Buka menu utama

smartfren Telecom

(Dialihkan dari Smart)

smartfren (sebelumnya bernama Smart, Fren, esia, Hepi, AHA dan BOLT!) adalah operator penyedia jasa telekomunikasi berbasis teknologi 4G LTE Advanced yang merupakan pengembangan lanjutan dari 4G.

smartfren
IndustriOperator dan layanan telekomunikasi seluler Indonesia (2003-2017)
Operator dan layanan 4G LTE Indonesia (2013-sekarang)
Didirikan2003 (sebagai Fren dan esia)
2006 (sebagai Smart)
2008 (sebagai Hepi)
2009 (sebagai AHA)
2010 (sebagai smartfren)
2013 (sebagai BOLT!)
Kantor
pusat
Jakarta, Indonesia
Tokoh
kunci
Hary Tanoesoedibjo
(2003-2010)
Jastiro Abi
(2003-2016)
Rodolfo Pantoja
(2006-2015)
James Riady
(2013-2018)
Merza Fachys
(2015-sekarang)
ProdukCDMA2000 1x (2003-2017)
CDMA2000 1xEV-DO Rev. 0 dan A (2003-2017)
4G LTE 2,3 GHz (Band 40) (2013-2018)[1]
4G LTE 850 MHz (Band 5) dan 2,3 GHz (Band 40) (2015-sekarang)
PemilikGlobal Mediacom (2003-2010)
Bakrie Group (2003-2016)
Sinar Mas (2006-sekarang)
Lippo Group (2013-2018)
IndukSinar Mas Communication & Technology
Situs webwww.smartfren.com

SejarahSunting

Era smartfrenSunting

PT Smartfren Telecom Tbk (smartfren) awalnya bernama PT Smart Telecom Tbk dan PT Mobile-8 Telecom Tbk (Mobile-8) sebelum tanggal 23 Maret 2011.[2] PT Mobile-8 Telecom Tbk awalnya dimiliki oleh PT Global Mediacom Tbk.[3] Namun akibat krisis finansial dan penurunan penjualan produk,[4] maka perusahaan ini diakuisisi oleh Sinar Mas Group pada tanggal 12 Agustus 2009 dan mengganti nama perusahaan menjadi PT Smartfren Telecom Tbk pada tanggal 23 Maret 2011.[5]

Logo Smart dan Fren sebelum penggabungan secara resmi membentuk smartfren
 
Logo smartfren (Januari 2011-3 September 2019)
Berkas:Smartfren.svg
Logo smartfren (April 2011-2018)
 
Logo smartfren (2015-2018)

Era esia dan AHASunting

Perusahaan ini sebelumnya dikenal dengan nama PT Radio Telepon Indonesia (Ratelindo), yang didirikan pada bulan Agustus 1993, sebagai anak perusahaan Bakrie Group yang bergerak dalam bidang telekomunikasi di DKI Jakarta, Banten dan Jawa Barat berbasis Extended Time Division Multiple Access (ETDMA). Pada bulan September 2003, PT Radio Telepon Indonesia (Ratelindo) berubah nama menjadi PT Bakrie Telecom Tbk, yang kemudian bermigrasi ke CDMA 1x, dan memulai meluncurkan produk esia. Pada awalnya jaringan esia hanya dapat dinikmati di Jakarta, Banten dan Jawa Barat, namun sampai akhir 2007 telah menjangkau 26 kota di seluruh Indonesia dan terus berkembang ke kota-kota lainnya. Pada tahun 2006, Bakrie Telecom telah go-public dengan mendaftarkan sahamnya dalam Bursa Efek Jakarta.

Layanan Bakrie Connectivity dengan Broadband Wireless Access (BWA) berbasis CDMA (Code Division Multiple Access) yang didukung teknologi terkini EVDO Rev.A (Evolution Data Optimize), bisnis Bakrie Connectivity adalah berorientasi pada kemudahan pemakaian produk, memberi layanan dan konten yang menarik serta pengenaan tarif yang bukan hanya terjangkau tetapi juga bisa disesuaikan dengan kebutuhan masing-masing konsumen. Sehingga prioritas utama tidak hanya pelayanan maksimal untuk pelanggan tetapi juga memberikan nilai lebih. Orientasi inilah diyakini oleh perusahaan akan memberi dampak positif kepada masyarakat pengguna jaringan internet.

Tujuan Bakrie Connectivity Melihat perkembangan budaya digital dan internet yang sudah masuk ke pori-pori kehidupan sosial masyarakat dan juga sudah menjadi kebutuhan pokok masyarakat membuat peluang bisnis layanan data internet begitu menjadi peluang besar bagi Bakrie Connectivity. Dengan penggarapan yang serius berorientasi penuh pada layanan terbaik bagi pelanggan untuk memajukan masyarakat Indonesia kearah yang lebih baik.

Selama perjalanan usaha pada tahun 2014, BTEL dilaporkan terancam bangkrut karena hutang yang menggunung bahkan nominal hutangnya telah melampaui harga aset perusahaan.[6] Untuk melakukan hal ini, BTEL berusaha membayar seluruh hutangnya satu per satu bahkan hingga memberhentikan 24 persen total karyawannya dengan alasan penghematan biaya operasional.[6]

Layanan 4G bersama Esia menyerahkan seluruh pelayanan data internet sebesar 5 MHz kepada Smartfren di spektrum 850 MHz yang digunakan pula oleh Smartfren dalam menggelar jaringan 4G LTE. Dari spektrum 850 MHz inilah, Smartfren memulai jaringan 4G LTE (FDD - TDD).

Era HepiSunting

Hepi diluncurkan layanan sistem telepon Fixed Wireless Access dengan yang dirilis oleh Mobile-8 pada semester I 2008 untuk telepon genggam (ponsel) dengan biaya lokal. Hepi menggunakan jaringan CDMA Frekuensi 800 MHz untuk seluruh wilayah di Indonesia.

Era BOLT!Sunting

BOLT! diluncurkan secara resmi pada tanggal 14 November 2013.[1][7] Untuk menyelenggarakan 4G Long Term Evolution (LTE), Internux mengeluarkan investasi senilai 550 juta dollar AS atau sekitar Rp 6,3 triliun untuk menyewa menara BTS hingga menyediakan perangkat mobile wi-fi di pasar.[butuh rujukan] Saat awal peluncuran, BOLT! hanya mencakup kawasan Jabodetabek.[1] Pada tanggal 11 Maret 2015, jangkauan BOLT! diperluas hingga ke Kota Medan.[8][9]

Pada awal tahun 2015, BOLT! mengklaim telah memiliki pencapaian satu juta pelanggan.[10][11][12][13][14]

Pada tanggal 11 Maret 2015, BOLT! resmi diluncurkan di Medan dengan potensi pengguna sekitar 1,5 juta pelanggan.[15][16][17][18][19]

 
Logo esia (2012-2015)
 
Logo BOLT! (2013-2018)
 
Logo esia (2015-2016)
 
Infografik Smartfren

Smartfren merupakan operator telekomunikasi di Indonesia yang menyediakan layanan CDMA EV-DO Rev. A dan layanan CDMA EV-DO Rev. B (setara dengan 3,5G di GSM dengan kecepatan unduh s.d. 14,7 Mbps) bersama Qualcomm sebagai penyedia infrastruktur dan operator CDMA pertama yang menyediakan layanan BlackBerry.

Pada 19 Agustus 2015, Smartfren meluncurkan produknya yang bernama smartfren 4G LTE-Advanced dan menjadi operator seluler pertama di Indonesia yang menggunakan teknologi 4G LTE Advanced (atau yang dikenal sebagai 4.5G dengan kecepatan mengunduh hingga 300 Mbps).

ProdukSunting

Produk yang dikeluarkan oleh smartfren adalah:

  • Smart
  • Smart Jump
  • Fren
  • Hepi
  • Fren Sobat
  • Mobi
  • Fren Duo
  • Esia
  • Esia-AHA EVDO
  • AHA
  • AHA EC167 (produk Huawei)
  • AHA VME 110 (produk Olive)
  • AHA Vibe
  • AHA Link
  • AHA Touch
  • AHA My TV
  • Wifone
  • Wimode
  • Thunder BOLT (kartu BOLT! prabayar)
  • Premium BOLT (kartu BOLT! pascabayar)
  • BOLT! Mobile Wi-fi
  • BOLT! USB Modem
  • BOLT! Home Router
  • BOLT! Powerphone
  • BOLT! Powerphone Special Pack
  • Huawei Tablet X1 Slim 4G LTE
  • BOLT! Powerphone E1
  • Samsung Galaxy J5
  • Kartu Smartfren Extra (Smart)
  • Kartu Smartfren Extra (Fren)
  • Kartu Smartfren LokalPlus
  • Kartu Smartfren Social
  • Kartu Smartfren IHateSlow
  • Kartu Ummat
  • HP Smartfren EV-DO XStre@m
  • HP Smartfren Jambu
  • HP Smartfren Andro
  • HP Smartfren Andromax
  • HP Smartfren Andromax 4G LTE
  • MiFi Andromax 4G
  • Kartu Smartfren 4G LTE Advanced
  • Modem Smartfren Connex
  • Kartu Perdana Bali United
  • Kartu Perdana NOW

Penutupan layanan dan pemindahan ke smartfrenSunting

Pada akhir tahun 2015, Bakrie Telecom mengumumkan bahwa penghentian layanan esia di beberapa kota telah dilakukan secara bertahap, terhitung mulai pada tanggal 1 Januari 2016. Sebelumnya, pada tahun 2015, esia resmi menghentikan layanan akses data, maka pada tahun 2016, esia juga resmi menghentikan layanan dasar, yaitu voice dan SMS. Pelanggan di beberapa kota sudah benar-benar tidak bisa menggunakan nomor esia mereka. Bakrie Telecom sendiri memang mengalami masa sulit dalam beberapa tahun terakhir. Menurunnya pasar CDMA membuat salah satu unit bisnis Bakrie ini mengalami kerugian dan penurunan kinerja drastis. Pada tahun 2014, Bakrie Telecom bekerja sama dengan PT Smartfren Telecom Tbk (smartfren) untuk menuju layanan 4G. Dalam kesepakatannya, Bakrie Telecom menyerahkan frekuensinya selebar 5 MHz kepada smartfren. Dengan kata lain, Bakrie Telecom tak lagi menjadi operator seluler atau penyelenggara telekomunikasi, melainkan penyedia jasa. Maka itu, pelanggan Esia akan tetap terlayani menggunakan jaringan smartfren.

Bolt terancam gulung tikar karena berhutang terhadap Kemkominfo yang akan mencabut izin penggunaan pita frekuensi 2.3GHz (2300 MHz) sejak 2016. Total, tunggakan keduanya mencapai Rp 708,4 miliar, sudah termasuk denda. Dalam hal ini, First Media menunggak Rp 364,8 miliar dan Bolt berutang Rp 343,5 miliar. First Media mendaftarkan izin atas frekuensi LTE 2300 MHz di Medan dan sebagian Jabodetabek, sementara Internux hanya memiliki izin di Jabodetabek.

Kominfo resmi mencabut layanan Bolt! dan membuat Bolt! menghentikan seluruh operasionalnya pada 28 Desember 2018.

Penanganan teknis pemindahan dengan pelanggan dilakukan dengan cara menghimbau pelanggan untuk menatar (upgrade) nomor esia dan BOLT! yang lama ke nomor smartfren. Dengan melakukan penataran pelanggan akan mendapatkan layanan yang setara dengan pelanggan smartfren yaitu kecepatan akses internet hingga 14,4 Mbps (esia up to 3,1 Mbps) bahkan memperoleh layanan seluler 4G/LTE. Pelanggan yang mendapatkan nomor baru smartfren tidak akan kehilangan nomor esia dan BOLT! yang lama karena panggilan tetap diterima di nomor terbaru meskipun menggunakan nomor lama pelanggan. Pembaruan pun dapat dilakukan di gerai esia, BOLT! atau smartfren.

Lihat pulaSunting

ReferensiSunting

  1. ^ a b c "Internet 4G LTE Resmi Hadir di Indonesia". Kompas.com. Diakses tanggal 15 November 2013. 
  2. ^ Laporan Tahunan Annual Report - smartfren
  3. ^ Bimantara Citra
  4. ^ BEI Akan Panggil Manajemen Mobile-8
  5. ^ Global Mediacom Lepas FREN ke Sinarmas
  6. ^ a b "Utang Menumpuk, Bakrie Telecom Terancam Tinggal Papan Nama". Tempo. 16/03/2015. 
  7. ^ "Indonesia finally gets a taste of 4G". Diakses tanggal 20 Nopember 2013. 
  8. ^ "BOLT! Super 4G LTE Hadir di Kota Medan. Awal Peluncuran, BOLT! Melesat Dengan Lebih dari 10.000 Pelanggan". BOLT!. 11 Maret 2015. Diakses tanggal 5 Januari 2017. 
  9. ^ "BOLT! Resmi Hadir di Medan". Suara Pembaruan. 19 Mei 2016. Diakses tanggal 5 Januari 2017. 
  10. ^ "Bolt Rayakan Sejuta Pelanggan". Kompas.com. 24 Februari 2015. Diakses tanggal 9 Mei 2015. 
  11. ^ "Bolt raih sejuta pelanggan 4G di Indonesia". antaranews.com. 24 Februari 2015. Diakses tanggal 9 Mei 2015. 
  12. ^ "Setahun, Pelanggan Bolt Tembus Sejuta". CNN Indonesia. 24 Februari 2015. Diakses tanggal 9 Mei 2015. 
  13. ^ "Bolt Raup Sejuta Pelanggan 4G LTE". republika.co.id. 24 Februari 2015. Diakses tanggal 9 Mei 2015. 
  14. ^ "BOLT raih sejuta pelanggan". kontan.co.id. 24 Februari 2015. Diakses tanggal 9 Mei 2015. 
  15. ^ "Press Release: Medan". boltsuper4g.com. 11 Maret 2015. Diakses tanggal 9 Mei 2015. 
  16. ^ "BOLT Lebarkan Jangkauan ke Medan". jpnn.com. 15 Maret 2015. Diakses tanggal 9 Mei 2015. 
  17. ^ "BOLT! Super 4G LTE Kini Hadir di Kota Medan". tabloidpulsa.co.id. 12 Maret 2015. Diakses tanggal 9 Mei 2015. 
  18. ^ "Layanan 4G Bolt Meluncur di Medan". VIVA.co.id. 12 Maret 2015. Diakses tanggal 9 Mei 2015. 
  19. ^ "Bolt! Super 4G LTE Masuk Medan". sinyal.co.id. 12 Maret 2015. Diakses tanggal 9 Mei 2015. 

Pranala luarSunting