Sangketan

Sangketan atau buntut tikus[1] (Heliotropium indicum) adalah spesies tanaman berbunga dari genus Heliotropium. Tanaman ini termasuk ke dalam gulma yang tumbuh secara liar dan dapat ditemukan di ladang, pinggir sawah, pekarangan rumah dan tanah kosong. Meskipun demikian, tanaman ini juga bisa dijadikan obat tradisional.[2]

Sangketan
Heliotropium indicum Edit the value on Wikidata
Indian Turnsole (Heliotropium indicum) W IMG 9746.jpg
Edit the value on Wikidata
Taksonomi
DivisiTracheophyta
UpadivisiSpermatophytina
Kladangiosperms
Kladmesangiosperms
Kladeudicots
Kladcore eudicots
Kladasterids
Kladlamiids
OrdoBoraginales
FamiliBoraginaceae
UpafamiliHeliotropioideae
GenusHeliotropium
SpesiesHeliotropium indicum Edit the value on Wikidata
Linnaeus, 1753

PemerianSunting

Terna setahun, tumbuh tegak, tinggi dapat mencapai 100 cm, berambut. Batang berambut kasar, daun tunggal berseling, bentuk bundar telur, tepi bergerigi atau beringgit, permukaan daun bagian atas dan bawah berambut halus. Bunganya kecil bergerombol di ujung batang dan berwarna lembayung. Batang bunga panjangnya ±10 cm, keluar dari ketiak daun atau ujung-ujung tangkai. Tumbuh di daerah beriklim kering dari dataran rendah hingga 800 mdpl[3].

PersebaranSunting

Sangketan tersebar luas di daerah beriklim tropis, oleh karena itu sangat sulit untuk menentukan daerah asalnya secara tepat. Beberapa penelitian mengusulkan bahwa sangketan berasal dari benua Asia, beberapa sumber mengatakan tumbuhan ini berasal dari Dunia Lama[4][5], namun rujukan lain mengusulkan bahwa sangketan berasal dari Amerika tropis[6].

Sangketan merupakan gulma di Afrika, kawasan Karibia, Amerika Utara tropis, dan Asia bagian selatan. Belakangan ini diintroduksi ke Australia dimana tumbuhan ini bisa ditemui di Wilayah Utara dan Queensland[7].

GaleriSunting

ReferensiSunting

  1. ^ Anggraeni, Evi. "LAPORAN PENCANDRAAN BUNTUT TIKUS Heliotropium indicum L" (dalam bahasa Inggris). 
  2. ^ VIVA, PT VIVA MEDIA BARU- (2016-12-15). "Sangketan, Rumput Liar yang Kaya Manfaat - VIVA". www.viva.co.id. Diakses tanggal 2019-08-18. 
  3. ^ Badrunasar, A.; Santoso, H.B. (2017). Rachman, E.; Siarudin, M., ed. Tumbuhan Liar Berkhasiat Obat (PDF). Bogor: Forda Press. hlm. 125–127. ISBN 978-602-6961-15-0. 
  4. ^ Hol, L.G.; Plucknett, D.L.; Pancho, J.V.; Herberger, J.P. (1977). The World's Worst Weeds: Distribution and Biology. Honolulu: University Press of Hawaii. 
  5. ^ Kostermans, A.J.G.H.; Wirjahardja, S.; Dekker, R.J. (1987). Soerjani, M.; Kostermans, A.J.G.H.; Tjitrosoepomo, G., ed. The weeds: description, ecology and control. Weeds of rice in Indonesia. Jakarta: Balai Pustaka. hlm. 24–565. 
  6. ^ Waterhouse, D.F. (1993). The major arthropod pests and weeds of agriculture in Southeast Asia. Canberra: ACIAR. 
  7. ^ Craven, L.A. (1996). "A taxonomic revision of Heliotropium (Boraginaceae) in Australia". Australian Systematic Botany. 9 (4): 521–657. 

Lihat pulaSunting