu menjadi menarik sehingga tergambar relevansi profesional bagi para ahli tata boga untuk bekerja di industri makanan.[29] Dengan demikian, pengaruhnya menumbuhkan ketertarikan untuk mengeksplorasi keterampilan menghidangkan sesuatu masakan yang inovatif dan membuka kemungkinan untuk memulai karir di bidang kuliner.[30]

Lihat jugaSunting

RujukanSunting

  1. ^ "What is Culinary Arts?". hospitalityinsights.ehl.edu (dalam bahasa Inggris). Diakses tanggal 2022-01-06. 
  2. ^ Scully, Terence (1995). The Art of Cookery in the Middle Ages (dalam bahasa Inggris). Boydell Press. hlm. 86–88. ISBN 978-0-85115-430-5. 
  3. ^ Baran, Tony (2014-10-01). A Brief Culinary Art History of the Western Chef Avante-Guarde Through the Late 20Th Century (dalam bahasa Inggris). AuthorHouse. ISBN 9781496934581. 
  4. ^ Marcus, Jacqueline B. (2013-04-15). Culinary Nutrition: The Science and Practice of Healthy Cooking (dalam bahasa Inggris). Academic Press. ISBN 9780123918833. 
  5. ^ Porciani, Ilaria (2020). "Chapter 1 Food heritage and nationalism in Europe". Food Heritage and Nationalism in Europe (dalam bahasa English). 
  6. ^ Flandrin, Jean-Louis; Montanari, Massimo (2013-05-21). Food: A Culinary History (dalam bahasa Inggris). Columbia University Press. hlm. 21–22. ISBN 978-0-231-11155-3. 
  7. ^ Burns, Jennifer Bobrow (2010). Career Opportunities in Travel and Hospitality (dalam bahasa Inggris). Infobase Publishing. hlm. 146. ISBN 9780816077311. 
  8. ^ "Merawat Budaya Kuliner Nusantara | lifestyle - Bisnis.com". Bisnis.com. Diakses tanggal 2018-09-02. 
  9. ^ Ari. "Model Pembelajaran Untuk SMK Tata Boga Dalam Mengembangkan Ekonomi Kreatif". Direktorat Pembinaan SMK. Diakses tanggal 2018-09-02. 
  10. ^ "Karawang Usulkan Kurikulum SMK Harus Berbasis Industri | Republika Online". Republika Online. Diakses tanggal 2018-09-02. 
  11. ^ Siska, Windy (2018-08-30). "Menempa Keahlian Siswa – Sumatra Ekspres". Sumatra Ekspres. Diakses tanggal 2018-09-02. 
  12. ^ "Presiden Zanzibar Kagumi STP Bali – FAJAR –" (dalam bahasa Inggris). Diakses tanggal 2018-09-02. 
  13. ^ "Hadapi Era Industri 4.0, Program Double Track SMA Jadi Andalan". SINDOnews.com (dalam bahasa Inggris). Diakses tanggal 2018-09-02. 
  14. ^ Warsitaningsih, A. S. (2005). Efektifitas Metoda Mengajar Tata Boga oleh Guru SMK Pariwisata Bandung. mimbar-pendidikan, 69. http://jurnal.upi.edu/mimbar-pendidikan/view/346/efektifitas-metoda-mengajar-tata-boga-oleh-guru-smk-pariwisata-bandung.html
  15. ^ Noviani, Betty Ayu. Ilmu Boga Dasar Pengolahan Makanan, Metode Dasar Memasak. Guepedia. hlm. 3–4. ISBN 978-623-229-449-3. 
  16. ^ Hamidah, Siti (2012). "Model pembelajaran soft skill terintegrasi pada siswa SMK program studi keahlian tata boga". Jurnal Pendidikan Vokasi (dalam bahasa Inggris). 2 (1). doi:10.21831/jpv.v2i1.1016. ISSN 2476-9401. 
  17. ^ Winarno, A. (1991). Kamus singkatan dan akronim: baru dan lama. Indonesia: Penerbit Kanisius. https://books.google.co.id/books/about/Kamus_singkatan_dan_akronim.html?id=iODJQgAACAAJ&redir_esc=y
  18. ^ "KOWANI | IKATAN AHLI BOGA INDONESIA" (dalam bahasa Inggris). Diakses tanggal 2022-01-26. 
  19. ^ Edwin (2021-06-22GMT+070009:55:24+07:00). "Jurusan Tata Boga - Mata Kuliah, Prospek Kerja & Top 8 Universitas" (dalam bahasa Inggris). Diakses tanggal 2022-01-26. 
  20. ^ Yuniasari (2010-09-09). Aku Ingin Menjadi Koki. Pt Penerbit Erlangga Mahameru. hlm. 20. ISBN 978-979-075-853-7. 
  21. ^ a b c Thomas, Michele; Tomei, Annette; Biscontini, Tracey Vasil (2011-10-11). Culinary Careers For Dummies (dalam bahasa Inggris). John Wiley & Sons. hlm. 9–28. ISBN 978-1-118-07774-0. 
  22. ^ Friberg, Bo (2002-03-05). The Professional Pastry Chef: Fundamentals of Baking and Pastry (dalam bahasa Inggris). John Wiley & Sons. hlm. xiv. ISBN 978-0-471-35925-8. 
  23. ^ Udien, Fariz Chamim; Zakaria, Muhammad (2018-01-27). Become A Barista: Dasar Untuk Menjadi Seorang Barista (Spesialis Kopi). Eqiyu Indonesia & MLGcoffee.com. hlm. 7. 
  24. ^ "What Are The Culinary Arts?". Escoffier (dalam bahasa Inggris). 2021-08-23. Diakses tanggal 2022-01-26. 
  25. ^ Chaileuangleu, S., Chaiya, P., Batra, A., & Barnes, J. (2021). Factors Affecting the Culinary Arts Program Development for Preparing Professional Chefs In The Food Service Industry In Thailand. Social Science Asia, 7(1), 1-14. http://repository.unpar.ac.id/bitstream/handle/123456789/8243/Cover%20-%20Bab1%20-%203312104sc-p.pdf?sequence=1&isAllowed=y
  26. ^ Lin, P. M., & Baum, T. (2016). The meaning of applied creativity in the culinary industry. International Journal of Hospitality & Tourism Administration, 17(4), 429-448. https://strathprints.strath.ac.uk/59395/1/Lin_Baum_IJHTA_2016_The_meaning_of_applied_creativity_in_the_culinary_industry.pdf
  27. ^ Mayasari, Citra Unik (11 Januari 2020). "MODUL OPERASIONAL TATA BOGA I" (PDF): 1–2. 
  28. ^ Siregar, Robert Tua; Suwarti, Suwarti; Yendrianof, Devi; Mistriani, Nina; Butarbutar, Marisi; Dewi, Idah Kusuma; Purba, Pratiwi Bernadetta; Yunianto, Andi Eka (2020-11-17). Industri Pariwisata dan Kuliner. Yayasan Kita Menulis. hlm. 7–8. ISBN 978-623-6761-63-2. 
  29. ^ Gibson, Mark (2018-01-04). Food Science and the Culinary Arts (dalam bahasa Inggris). Academic Press. hlm. 50. ISBN 978-0-12-811817-7. 
  30. ^ Mondschein, Ken (2009-03). Food and Culinary Arts (dalam bahasa Inggris). Infobase Publishing. hlm. 22. ISBN 978-0-8160-7599-7.