Buka menu utama

Subkepribadian adalah, dalam psikologi transpersonal, modus kepribadian yang muncul dalam tempo yang sementara, untuk memungkinkan seseorang dapat mengatasi suatu situasi psikososial tertentu.[1] Serupa halnya dengan kompleks- inti pola dari emosi, kenangan, persepsi, dan keinginan bawah sadar-[2] subkepribadian dapat mencakup pikiran, perasaan, tindakan, fisiologi, dan unsur-unsur perilaku manusia lainnya, untuk menampilkan suatu modus tertentu yang berfungsi menegasikan suatu situasi psikososial.[3] Setiap orang memiliki rata-rata sekitar selusin subkepribadian.

Subkepribadian mampu merasakan adanya suatu 'kesadaran' yang terpisah dari diri mereka, demikian juga dengan citra domestik (domestic image) yang melekat dalam setiap elemen-elemennya. Seorang filsuf transpersonal asal Amerika, Ken Wilber, mengidentifikasi subkepribadian sebagai presentasi diri secara fungsional yang menavigasikan situasi psikososial tertentu. Sebagai contoh, jika seorang kritikus keras memberi respon dengan perilaku yang menghakimi, kemarahan, superioritas, kata-kata kritikan, tindakan penghukuman, dan/atau melalui suatu bentuk ketegangan fisiologis saat dihadapkan dengan kesalahan yang diperbuat oleh dirinya sendiri dan/atau kesalahan yang diperbuat oleh orang lain, maka hal-hal tersebut merupakan subkepribadian dari seorang kritikus keras dalam mengatasi situasi konfrontasi.

Subkepribadian dalam PsikoterapiSunting

Untuk sudut pandang yang agak berbeda: Banyak sekolah psikoterapi melihat subkepribadian sebagai struktur atau entitas psikologis yang relatif bersifat tahan lama, yang mempengaruhi bagaimana seseorang merasakan sesuatu, berperilaku, dan melihat ke dalam dirinya sendiri. Sepanjang sejarah ilmu psikoterapi, berbagai bentuk terapi telah sukses dijalankan untuk berbagai representasi batin atau subkepribadian.[4][5] Metode awal yang digunakan yakni analisis Jung, psikosintesis, analisis transaksional, dan terapi Gestalt. Metode-metode ini diikuti oleh beragam bentuk hipnoterapi, dan aspek kepribadian serta ingatan masa kecil (inner child) karya John Bradshaw dan lain-lain. Pada akhirnya, bentuk-bentuk terapi yang sebagian besar didasarkan pada aspek subkepribadian pun mengemuka- Dialog Suara (Voice Dialogue), terapi keadaan ego (Ego-state therapy), dan psikologi transpersonal karya John Rowan.[6] Metode subkepribadian yang paling baru dan diterima secara luas ialah terapi Sistem Internal Keluarga (Internal Familiy Systems therapy - IFS) yang dikembangkan oleh Richard C. Schwartz. Ia melihat bahwa gangguan mental pemecahan kepribadian (dissociative identity disorder) mengubah kontinum yang sama dengan bagian IFS (subkepribadian), namun satu-satunya perbedaan yakni perubahan yang terjadi lebih terpolarisasi dan terpisahkan dari keseluruhan internal sistem. Studi terbaru menunjukkan bahwa integrasi subkepribadian dalam alur psikosintesis terapeutik dapat membantu klien mengurangi kecemasan dan membangun kembali identitas mereka saat berhadapan dengan perbedaan budaya (culture shock),[7] membantu meningkatkan kreativitas,[8] dan membangkitkan pertumbuhan diri dan spiritualitas seseorang yang mengidentifikasikan diri sebagai seorang ateis.[9]

ReferensiSunting

  1. ^ Fall, Kevin A. (December 9, 2003) Theoretical Models of Counseling and Psychotherapy. Page 444. Publisher: Routledge. ISBN 1-58391-068-9
  2. ^ Kivinen, Michael K. (November 1, 2007) Subconsciously Speaking. Coming to terms with past life regression. Volume 22; Issue 6; Page 10.
  3. ^ Rowan, J (1990). Subpersonalities: The People Inside Us. Routlege. ISBN 9780415043298. 
  4. ^ John Firman; Ann Gila (26 September 2002). Psychosynthesis: A Psychology of the Spirit. SUNY Press. hlm. 69. ISBN 978-0-7914-5534-0. 
  5. ^ Nora Doherty; Marcelas Guyler (2008). The Essential Guide to Workplace Mediation & Conflict Resolution: Rebuilding Working Relationships. Kogan Page Publishers. hlm. 88. ISBN 978-0-7494-5019-9. 
  6. ^ https://www.amazon.com/Subpersonalities-People-Inside-John-Rowan/dp/0415043298/ref=la_B000APYG46_1_3?ie=UTF8&qid=1352754282&sr=1-3
  7. ^ Lombard, Catherine Ann (2014-04-03). "Coping with anxiety and rebuilding identity: A psychosynthesis approach to culture shock". Counselling Psychology Quarterly. 27 (2): 174–199. doi:10.1080/09515070.2013.875887. ISSN 0951-5070. 
  8. ^ Lombard, C. A.; ller, B. C. N. Mu (2016-06-30). "Opening the Door to Creativity: A Psychosynthesis Approach". Journal of Humanistic Psychology (dalam bahasa Inggris). doi:10.1177/0022167816653224. 
  9. ^ Lombard, Catherine Ann (2017-01-27). "Psychosynthesis: A Foundational Bridge Between Psychology and Spirituality". Pastoral Psychology (dalam bahasa Inggris): 1–25. doi:10.1007/s11089-017-0753-5. ISSN 0031-2789. 

6. Lombard, C. A. (2014) "Mengatasi kecemasan dan membangun kembali identitas: psikosintesis pendekatan culture shock," Psikologi Konseling Triwulanan, 27,(2) pp. 174–199.