Sutedi Senaputra

(Dialihkan dari Sutedi Senoputro)

Kapten KKO (Anumerta) Soetedi Senaputra, Adalah seorang perwira muda KKO (sekarang Korps Marinir), TNI Angkatan Laut. Lulus dari Akademi Angkatan Laut, Surabaya Angkatan V (1955-1958).[1] Dan ber-Korps KKO (Nrp. 905/P) satu angkatan dengan mantan Dankormar Mayjen TNI (Mar) Muntaram (Nrp. 910/P), dan Letkol KKO (Anumerta) E.W.A Pangalila (Nrp. 904/P). Ia tertembak dan gugur sebagai kusuma bangsa saat menjalankan Operasi Gondomono (Merdeka) di Sulawesi Utara pada 16 Januari 1960. dan dimakamkan di TMP Kairagi Manado.[2] Sedangkan untuk mengenang jasa jasanya nama Soetedi Senaputra diabadikan menjadi nama "Kesatrian Marinir Sutedi Senaputra Bhumi Marinir Karangpilang". Surabaya dan menjadi nama salah satu KRI yang dimiliki TNI Angkatan Laut (KRI Sutedi Senoputra-378).

Kapten KKO (Anumerta)
Soetedi Senaputra
Soetedi Senaputra.jpg
Informasi pribadi
Meninggal dunia16 Januari 1960
 Indonesia Manado
Alma materAkademi Angkatan Laut Angkatan V (1958)
Dinas militer
Pihak Indonesia
Dinas/cabangLambang TNI AL.png TNI Angkatan Laut
Masa dinas1958-1960
PangkatKapten pdh al.png Kapten KKO
SatuanKKO (Korps Marinir)
Pangkat terakhirnya adalah Letnan Muda KKO, tetapi karena gugur dalam tugas, maka diberikan Kenaikan Pangkat Luar Biasa (KPLB) menjadi Kapten KKO (Anumerta).

Pasukan KKO Terjebak di Gunung WianSunting

Pada tanggal 11 Januari 1960. Situasi mencekam dirasakan oleh Letnan Dua KKO Kahpi Soeriadiredja , saat dia dan dua peleton pasukan KKO-AL dari Detasemen Pendarat (DETAP) memasuki kawasan Gunung Wian, sebuah bukit kecil di Tatelu, Minahasa Utara. Tiap kaki melangkah, selalu saja para prajurit KKO-AL mendapat gangguan, baik tembakan dari regu musuh maupun tembakan bidik dari para sniper gerilyawan Permesta.

Pergerakan dua peleton DETAP pimpinan Wakil Komandan Kompi Letnan Dua KKO Kahpi Suriadiredja sesungguhnya merupakan pasukan bantuan. Beberapa jam sebelumnya, satu peleton DETAP pimpinan Letnan Muda KKO Soetedi Senaputra (yang tak lain adalah adik sepupu Kahpi) telah dikirim untuk menguasai Gunung Wian. Namun, alih-alih dapat membereskan bukit kecil tersebut, peleton Letnan Muda Tedi malah masuk dalam jebakan zone pembantaian (killing ground) para gerilyawan Permesta.

Begitu sampai di kaki Gunung Wian, pasukan pimpinan Kahpi langsung melakukan pendakian. Saat itulah, tetiba peluru-peluru Mitraliur 12,7 milik musuh berhamburan ke arah mereka. Sebagian peluru bahkan menggasak akar-akar gantung pohon beringin raksasa yang menjadi tempat perlindungan pasukan DETAP hingga kulit-kulitnya terlihat putih mengelupas.

Situasi benar-benar kritis buat para prajurit KKo-AL. Kedua peleton DETAP tidak bisa bergerak kemana-mana. Jangankan bergerak maju, untuk merayap perlahan pun situasi sangat tidak memungkinkan karena setiap jengkal tanah seolah disiram hujan peluru.

Namun sebagai komandan, Kahpi tidak bisa berdiam diri saja. Dengan setengah nekat, dia meloncat dari pohon ke pohon, berjibaku menghadapi hujan peluru. Di sebuah pohon beringin raksasa, Kahpi bertahan bersama beberapa anak buahnya, sementara para gerilyawan Permesta dengan seenaknya menembaki mereka dari atas seraya berteriak-teriak mengejek anak-anak KKo.

Dalam situasi demikian, tetiba dari arah samping, Kahpi mendengar seseorang berteriak.

“Letna Tedi kena! Letnan Tedi kena tembak!”

Tanpa banyak pertimbangan, Kahpi langsung merangsek sendirian, memburu datangnya sumber teriakan itu. Dilihatnya Letnan Muda KKO Sutedi Senaputra sedang tergeletak. Setelah Letnan Dua KKO Kahpi Suriadiredja memeriksa lukanya, ternyata peluru masuk ke perut namun tidak tembus ke belakang. Saat itulah, Kahpi baru sadar bahwa mereka tinggal bertiga saja di garis terdepan karena anggota peleton lainnya telah melakukan gerakan mundur. Selama bergerak mundur, Tedi selalu meracau. Dalam pangkuan Kahpi, sang adik sepupu itu berkisah banyak hal mengenai kenangan-kenangan masa lalu, terutama mengenai nenek mereka. Anehnya Tedi mengigau dalam bahasa Inggris.

“Akhirnya dalam pangkuan saya, dia menghembuskan nafas trakhir…”kenang Kahpi Suriadiredja.

Kendati gagal menguasai Gunung Wian saat itu, namun setidaknya Kahpi berhasil membawa pulang peleton KKo yang terjebak dalam zone pembantaian. Gerakan pasukan kemudian dialihkan ke wilayah Wasian-Tatelu guna melakukan pembersihan. Gunung Wian baru berhasil dikuasai oleh tentara pemerintah beberapa hari kemudian, lewat suatu pertempuran yang juga sangat brutal.

Letnan Muda KKO Soetedi Senaputra sendiri kemudian dimakamkan di Taman Makam Pahlawan Manado, Sulawesi Utara. Pangkatnya dinaikan menjadi Kapten KKO (Anumerta). Mengapa kapten? Sebenarnya, saat akan melakukan gerakan ke Gunung Wian, Letnan Muda KKO Sutedi Senaputra baru saja mendapatkan telegram tentang kenaikan pangkatnya menjadi Letnan Dua. Namun karena (saat itu) tidak tersedia tanda pangkat, maka ketika gugur dia masih memakai tanda pangkat Letnan Muda KKO.

ReferensiSunting