Buka menu utama


Kolonel (Purn.) S. Mengga (lahir di Lawarang, Lekopadis, Tinambung, Polewali Mandar, Sulawesi Barat, 22 Agustus 1922 – meninggal di Makassar, Sulawesi Selatan, 13 April 2007 pada umur 84 tahun) adalah seorang tokoh pejuang kemerdekaan menentang pemerintahan Hindia Belanda di Sulawesi Barat.

Kolonel (Purn.)
S. Mengga
Informasi pribadi
Lahir(1922-08-22)22 Agustus 1922
Bendera Belanda Lawarang, Lekopadis, Tinambung, Polewali Mandar, Sulawesi Barat
Meninggal dunia13 April 2007(2007-04-13) (umur 84)
Bendera Indonesia Makassar, Sulawesi Selatan
Dinas militer
Pihak Indonesia
Dinas/cabangLambang TNI AD.png TNI Angkatan Darat
PangkatPdu koloneltni komando.png Kolonel
Pertempuran/perangRevolusi Nasional Indonesia

Riwayat HidupSunting

Latar BelakangSunting

S. Mengga lahir di kampung Lawarang, tanggal 28 Agustus 1926 (versi S. Mengga, tahun 1922). Initial “S” di depan namanya adalah singkatan dari kata Sayyid; sebuah sebutan khas bagi orang Arab keturunan Nabi MUHAMMAD SAW.

Ayah S. Mengga, adalah Sayyid Muhsin Alattas. Sedang ibunya bernama Hj. Cilla, salah seorang keturunan bangsawan Mandar dari garis keturunan Mara’dia Alu yang juga Mara’dia Balanipa yang ke-43, yaitu I Ga’ang atau Tomessu’ dengan gelar anumerta Tomatindo di Lekopa’dis. I Ga’ang adalah putra Mara’dia ke-36 bergelar anumerta Tomate Macci’da (mangkat tiba-tiba).

Dari pernikahan Sayyid Muhsin Alattas dengan Hj. Cilla, lahir 4 (empat) orang anak, yaitu: H.S. Husain Alattas (Puang Kosseng), H.S. Mahmud Alattas (Puang Mengga), Hj. Syarifah Berlian Alattas (Puang Barlian), dan H.S. Kaharuddin Alattas (Puang Bela). Sedang pernikahan Sayyid Muhsin dengan St. Saoda, lahir 2 (dua) orang putra yaitu: Sayyid Abdullah Alattas dan Sayyid Ali Alattas.

Sayyid Muhsin, selain menikahi 2 (dua) orang putri Mandar (Hj. Cilla dan Saoda), juga menikahi seorang gadis Jawa yang memberinya keturunan sepasang putri kembar bernama Syarifah Masna Alattas dan Syarifah Noer Alattas. Kedua saudari perempuan S. Mengga yang kembar ini menetap di pulau Jawa. S. Mengga menikah beberapa kali, dari pernikahan tersebut beliau dianugerahi seorang putri yang diberi nama Sundari (Hj. Syarifah Sundari Alattas). Pernikahan S. Mengga yang ketiga, yaitu dengan Hj. Nyilan. Dari pernikahannya, beliau memiliki 3 (tiga) orang anak, yaitu Syarifah Asiah S. Mengga (istri Prof. H. Umar Shihab), Mayjen TNI (Purn) Salim S. Mengga, dan Ir. Aladin S. Mengga (Wakil Gubernur Sulawesi Barat).

Nama asli S. Mengga adalah H. S. Mahmud bin Muhsin Alattas. S. Mengga sendiri mempunyai nama resmi yang tertulis dalam kartu keanggotaannya di TNI Angkatan Darat, dengan NRP. 18234 adalah Said Mengga. Nama “Mengga” adalah julukan (gelar). Mengga adalah kosakata (dialek) Pannei yang berarti “batas”. Gelar ini diberikan oleh sesepuh masyarakat Karombang sebagai penghargaan leluhur terhadap salah seorang sanak keturunannya. Secara genealogis, salah seorang leluhur S. Mengga memang berasal dari keturunan hadat Karombang (wilayah Kecamatan Bulo). Selain itu, Mengga dalam kosakata bahasa Balanipa Mandar berarti warna “Merah”(mamengga). Julukan ini boleh jadi dianalogikan dengan karakter pribadi Sayyid Mahmud Muhsin Alattas tersebut, yang terkesan “mamengga” (merah), yang artinya “berani”.

Anak-anak hingga RemajaSunting

Masa-masa kecil hingga remaja S. Mengga banyak dilewati di Kampung Lawarang dan Pambusuang. Kalau Pambusuang dikenal dengan kultur masyarakatnya yang religius, maka Lawarang dikenal dengan kultur masyarakat yang temperamental. Boleh jadi karakter pribadi S. Mengga adalah akulturasi “darah panas” dari Lawarang dan tuah “ulama” dari Pambusuang. Dari kondisi lingkungan yang demikian, S. Mengga tumbuh menjadi seorang remaja kampung yang tampan, kharismatik, berwibawa, bersahabat, dan berani berkorban dan tanpa mempersoalkan status sosial seseorang yang dihadapinya. Oleh karenanya S. Mengga cukup disegani, bahkan menjadi idola di lingkungan pergaulannya.

Pendidikan Dasar dan Tindakan KriminalSunting

Lingkungan pergaulan kampung yang labil, ikut berpengaruh dalam proses pendidikan formal S. Mengga. Di Mandar ia hanya sempat menempuh pendidikan di VVS lima tahun dan HIS selama dua tahun di kota Majene. Tapi, karena tindakan kriminal (manggayang pesarung) yang dilakukannya, ia terpaksa berurusan dengan hukum dan meninggalkan bangku sekolah. S. mengga ditangkap polisi NICA dan dijebloskan ke Rumah Tahanan Majene. Di depan pemeriksaan polisi, S. Mengga, yang saat itu baru berusia 16 tahun, bertanggung jawab sepenuhnya atas risiko perbuatan yang telah dilakukannya, bahkan mengakui perbuatannya itu sebagai sebuah pembuktian eksistensi dirinya telah menjadi seorang “laki-laki”. Beberapa lama ditahan di penjara Majene, S. Mengga kemudian diasingkan ke Jawa Barat sebagai salah seorang narapidana pemerintah kolonial Belanda di Penjara Sukamiskin (Jawa Barat), penjara yang sama yang pernah ditempati oleh Soekarno (Presiden Pertama RI) pada tahun 1930. Penjara yang dibangun pada tahun 1817 oleh Pemerintah Hindia Belanda.

Keluar dari PenjaraSunting

Selepas menjalani masa hukuman di penjara Sukamiskin, S. Mengga berangkat ke Yogyakarta dengan maksud melanjutkan pendidikannya di Sekolah Muhammadiyah. Setelah 3 (tiga) tahun menjalani masa pendidikan di sekolah itu, ia menyatakan berhenti dan tidak berhasrat untuk melanjutkan pendidikannya lagi. S. Mengga justru tinggal dan bekerja sebagai pelayan di rumah salah seorang Asisten Wedono di Yogyakarta. Sebagai pelayan di lingkungan rumah tangga seorang Asisten Wedono, mengharuskan S. Mengga berperilaku sesuai tradisi dan tata krama Keraton Jawa. Kebiasaan “sungkem” dan telaten dalam setiap melaksanakan tugas kewajibannya sebagai abdi, telah menanamkan rasa disiplin yang tinggi dalam jiwanya. Selepas tugas sebagai abdi, S. Mengga mencoba memasuki dunia kemiliteran. Kondisi Negara dan Bangsa Indonesia yang sedang berjuang mencari kemerdekaannya, menggugah hasrat heroisme yang membuncah di dadanya. Untuk itu S. Mengga dan teman-temannya, kemudian memilih bergabung pada beberapa organisasi kelaskaran di pulau Jawa. Antara lain menjadi anggota laskar pejuang di daerah Lawang, Jawa Timur selama kurang lebih dua tahun.

Perjuangan di MilierSunting

Revolusi KemerdekaanSunting

Tahun 1945 S. Mengga menjadi anggota Laskar Pejuang Kemerdekaan Indonesia. Salah satu organisasi kelaskaran yang mewadahi para pemuda pejuang di daerah Mandar yang bereaksi keras terhadap kehadiran Tentara NICA. Tahun 1946, S. Mengga kembali tertangkap oleh tentara sekutu dan lagi-lagi dijebloskan ke penjara Majene, tentu saja pengawasan terhadap S. Mengga dan kawan-kawannya cukup diperketat. Namun S. Mengga bisa lari dari penjara berkat bantuan rekan seperjuangannya, seperti Kaco Tandung, Maccing dan Belle. Tahun 1984, S. Mengga menjadi anggota kelaskaran KRIS Muda Mandar. KRIS Muda adalah sebuah organisasi perjuangan yang dibidani kelahirannya oleh Andi Depu (Mara’dia Balanipa ke-52), pada tanggal 17 Oktober 1946.

Setelah Revolusi KemerdekaanSunting

3 September 1952, S. Mengga beserta 155 anggota pasukannya dilantik dan diresmikan sebagai APRIS (Angkatan Perang Republik Indonesia Sulawesi) di Tinambung oleh Kepala Staf TT-VII Letkol J.F. Warouw, dengan nama kesatuan “Pasukan Mandar”. Sebagai tindak lanjut Pengumuman Panglima TT-VII Nomor: 30339/7/IX/32 tentang peresmian Pasukan Mandar, pimpinan S. Mengga itu, dikeluarkan Surat penetapan Pd. Panglima TT-VII Indonesia Timur Nomor: 80/pers/70/353 tentang Penetapan Kepangkatan dan Jabatan Personil Mandar (Kompie G) pimpinan Letda S. mengga. Kompi G Pasukan mandar, pimpinan Letda S. Mengga, bagi sebagian besar kalangan masyarakat Mandar lebih populer (akrab) dengan sebutan “Pasukan Mengga”. Identifikasi (julukan) ini, boleh jadi karena popularitas sosok pribadi S. Mengga sebagai komandannya. Julukan serupa terjadi pada “Pasukan Usman Balo”, “Pasukan Hamid Ali”, “Pasukan Andi Singke”, “Pasukan Daeng Pagessa” dan yang lainnya. Julukan seperti itu memang lazim digunakan di masa revolusi. Tujuannya, untuk lebih meningkatkan kewibawaan seorang pemimpin pasukan ketika itu. Naik Pangkat

Lima bulan setelah dilantik dan resmi ditugaskan di wilayah Parepare, Kompi G Bn. 708 pimpinan Letda S. Mengga dimutasi ke Batalion 709 di Watampone, hanya bertugas kurang dari 1 tahun, karena pada tanggal 31 Juni 1954, ia dipindah-tugaskan ke Makassar sebagai Kepala Bagian Peralatan dan Mesiu Batalion 709. Menjelang akhir tahun 1957, Letda S. Mengga kembali dimutasi ke Batalion 708 ROI-I di Pare-pare, sebagai Kepala Bagian IV. Dalam waktu yang sama Letda. S. Mengga sekaligus ditunjuk sebagai pejabat Komandan Kompi Markas Bn. 708. Pengangkatan sebagai Komandan Kompi Markas Parepare ini tertuang dalam Surat Keputusan Panglima KODPSST Nomor: 148/12/1957. Dalam jabatan ini, Letda. S. Mengga dinaikkan pangkatnya menjadi Letnan Satu (Lettu). Kenaikan pangkat ini, merupakan realisasi dari Surat Keputusan Menteri Pertahanan RI Nomor: MP/54/1957, yang berlaku surut sejak tanggal 1 Januari 1956. Kenaikan pangkat S. Mengga ke Letnan Satu (Lettu) merupakan kenaikan pangkat yang pertama kali baginya, setelah kurang lebih enam tahun menyandang pangkat Letnan Dua (Letda).

Tahun 1959. Lettu S. Mengga dipindahkan ke Palopo sebagai Wakil Komandan Batalion 402-ROI I. Penugasan beliau ke Palopo berdasarkan Surat Keputusan Panglima KD-MSST Letkol Andi Mattalatta Nomor: 0158/II/59. Setelah bertugas selama kurang lebih satu tahun di Palopo, Lettu S. Mengga mendapat surat perintah ke Kolaka (Sulawesi Tenggara) sebagai pejabat Komandan “Batalion Remadja”. Terhitung 1 Januari 1960, Lettu S. Mengga dinaikkan pangkatnya menjadi Kapten, sebagai realisasi dari Surat Keputusan KSAD Nomor: 251/12/1960. Surat Keputusan KSAD tentang kenaikan pangkat S. Mengga tersebut, kemudian ditindaklanjuti dengan Radiogram Menteri Panglima Angkatan Darat (Menpangad), tanggal 3 Agustus 1963. S. Mengga kemudian ditugaskan oleh Panglima KDMSTT sebagai Kepala Seksi Keamanan pada Kantor Penguasa Perang Daerah (Peperda) Sulawesi Selatan Tenggara di Makassar.

Semasa bertugas di Peperda (1962-1964) itu, beliau banyak membantu pengusaha (orang mandar), khususnya mendapatkan fasilitas “Delivery Order” (DO) barang-barang komoditas, seperti benang, gula pasir, dan terigu yang distribusinya dikoordinasikan oleh Peperda. Dari Kepala Seksi Keamanan Peperda Sulawesi Selatan Tenggara, S. Mengga ditugaskan ke Kabupaten Majene sebagai Kepala Staf Kodim 1402. Beliau sekaligus ditunjuk sebagai Ketua Cabang LVRI Kabupaten Daerah Tingkat II Majene.

Terhitung mulai tanggal 1 Januari 1965, Kapten S. Mengga dipindahkan kembali ke Makassar, sebagai Perwira Menengah (Pamen) pada Staf Kodam XIV/Hasanuddin. Dari situ, pangkatnya dinaikkan menjadi Mayor, berdasarkan Radiogram Menteri Panglima Angkatan Darat No: TR-0370/1965. Dalam posisi “non job” (Pamen). Panglima Kolonel M. Jusuf, mengangkat Mayor S. Mengga sebagai Asisten Pribadi (Aspri) Panglima Kodam XIV/Hasanuddin. Jabatan ASPRI ini dijabat dari tahun 1966 hingga tahun 1969, hingga masa kepemimpinan Brigjen Solihin GP sebagai Pangdam XIV/Hasanuddin. Hikmah terdalam yang didapatkan S. Mengga sebagai Aspri, adalah bertautnya jalinan pribadi antara dirinya dengan M. Jusuf dan Solihin GP. Dua figur Panglima Kodam XIV/Hasanuddin yang dikaguminya.

Menjadi KomandanSunting

Berdasarkan Radiogram Menteri Panglima Angkatan Darat (Menpangad) Nomor: R-03072/1969, Mayor S. Mengga dinaikkan pangkatnya menjadi Letnan Kolonel (Letkol). Setelah itu ia diberi amanah sebagai Komandan Kodim 1409 Gowa/Takalar oleh Panglima Kodam XIV/Hasanuddin Brigjen Sayidiman. Mengabdi di Kampung Halaman Lalu Pensiun Dari Kodim 1409 Gowa Takalar, Letkol S. Mengga kembali ke daerah asalnya sebagai Komandan Kodim 1402 Polmas. Jabatan yang diembannya dari tahun 1972-1974 ini, juga tidak terlepas dari sentuhan (pembangunan) seorang S. Mengga. Program partisipasi pembangunan teritorial Kodim 1402 yang dicanangkan. S. Mengga mendapat respon dan apresiasi masyarakat, serta dukungan Bupati Kepala Daerah Tingkat II Polmas, Abdullah Majid. Fokus pembangunan diarahkan S. Mengga pada rehabilitasi selokan dan drainase di beberapa tempat, antara lain selokan Pasar Campalagian dan Pasar Tinambung.

Komandan Kodim 1402 Polmas adalah jabatan terakhir yang disandang Letkol S. Mengga sebagai militer aktif. Berdasarkan Surat Keputusan Menteri Pertahanan dan Keamanan/Panglima Angkatan Bersenjata Nomor: Skep.002/XIV/II/1978, Letkol S. Mengga diberhentikan dengan hormat dari Dinas Militer, terhitung tanggal 1 Oktober 1975, dengan hak pensiun. Pensiun dari dinas militer tidaklah berarti menyurutkan langkah pengabdian S. Mengga kepada masyarakat Mandar yang dicintainya. Setelah pensiun S. Mengga melangkah pasti ke Pare’deang, untuk mewujudkan cita-citanya sebagai petani, diatas ratusan hektar areal perkebunannya. Hasil sebagai petani, tentu saja telah memberikan kehidupan layak bagi S. Mengga dan keluarganya. Dan tidak sedikit dana pribadi S. Mengga (dari hasil bertani) telah disumbangkan untuk berbagai kepentingan pembangunan.

Dari Petani ke BupatiSunting

Setelah kurang lebih lima tahun bermukim sebagai petani di Pare’deang, S. Mengga mendapat kepercayaan dari rakyat menjadi Bupati Kepala Daerah Tingkat II Polmas periode 1980-1985. Meskipun pada awalnya tidak bersedia, tetapi akhirnya ia menerima amanah rakyat itu dengan sebuah tekad: “Membangun Polmas dari tidurnya yang panjang”.

Penghargaan Yang Diterimanya Dalam kurung waktu kurang lebih 50 tahun pengabdiannya kepada Bangsa dan Negara, S. Mengga telah menerima sejumlah tanda jasa dan bintang penghargaan. Sebagai Veteran Pejuang Kemerdekaan, ia menerima Bintang Gerilya, Satya Lencana dan Bintang Legiun Veteran Republik Indonesia, serta Bintang Penghargaan dari DHD Angkatan 45 Sulawesi Selatan. Sebagai Perwira TNI Angkatan Darat, S. Mengga menerima Medali Sewindu APRI, Satya Lencana Perang Kemerdekaan I dan II, Satya Lencana Kesetiaan 8 dan 16 tahun, Satya Lencana GOM III dan IV, Satya Lencana Penegak, Satya Lencana Sapta Marga, Satya Lencana Dharma, serta Sam Karya Nugraha dari Panglima Kodam XIV/Hasanuddin.

Akhir HayatSunting

S. Mengga yang sampai akhir hayatnya masih menjabat sebagai Ketua Markas Daerah Legiun Veteran RI (LVRI) Kabupaten Polmas, mengisi hari-hari tuanya dengan mengurus perkebunannya yang luas di Pare’deang. Beliau menikmati hobi dan kegemarannya, sepertit memelihara satwa/binatang ternak. Dalam usianya yang ke 83 tahun, S. Mengga meninggal dunia dengan tenang di Rumah Sakit Akademis Makassar pada hari Jumat tanggal 13 April 2007, sekitar jam 01.30 malam, karena sakit. Jasad beliau dimakamkan di depan Masjid At-Taqwa Pambusuang pada Sabtu, tanggal 14 April 2007, dalam suatu upacara kebesaran militer, dipimpin Komandan Korem 142 Taro Ada Taro Gau; mewakili Pangdam VII Wirabuana. Di makam yang sama juga terdapat makam saudara(i)nya; Puang Kosseng, Puang Barlian, Puang Bela, juga terdapat makam Andi Baso Mara’dia Balanipa ke-51 dan beberapa keluarga bangsawan Balanipa Mandar.